Dampak Jangka Panjang Anak Susah Makan, Ini Kata Psikolog

Indonesia memperingati Hari Anak Nasional setiap tanggal 23 Juli. Tahun 2023 ini mengusung tema "Anak Terlindungi, Indonesia Maju." Salah satu cara yang perlu orangtua lakukan dalam melindungi si Kecil adalah memastikan tumbuh kembang anak berjalan baik.
Prof. dr. Badriul Hegar, Sp.A(K), Ph.D selaku Pakar Gastrohepatologi mengungkapkan ada tiga faktor yang memengaruhi tahap pertumbuhan anak, yakni genetik, nutrisi dan lingkungan.
Sayangnya, terkadang anak menunjukkan gejala atau sikap ketidaksukaan pada makanan dan proses makan. Kondisi ini akan berimbas pada masalah kesehatan hingga psikologi si Kecil lho Ma.
Banyak istilah yang digunakan untuk menyatakan anak susah makan. Mulai dari feeding difficulty, picky eater, selective eater, feeding disorder, dan neophobia. Penyebab anak susah makan karena faktor organik dan non organik.
Faktor organik, yaitu ditemukannya masalah atau penyakit pada organ sistem pencernaan si Kecil yang menyebabkan sulit makan.
dr. Badrul mengatakan, "Kejadiannya ini (anak susah makan) bervariasi tergantung istilah dan umur penderita. Sebanyak 20-70 persen merupakan anak-anak usia di bawah lima tahun. Hanya 20-30 persen yang disebabkan karena faktor organik."
Lalu, apa efeknya jika si Kecil alami susah makan? Berikut ulasan Popmama.com mengenai dampak jangka panjang masalah makan pada anak.
1. Tumbuh kembang terhambat

Anak susah makan berisiko mengalami malnutrisi yang berakibat tumbuh kembangnya terhambat. dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A (K), MPH selaku Dokter Tumbuh Kembang Anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) mengatakan malnutrisi bukan hanya si Kecil yang kurang gizi tetapi juga anak dengan berat berlebih.
Malnutrisi menyebabkan defisiensi gizi, termasuk mineral, vitamin, dan protein. Akibatnya memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan si Kecil, seperti pertumbuhan fisik, motorik, hingga fungsi fisiologis.
Di samping itu, malnutrisi juga dapat menyebabkan melemahnya sistem imun. Status nutrisi yang baik berperan mencegah infeksi, sebaliknya infeksi dapat memperburuk malnutrisi,
Giizi anak kurang atau berlebih maka daya tahan tubuh menurun. Alhasil, anak lebih mudah terinfeksi bakteri atau virus serta proses penyembuhan penyakit lambat karena respons imun kurang baik.
2. Si Kecil alami keterlambatan berbicara

Vera Itabiliana S. Psi sebagai Psikolog Anak di Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia menyampaikan anak susah makan cenderung mengalami keterlambatan berbicara. Alasannya karena si Kecil tidak mau belajar untuk mengunyah makanan karena anak selalu diberikan makanan halus dan lembut.
Ia menceritakan salah satu kliennya berusia empat tahun belum bisa berbicara. Vera mengungkapkan hal itu terjadi lantaran rongga-rongga mulut si Anak tidak terbiasa terbuka dan elastis. Penyebabnya karena ia selalu mengemut bukan mengunyah makanan.
3. Berpengaruh terhadap kemampuan kognitif anak

Lebih lanjut, Vera mengatakan bahwa asupan nutrisi yang kurang akibat susah makan berpengaruh terhadap kemampuan kognitif (berpikir) si Anak. Otak tidak berkembang maksimal karena gizi yang diterima tidak "cukup".
Daya pikir pada anak juga lebih lambat karena otak tidak mendapat "bahan bakar" dari makanan untuk memproses informasi yang diterimanya secara cepat dan tepat. Masalah ini sangat mengganggu proses belajar anak di sekolah karena kemampuan mengingat yang rendah serta kesusahan dalam berkonsentrasi. Imbasnya, ia sulit memperoleh nilai bahkan prestasi.
"Makanan dengan kualitas kadar gizi dan kuantitas yang optimal akan mendukung pertumbuhan otak yang optimal," ujar dr. Bernie.
4. Mengalami kecemasan dan sulit beradaptasi

