Kisah Sukses Yovania Asyifa, Mantan Pasien RSJ yang Jadi Pejuang Kesehatan Mental

Yovania Asyifa, mantan pasien RSJ dan lulusan Vokasi UI, melakukan banyak upaya viuntuk mematahkan stigma negatif tentang kesehatan mental melalui edukasi dan kolaborasi dengan berbagai pihak.
Berawal dari pengalaman traumatis saat dipasung dan dirawat di RSJ, Yova kini berani bersuara agar penyintas gangguan mental tidak lagi bungkam dan mendapat dukungan yang layak.
Sebagai Gen Z, Yova menyoroti tantangan quarter life crisis serta pentingnya mencari bantuan profesional tanpa takut dicap lemah, sambil terus menginspirasi lewat kiprahnya di forum internasional.
Siapa sangka, seorang mantan pasien rumah sakit jiwa (RSJ) kini justru viral dan disegani karena keberaniannya berbicara soal kesehatan mental.
Kenalan dengan Yovania Asyifa Jami, yuk, Ma. Seorang lulusan Hubungan Masyarakat Vokasi Universitas Indonesia, yang aktif di Instagram dan TikTok @yovania_aj dengan konten jujur tentang pengalamannya di RSKD Duren Sawit.
Alih-alih malu, perempuan yang akrab disapa Yova ini justru berhasil mematahkan stigma negatif yang masih kuat di kalangan generasi masa kini.
Ia bahkan mendirikan organisasi nirlaba Pasti.id (Patahkan Stigma) dan menjadi pembicara internasional untuk mematahkan stigma negatif soal mental.
Bisa jadi inspirasi untuk banyak anak muda lainnya, berikut Popmama.com rangkumkan ulasan selengkapnya yang dilansir dari berbagai sumber.
1. Berawal dari tugas kuliah, kini jadi gerakan nyata

Pasti.id ternyata lahir dari sebuah tugas kuliah saat Yova menjalani perkuliahan diploma di Universitas Indonesia.
Saat itu, dirinya mendapat proyek membuat acara tentang kesehatan mental di tengah pandemi Covid-19 tahun 2021.
“Selain karena dukungan tersebut, aku juga merasa bahwa sebagai penyintas gangguan mental, ternyata banyak mimpi yang bisa aku raih,” cerita Yova melansir dari situs resmi Vokasi UI.
Dosen yang menaungi tugas itu pun mendorongnya melanjutkan inisiatif ini sebagai wadah komunitas, sehingga dirinya kini bisa dikenal lebih luas oleh banyak orang untuk menyebarluaskan pentingnya kesehatan mental.
Berhasil diterima di UI dan menjadi kreator konten juga membuktikan bahwa meski masih banyak stigma, Yova tetap berdaya. Ambisi itulah yang ia bawa hingga kini Pasti.id aktif mengedukasi masyarakat.
2. Ingin mematahkan stigma bahwa kesehatan mental itu cuma kurang ibadah

Tanpa disadari, masih banyak orang yang beranggapan bahwa mereka yang mengalami gangguan mental hanya kurang beribadah dengan Tuhan-nya saja, Ma.
Nah, stigma inilah yang ingin sekali dipatahkan oleh Yova. Perempuan kelahiran 2002 ini menjelaskan bahwa Pasti.id adalah singkatan dari patahkan stigma.
Stigma utama yang ingin dihempas adalah anggapan bahwa gangguan mental tidak nyata atau hanya karena kurang bersyukur.
“Bahwa kesehatan mental nggak ada atau cuma kurang ibadah dan kurang bersyukur, bahkan dianggap caper. Di Indonesia, gangguan mental banyak dikaitkan dengan agama dan spiritual,” ujarnya.
Oleh karena itu, komunitas ini hadir untuk memberikan kesadaran bahwa gangguan mental memang benar ada, bahkan bekerja sama dengan RSKD Duren Sawit untuk menggelar acara edukasi dan lokakarya keterampilan tangan bagi ODGJ.
3. Cerita kelam dan traumatis saat dipasung dan diborgol

