Malam Imlek Disebut Apa bagi Orang Tionghoa, Pahami Makananya

- Pemujaan Leluhur: Ritual penghormatan kepada leluhur sebagai fondasi spiritual dan cerminan nilai bakti (xiào) dalam budaya Tionghoa.
- Jamuan Makan Malam Tuán Nián: Perjamuan wajib yang melambangkan kembalinya setiap anggota keluarga untuk memperkuat kasih sayang dan dukungan moral.
- Simbolisme Cahaya Dan Suara: Tradisi menyalakan lampu, petasan, dan kembang api untuk mengusir kesialan dan energi negatif dari tahun sebelumnya.
Tahun ini perayaan Imlek akan digelar meriah dengan ornamen merah bergaya khas Tionghoa. Sama seperti pada perayaan sebelumnya, perayaan ini sangat dinantikan. Terlebih lagi saat malam menjelang tahun baru Imlek atau biasa disebut Chúxī.
Istilah ini berasal dari bahasa Mandarin, di mana chú berarti “menghilangkan” dan xī berarti “malam”. Secara makna, Chúxī adalah malam untuk meninggalkan tahun lama dan menyambut tahun yang baru. Malam ini jatuh pada malam terakhir dalam kalender lunar Tionghoa, tepat sebelum hari pertama Tahun Baru Imlek.
Berikut ini Popmama.com telah merangkum makna tradisi malam perayaan Imlek secara lebih lanjut. Disimak, ya!
Table of Content
Pemujaan Leluhur

Sebelum kemeriahan perayaan Chúxī dimulai, keluarga Tionghoa terlebih dahulu membuka malam sakral ini dengan sebuah ritual penghormatan kepada leluhur yang dilaksanakan secara khidmat di dalam rumah. Tradisi pemujaan leluhur menjadi fondasi spiritual dalam perayaan Chúxī, sekaligus cerminan nilai bakti (xiào) yang sangat dijunjung tinggi dalam budaya Tionghoa.
Ritual ini umumnya dilakukan dengan menyalakan dupa, menata persembahan makanan, serta memanjatkan doa di hadapan altar atau papan peringatan leluhur. Setiap elemen dalam ritual tersebut, memiliki makna simbolis.
Asap dupa dipercaya menjadi jembatan spiritual yang menghubungkan dunia manusia dengan alam baka, sementara persembahan makanan melambangkan rasa syukur, penghormatan serta harapan akan keberkahan di tahun yang baru.
Tradisi Malam Imlek

Saat malam perayaan, tepat ketika waktu menunjukkan pukul sebelas malam, kesunyian akan pecah oleh berbagai dentuman petasan dan kembang api yang mewarnai langit. Tradisi ini berakar pada legenda pengusiran monster Nián yang konon dipercaya takut terhadap cahaya benderang, suara bising dan warna merah yang menyala.
Dengan menyalakan lampu di seluruh sudut rumah serta memeriahkan langit dengan kembang api, keluarga sedang membangun benteng pertahanan spiritual. Memastikan bahwa segala bentuk kesialan dan energi negatif dari tahun yang lalu terusir jauh dari ambang pintu rumah.
Selain petasan dan kembang api, malam Imlek juga diisi dengan tradisi begadang bersama keluarga, yang dikenal sebagai shǒusuì. Dalam kepercayaan Tionghoa tetap terjaga hingga pergantian tahun dipercaya dapat memperpanjang usia orangtua dan membawa kesehatan bagi anggota keluarga.
Jamuan Makan Malam Tuán Nián Saat Malam Imlek

Perayaan malam Imlek juga identik dengan tradisi makan bersama keluarga. Menghidangkan makanan khas Imlek-seperti ikan, pangsit, kue beras ketan dan jeruk mandarin. Disajikan dengan harapan mendapatkan rezeki berlimpah dan peningkatan kehidupan di tahun yang baru.
Tradisi ini juga di kenal dengan sebutan Tuán Yuán Fàn. Sebuah perjamuan wajib yang melambangkan kembalinya setiap anggota keluarga dan berkumpul bersama.
Tradisi ini dianggap sebagai tonggak penting dalam seluruh rangkaian perayaan Imlek, sebab melalui interaksi ini setiap anggota keluarga dapat memperkuat fondasi kasih sayang dan dukungan moral sebelum bersama-sama melangkah memasuki tahun baru.
Hiasan Amplop Merah

Sebagai penutup pada perayaan Imlek, tradisi pemberian Yāsuìqián atau yang lebih dikenal sebagai angpao, menjadi momen paling dinantikan, terutama oleh sebagian anak-anak. Istilah Yāsuìqián berarti “uang untuk menekan suì,” yakni roh jahat atau energi buruk yang dalam legenda kuno dipercaya mengganggu anak-anak pada malam pergantian tahun.
Dalam budaya Tionghoa, merah melambangkan keberuntungan, kebahagiaan dan penolak bala. Dengan memberikan angpao, anggota keluarga yang lebih tua secara simbolis sedang membentengi dengan doa dan harapan agar mereka tumbuh sehat, aman serta memiliki masa depan yang sejahtera di tahun yang baru.
Itulah informasi mengenai malam dalam perayaan Imlek. Semoga pemahaman mengenai makna di balik perayaan ini, dapat menginspirasi untuk lebih menghargai kebersamaan bersama keluarga tercinta ya, Ma. Mari sambut tahun baru dengan hati jernih dan ikatan keluarga yang lebih baik.
FAQ
| Siapa saja yang wajib memberikan angpao? | Secara tradisional, angpao diberikan oleh mereka yang sudah menikah kepada anggota keluarga yang lebih muda atau yang belum menikah. Hal ini melambangkan bahwa orang yang sudah berkeluarga telah mencapai kemandirian secara finansial dan siap membagikan keberuntungan serta perlindungan kepada generasi di bawahnya. |
| Apa makna di balik penggunaan amplop berwarna merah? | Warna merah dalam tradisi Tionghoa melambangkan elemen api yang dipercaya dapat mengusir energi negatif dan nasib buruk. Selain sebagai simbol keberuntungan, warna merah pada amplop angpao berfungsi sebagai "pembungkus" doa agar penerimanya senantiasa diliputi kebahagiaan. |
| Apa fungsi dari buah jeruk yang sering diletakkan di sudut rumah? | Jeruk terutama jenis jeruk mandarin, sangat identik dengan Imlek karena pelafalan kata "jeruk" dalam bahasa Mandarin mirip dengan kata "emas" atau "keberuntungan". Meletakkan jeruk di area ruang tamu atau meja makan merupakan simbol dari doa agar keluarga dilimpahi kekayaan dan kemakmuran yang melimpah. |



