Psikolog Anak menambahkan dampak panjang masalah makan anak berakibat pada timbulnya kecemasan dan kesulitan beradaptasi. Singkatnya ia mengatakan, "Untuk makan saja dia (anak) sulit untuk beradaptasi apalagi untuk berinteraksi dengan lingkungan yang lebih besar."
Anak dengan gangguan makan biasanya hanya menyukai jenis makanan tertentu saja. Hanya makanan itu yang mau mereka makan. Ia takut untuk mencoba dan mengonsumsi makanan lain. Inilah yang membuat muncul cemas karena khawatir tempat makan tidak ada menu yang sesuai.
5. Feeding disorder dan Neophobia

Dampak jangka panjang dari gangguan makan pada anak lainnya adalah feeding disorder. Feeding disorder merupakan masalah pola makan ketika anak masih kecil yang berpengaruh hingga ia remaja dan dewasa.
Dalam dunia psikolog dikenal istilah ARFID, yaitu Avoidant Restrictive Food Intake Disorder. Ini bukan hanya sekadar picky eater bisa tetapi penderita mempunyai ketakutan mencoba jenis makanan baru atau neophobia.
Neophobia adalah ketakutan terhadap jenis makanan baru baik dari bau hingga tekstur. Bahkan ia memiliki pemikiran, "Saya akan mati jika saya makan hidangan tersebut."
"Kalau ditarik mundur memang biasanya mempunyai gangguan masalah makan sejak kecil. Gangguan masalah makan yang ekstrim bisa sampai mengganggu aktivitas." ucap Vera.
Ketakutan ini berpotensi menyebabkan anak depresi lho Ma. Ia juga cenderung akan menarik diri dari lingkungan sosialnya karena takut ditawari berbagai makanan baru. Tak jarang, ia pun takut dihakimi karena pilihan makannya yang berbeda dari orang-orang di sekitarnya.
Vera bercerita salah satu kliennya yang duduk di Sekolah Dasar (SD) tidak bisa makan bekal di dalam kelas bersama teman lainnya. Hal ini karena si Anak memiliki neophobia karena tidak sanggup mencium berbagai aroma makanan yang berbeda dari bekal teman-temannya.
"Dia keluar, makan di koridor sendirian. Dia tidak tahan dengan bau-bau makanan teman-teman yang lain dan tidak tahan melihat cara temannya makan," kata Vera.
Susu Jadi Solusi Atasi Masalah Makan pada si Kecil

Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Begitu juga dengan solusi atas masalah anak sulit makan. Selain sabar, Mama dan Papa perlu menelaah penyebab si Anak sudah makan. Apakah ada gangguan dalam sistem pencernaannya, cara pemberian makanan yang salah, atau lingkungan yang kurang mendukung.
Junita selaku Business Unit Head Morinaga GUM, KALBE Nutritionals mengakui bahwa masalah makan pada anak bisa jadi gejala dari masalah kesehatan dan psikologis si Kecil. Salah satu caranya adalah pemberian susu penambah nafsu seperti Morinaga Morigro GROMAX yang berguna mempertahankan berat badan yang sehat sehingga tidak terjadi malnutrisi berkat kandungan minyak ikan dan vitamin B kompleks.
Susu untuk anak ini mempunyai manfaat meningkatkan fungsi pencernaan, penyerapan nutrisi, menunjang tumbuh kembang, memperkuat daya tahan tubuh, serta meningkatkan kecerdasan. Benefit tersebut dihasilkan dari kandungan susu yang terdiri dari DHA, Omega 3, Omega 6, kalium, vitamin D, Prebiotik, vitamin ACE, Zinc, serta 14 vitamin dan 9 mineral lainnya.
Itulah penjelasan terkait dampak jangka panjang masalah makan pada anak. Permasalahan ini tidak boleh dianggap sepele oleh Mama dan Papa. Lantaran imbasnya sangat besar terhadap tumbuh kembang si Kecil, baik fisik maupun psikis.



















