Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

Anak 9 Tahun Menikam Adik Akibat Pengaruh Game di Malaysia

Anak 9 Tahun Menikam Adik Akibat Pengaruh Game di Malaysia
Pexels/Joni Tuohimaa
Intinya Sih
  • Seorang anak 9 tahun di Johor, Malaysia menikam adiknya karena marah poin game Roblox hilang akibat ponsel rusak, hingga korban harus dirawat di rumah sakit.

  • Kepolisian menilai kasus ini menunjukkan bahaya kecanduan game yang dapat memicu kehilangan kendali emosi, halusinasi, dan perilaku agresif pada anak.

  • Orangtua pelaku ditahan atas dugaan kelalaian pengasuhan, menjadi peringatan penting agar orangtua membatasi waktu bermain dan mengawasi aktivitas digital anak.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Punya anak di rumah yang hobi main game pasti sering membuat Mama merasa khawatir, apalagi jika mereka sudah sulit lepas dari gadgetnya.

Rasa takut anak menjadi kecanduan dan kehilangan kendali emosi tentu menjadi beban pikiran tersendiri bagi Mama dalam mengawasi aktivitas digital mereka.

Kepolisian Johor, Malaysia mengungkap kejadian tragis seorang bocah 9 tahun tega menikam adiknya menggunakan pisau karena kesal poin permainannya hilang akibat ponselnya rusak. 

Berikut Popmama.com rangkum detail kejadian dan bahaya kecanduan game berlebihan pada anak!

Table of Content

1. Kronologi anak 9 tahun tikam adik akibat pengaruh game

1. Kronologi anak 9 tahun tikam adik akibat pengaruh game

Anak bermain tablet
Pexels/Polina Tankilevitch

Kejadian memilukan ini terjadi di Kampung Parit Nipah Laut, Johor, Malaysia, di mana seorang kakak laki-laki menyerang adiknya menggunakan pisau. 

Pemicunya, pelaku merasa sangat emosi karena ponselnya rusak akibat ulah sang adik, yang menyebabkan progres satu juta poin dalam permainan Roblox miliknya hilang seketika. 

Mirisnya, anak tersebut mengaku sempat mengalami halusinasi seolah ada suara yang menyuruhnya untuk melukai keluarganya sebelum akhirnya ia mengambil pisau dan menyerang sang adik. 

Beruntung, korban berangsur kondisi stabil setelah dirawat di Rumah Sakit Sultanah Nora Ismail.

2. Dampak bahaya bermain game berlebihan bagi anak

Anak dimarahi orangtua
Pexels/Monstera Production

Tragedi ini menjadi bukti nyata betapa bahayanya jika anak sudah mengalami kecanduan game hingga kehilangan kendali emosi. 

Bermain game berlebihan, terutama yang memiliki sistem pencapaian poin, bisa membuat anak memiliki keterikatan emosional yang tidak sehat terhadap dunia virtual. 

Dampaknya bisa sangat fatal, mulai dari sulitnya membedakan realitas dengan fantasi, meningkatnya sifat agresif, hingga memicu halusinasi yang membahayakan nyawa orang-orang di sekitarnya.

3. Tanda-tanda anak harus berhenti bermain game

Anak bermain tablet malam hari
Pexels/Kampus Production

Mama perlu waspada dan segera menghentikan aktivitas bermain game jika anak mulai menunjukkan gejala kecanduan yang mengkhawatirkan. 

Beberapa tanda yang harus diantisipasi adalah anak mulai mengamuk secara berlebihan jika gadget diambil, kehilangan minat pada hobi lain, hingga mengabaikan kebutuhan dasar seperti makan dan tidur. 

Jika anak sudah mulai menunjukkan perubahan perilaku yang drastis atau bicara tentang hal-hal yang tidak nyata, itu adalah sinyal darurat bahwa ia butuh bantuan profesional dan detoks digital total.

4. Langkah yang harus dilakukan Mama dan Papa

Anak memeluk Mama dan Papa
Pexels/Yan Krukau

Kasus ini juga berujung pada penahanan kedua orangtua pelaku atas dugaan kelalaian pengasuhan berdasarkan Undang-Undang Anak 2001 di Malaysia. 

Hal ini menegaskan bahwa Mama dan Papa tidak boleh melepaskan anak sepenuhnya dengan gawai tanpa pendampingan. 

Mama dan Papa wajib menetapkan batasan waktu (screen time) yang ketat, memfilter konten permainan, serta rutin mengajak anak berkomunikasi tentang apa yang mereka alami di dunia digital. 

Jangan biarkan anak merasa bahwa pencapaian dalam game lebih berharga daripada hubungan kasih sayang antar anggota keluarga di dunia nyata.

Semoga kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi Mama agar lebih ketat dalam menjaga literasi digital anak. 

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Related Articles

See More