Perjalanan Yova untuk sampai di titik sekarang ini tentunya tidak mudah, Ma. Saat masih SMA dan mengalami halusinasi, keluarganya memilih rukiyah sebagai pertolongan pertama.
“Itu adalah pengalaman yang traumatis karena tempatnya sangat tidak manusiawi. Aku sempat dipasung, diborgol, dan dikurung,” kenangnya.
Ia pun akhirnya dibawa ke RSJ untuk menjalani perawatan. Setelah keluar pun, keluarga meminta Yova untuk bungkam soal riwayat penyakitnya tersebut.
Padahal menurutnya, apa yang dilakukan keluarganya justru bisa membuat orang yang memiliki gangguan mental jadi lebih drop karena tidak punya tempat untuk berbagi.
Ia bahkan mengatakan, “Kalau dari dulu sudah ada wadahnya, sepertinya aku nggak akan sampai masuk ke RSJ.”
Meski mengenang masa kelam semasa di RSJ menjadi hal yang menyakitkan baginya, kini Yova bersyukur bisa bangkit dan membantu banyak generasi muda lainnya.
Ia turut menyarankan anak muda untuk mencari dukungan di luar keluarga jika memang masih belum dimengerti. Jadi, jangan takut meminta pertolongan jika membutuhkan, ya.
4. Gen Z dan tantangan quarter life crisis

Sebagai Gen Z, Yova mengamati bahwa mental struggle terbesar generasinya saat ini adalah quarter life crisis. “Kami sedang was-was menghadapi kenyataan adulting. Lalu, kebanyakan struggle cari kerja,” jelasnya.
Positifnya, anak muda saat ini justru dinilai lebih berani bicara terbuka soal masalah mental. Namun, ironisnya mereka justru dicap sebagai “Generasi Stroberi” karena dianggap lemah menghadapi tekanan.
Yova juga mengingatkan soal romantisasi gangguan mental. “Kalau berbuat salah, ya salah. Gangguan jiwa bisa jadi salah satu alasan, tapi nggak bisa jadi pembenaran,” tegasnya.
Sebagai orang yang pernah mengalami titik terendah dalam hidup, Yova juga ingin meluruskan kepada banyak anak muda akan bahaya self diagnosis dibanding self awareness untuk mencari bantuan profesional.
Tak ada salahnya jika memang membutuhkan pertolongan profesional, justru ini adalah hal yang patut diapresiasi sebagai bentuk kepedulian akan kesehatan diri sendiri.
5. Sempat ingin berhenti, tapi bersyukur atas banyaknya apresiasi

Berkat Pasti.id, Yova pernah menjadi pembicara di Young Professional Fellowship di Bali, Kazan Global Youth Summit di Rusia, dan Doha International Family Institute di Qatar.
Tentunya bukan hal mudah baginya untuk bicara di hadapan banyak orang. Ia mengenang, “Mungkin aku satu-satunya pembicara yang bukan dari latar profesional maupun akademisi, namun mereka sangat apresiatif karena aku berani speak up sebagai seorang penyintas."
Banyaknya dukungan dari berbagai pihak membuat Yova ingin terus mengembangkan komunitas tersebut sebagai wadah untuk banyak anak muda lain yang mungkin sama seperti dirinya.
Namun, perjuangannya tak selalu mulus. Yova mengaku sempat ingin menghentikan operasional komunitas tersebut karena rasa tidak percaya diri dan konflik internal.
“Tapi aku sadar kalau alasan aku mau bubarkan itu tidak rasional. Semua struggle itu tidak sebanding dengan dukungan dan respon positif yang terus membanjiri,” tutupnya tegas.
Kisah Yovania Asyifa Jami, seorang penyintas yang kini menjadi pejuang kesehatan mental tentu menjadi bukti nyata bahwa masa lalu kelam tidak menentukan batas masa depan seseorang.
Bagi para remaja yang sedang bergulat dengan kesehatan mental, keberanian Yova untuk bersuara dan memulai gerakan nyata adalah inspirasi bahwa mereka tetap bisa berkontribusi, berprestasi, bahkan go internasional.
Untuk para orangtua, memahami bahwa dukungan adalah kunci utama membantu anak-anak menghadapi gangguan jiwa adalah yang terpenting untuk membantu anak melewati ini semua.
Karena seperti yang Yova tunjukkan, perubahan terbesar justru dimulai dari keberanian untuk tidak lagi bungkam dan melawan stigam tersebut.
Semangat selalu untuk para pejuang kesehatan mental!


















