Tarik napas dalam-dalam, saat merasa emosi mulai memuncak, berhenti sejenak dan tarik napas dalam-dalam. Bernapas perlahan melalui hidung, tahan beberapa detik, lalu hembuskan melalui mulut. Teknik ini membantu menenangkan sistem saraf dan memberikan waktu bagi Mama untuk berpikir lebih jernih.
Hitung sampai sepuluh, cara klasik ini ternyata sangat efektif. Hitung perlahan dari satu sampai sepuluh sebelum bereaksi. Jeda waktu ini memberikan kesempatan bagi Mama untuk meredakan emosi dan memilih respons yang lebih tepat.
Ambil jarak sejenak, jika memungkinkan, Mama bisa menjauh sebentar dari situasi yang memicu amarah. Pergi ke ruangan lain, keluar rumah sebentar, atau sekadar duduk di tempat yang tenang.
Berbicara pada diri sendiri dengan positif. Ingatkan diri Mama bahwa anak sedang belajar dan masih berkembang.
5 Waktu yang Harus Dihindari Mama untuk Marah pada Anak

Memarahi anak di waktu yang tidak tepat dapat berdampak buruk pada psikologis dan perkembangan emosional mereka
5 waktu yang harus dihindari untuk memarahi anak adalah saat bangun tidur, makan, di depan orang lain, beranjak tidur, dan saat hendak ke sekolah
Mengelola emosi dengan baik dan menghindari waktu yang tidak tepat untuk marah akan membangun hubungan yang lebih sehat antara Mama dan anak
Mendidik anak memang penuh tantangan. Ada kalanya emosi Mama terpancing saat anak melakukan kesalahan atau tidak mendengarkan perkataan. Namun, Mama perlu tahu bahwa ada waktu-waktu tertentu yang sebaiknya dihindari untuk memarahi anak.
Memarahi anak di waktu yang tidak tepat bisa berdampak buruk pada psikologis dan perkembangan emosional mereka. Anak bisa merasa cemas, kehilangan rasa aman, bahkan trauma. Karena itu, penting bagi Mama untuk mengenali kapan waktu yang tepat dan tidak tepat untuk menegur anak.
Berikut Popmama.com rangkum 5 waktu yang harus dihindari Mama untuk marah pada anak agar hubungan dengan anak tetap sehat dan harmonis!
Table of Content
1. Saat anak bangun tidur

Pagi hari adalah momen yang akan menentukan mood anak sepanjang hari. Saat baru bangun tidur, anak masih dalam kondisi transisi dari tidur ke bangun. Otak mereka belum sepenuhnya siap menerima informasi atau stimulus yang intens, termasuk amarah dari Mama.
Jika Mama langsung memarahi anak di pagi hari, misalnya karena bangun terlambat atau kamar yang berantakan, anak akan memulai harinya dengan perasaan negatif. Mereka bisa merasa tertekan, cemas, dan tidak bersemangat menjalani aktivitas. Kondisi ini bisa memengaruhi konsentrasi anak di sekolah dan membuat mereka mudah rewel sepanjang hari.
Selain itu, memarahi anak saat bangun tidur juga bisa merusak momen bonding di pagi hari yang seharusnya penuh kehangatan. Anak akan mengasosiasikan bangun tidur dengan hal yang tidak menyenangkan, sehingga mereka bisa jadi sulit dibangunkan atau enggan berinteraksi dengan Mama di pagi hari.
Lebih baik Mama memberikan sapaan hangat dan positif saat anak bangun. Jika ada hal yang perlu ditegur, tunggulah hingga anak benar-benar terjaga dan siap menerima komunikasi dengan baik.
2. Saat anak makan

Waktu makan seharusnya menjadi momen yang menyenangkan dan rileks bagi anak. Ini adalah waktu ketika tubuh mereka fokus pada proses pencernaan dan penyerapan nutrisi. Namun, jika Mama memarahi anak saat sedang makan, bisa mengganggu proses ini dan berdampak buruk pada kesehatan fisik maupun mental mereka.
Secara fisik, stres atau ketegangan saat makan dapat memengaruhi sistem pencernaan anak. Mereka bisa mengalami sakit perut, mual, atau bahkan kehilangan nafsu makan. Anak yang sering dimarahi saat makan juga cenderung makan dengan terburu-buru atau justru menolak makan sama sekali.
Secara psikologis, memarahi anak saat makan bisa membuat mereka merasa tidak aman dan tidak nyaman. Mereka akan kehilangan momen quality time bersama keluarga.
Jika ada perilaku anak yang perlu ditegur saat makan, seperti bermain dengan makanan atau tidak duduk dengan baik, Mama bisa mengingatkan dengan nada yang lembut. Simpan teguran yang lebih serius untuk waktu yang lebih tepat setelah makan selesai.
3. Saat di depan orang lain

Memarahi anak di depan orang lain, baik itu keluarga, teman, atau orang asing, adalah salah satu hal yang harus dihindari. Ini bukan hanya soal menjaga perasaan anak, tetapi juga menghormati harga diri mereka sebagai individu.
Saat dimarahi di depan orang lain, anak akan merasa sangat malu dan terhina. Rasa malu ini bisa merusak kepercayaan diri mereka dan membuat anak merasa tidak dihargai. Mereka mungkin akan menarik diri dari pergaulan atau menjadi lebih pendiam karena takut dipermalukan lagi.
Selain itu, memarahi anak di depan orang lain juga bisa merusak hubungan antara Mama dan anak. Anak akan merasa tidak dilindungi dan kehilangan rasa percaya terhadap Mama. Mereka mungkin enggan terbuka atau bercerita karena khawatir akan dipermalukan lagi.
Jika anak melakukan kesalahan di tempat umum atau saat ada tamu, Mama bisa membawa anak ke tempat yang lebih privat untuk berbicara. Tegurlah dengan tenang dan jelaskan apa yang salah tanpa harus mempermalukannya.
4. Saat beranjak tidur

Waktu menjelang tidur adalah momen ketika anak seharusnya merasa tenang, aman, dan nyaman. Ini adalah waktu bagi tubuh dan pikiran mereka untuk beristirahat setelah seharian beraktivitas. Memarahi anak saat beranjak tidur bisa mengganggu kualitas tidur mereka dan berdampak pada kesehatan secara keseluruhan.
Ketika Mama memarahi anak menjelang tidur, emosi negatif seperti sedih, takut, atau marah akan terbawa hingga mereka tertidur. Hal ini bisa membuat anak sulit tidur, gelisah sepanjang malam, atau bahkan mengalami mimpi buruk. Kualitas tidur yang buruk akan memengaruhi mood, konsentrasi, dan energi anak keesokan harinya.
Selain itu, beranjak tidur seharusnya menjadi momen bonding antara Mama dan anak. Ini adalah waktu untuk membaca buku bersama, mengobrol ringan, atau sekadar memeluk anak dengan hangat. Jika waktu ini dipenuhi dengan amarah dan teguran, anak akan kehilangan momen kedekatan yang penting untuk perkembangan emosional mereka.
Jika ada hal yang perlu dibicarakan atau ditegur, sebaiknya Mama lakukan di waktu yang lebih awal, bukan saat anak sudah siap tidur. Biarkan waktu tidur menjadi momen yang penuh kehangatan dan rasa aman.
5. Saat hendak ke sekolah

Pagi hari menjelang berangkat sekolah adalah waktu yang sibuk dan sering kali penuh tekanan, baik bagi Mama maupun anak. Namun, memarahi anak tepat sebelum mereka berangkat ke sekolah adalah hal yang harus dihindari karena bisa berdampak pada performa mereka sepanjang hari di sekolah.
Saat dimarahi sebelum berangkat sekolah, anak akan membawa emosi negatif tersebut ke dalam kelas. Mereka akan sulit berkonsentrasi dalam belajar, kurang bersemangat mengikuti pelajaran, dan bisa jadi lebih sensitif atau mudah tersinggung dengan teman-temannya.
Lebih dari itu, anak akan merasa tidak percaya diri dan gelisah sepanjang hari. Mereka mungkin terus memikirkan kejadian pagi tadi dan merasa bersalah atau sedih. Hal ini tentu tidak baik untuk perkembangan mental dan akademik mereka.
Jika Mama merasa kesal karena anak terlambat bangun, lupa mengerjakan PR, atau bergerak lambat saat bersiap-siap, cobalah untuk tetap tenang. Ingatkan dengan nada yang lembut dan hindari amarah. Mama bisa membicarakan masalah tersebut dengan lebih tenang setelah anak pulang sekolah.
6. Tips menenangkan diri saat Mama ingin marah

Berikut beberapa tips yang bisa Mama terapkan untuk menenangkan diri sebelum melampiaskan kemarahan pada anak.
Dengan menerapkan tips-tips ini, Mama bisa mengelola emosi dengan lebih baik dan menghindari memarahi anak di waktu yang tidak tepat.
7. Membangun hubungan yang lebih sehat dengan anak

Memahami 5 waktu yang harus dihindari untuk marah pada anak adalah langkah penting dalam membangun hubungan yang lebih sehat dan harmonis.
Mengelola emosi bukan berarti Mama tidak boleh menegur anak, tetapi cara dan waktu penyampaian sangat berpengaruh pada efektivitas teguran serta dampaknya terhadap perkembangan dan psikologis anak.
Dengan menghindari waktu-waktu yang tidak tepat untuk marah dan menerapkan cara menenangkan diri, Mama tidak hanya melindungi kesehatan mental anak, tetapi juga membangun fondasi hubungan yang penuh cinta dan saling menghormati.


















