Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

9 Tips Mengasuh Anak Berkemauan Kuat, Arahkan dengan Tepat Ma!

9 Tips Mengasuh Anak Berkemauan Kuat, Arahkan dengan Tepat Ma!
Pexels/mohamedabdelghaffar
Intinya Sih
  • Anak berkemauan kuat bukan berarti bermasalah, melainkan memiliki potensi besar untuk sukses karena berpikir mandiri dan ingin belajar dari pengalaman sendiri.
  • Orangtua disarankan mengarahkan anak dengan pendekatan positif seperti memberi pilihan, menjaga nada bicara tenang, serta konsisten dalam aturan tanpa harus marah.
  • Sembilan tips mencakup apresiasi perilaku baik, mendengarkan anak, memberi konsekuensi logis, menjadi teladan nyata, dan menyalurkan energi lewat aktivitas fisik yang menyenangkan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Ada anak yang sejak kecil terlihat “beda”. Disuruh mandi malah kabur, diberi aturan langsung protes, dilarang sesuatu justru makin penasaran. Nggak sedikit Mama dan Papa yang akhirnya merasa lelah, bahkan bertanya-tanya, “Salah di mana ya cara mengasuh kita?”

Tenang dulu, Ma. Anak dengan karakter seperti ini bukan anak yang bermasalah. Mereka hanya punya kemauan yang kuat sejak dini.

Dilansir dari Michigan State University Extension, anak yang sering terlihat “tidak patuh” justru bisa menjadi indikator kesuksesan di masa depan. Mereka cenderung berpikir di luar kebiasaan dan tidak selalu mengikuti aturan begitu saja.

Psikolog klinis dari Columbia University, Laura Markham, juga menjelaskan bahwa anak berkemauan kuat ingin belajar dari pengalaman mereka sendiri. Itulah sebabnya mereka sering menguji batasan, bukan sekadar membangkang, tapi karena ingin benar-benar memahami sesuatu dengan caranya sendiri.

Karena itu, yang dibutuhkan bukan cara untuk “menjinakkan” mereka, melainkan cara yang tepat untuk mengarahkan energinya.

Berikut Popmama.com rangkum sembilan tips yang bisa Mama dan Papa coba.

1. Perhatikan momen saat anak bersikap baik

papa sedang menasihati sang anak
Pexels/AugustdeRichelieu

Tanpa sadar, orangtua sering lebih fokus saat anak berbuat salah dibanding saat ia melakukan hal yang benar. Padahal, dalam psikologi perkembangan, perilaku yang mendapat perhatian cenderung akan diulang.

Mulai sekarang, coba lebih peka pada hal-hal kecil yang anak lakukan dengan baik. Misalnya saat ia mau menunggu giliran, berbagi, atau menyelesaikan sesuatu tanpa diminta.

Berikan respons yang sederhana tapi spesifik, seperti, “Tadi kamu sabar banget, Mama lihat lho.” Kalimat seperti ini justru lebih efektif daripada banyak larangan.

2. Berikan pilihan, bukan perintah

Seorang anak laki-laki berkspresi marah
Pexels/VidalBalieloJr.

Anak berkemauan kuat biasanya ingin merasa punya kendali. Itulah kenapa perintah langsung sering memicu penolakan.

Coba ubah cara penyampaian. Daripada berkata, “Kamu harus mandi sekarang!”, Mama bisa bilang, “Mau mandi sekarang atau 10 menit lagi?”

Hasilnya tetap sama, tapi anak merasa dilibatkan. Cara ini juga terbukti efektif mengurangi konflik sekaligus melatih kemampuan mengambil keputusan.

3. Jaga nada bicara tetap tenang

anak laki-laki menyilangkan tangannya dengan ekspresi kesal
Pexels/monsteraproduction

Saat anak membangkang, wajar kalau emosi ikut terpancing. Tapi meninggikan suara justru sering memperkeruh situasi, apalagi pada anak yang sama-sama “kuat”.

Sebaliknya, cobalah bicara dengan tenang tapi tegas. Pendekatan ini dikenal sebagai authoritative parenting, yaitu hangat namun tetap punya batasan jelas.

Nada suara yang stabil justru menunjukkan bahwa Mama dan Papa tetap memegang kendali tanpa harus marah.

4. Pilih mana yang benar-benar penting

seorang anak perempuan terlihat kesal kepada sang mama
Pexels/RDNESTOCKPROJECT

Tidak semua hal perlu diperdebatkan. Kalau setiap hari jadi konflik, anak bisa melihat hubungan dengan orangtua sebagai “medan perang”.

Sebelum bereaksi, coba tanyakan: apakah ini soal keselamatan, kesehatan, atau nilai penting? Kalau tidak, mungkin bisa lebih dilonggarkan.

Dengan begitu, anak juga lebih mudah menerima aturan di hal-hal yang benar-benar penting.

5. Dengarkan dulu sebelum merespons

anak perempuan kesal dengan sang mama
Pexels/RDNEstockproject

Sering kali anak terlihat “membangkang”, padahal ia hanya ingin didengar.

Coba beri ruang untuk anak menjelaskan. Misalnya dengan bertanya, “Kamu kenapa nggak mau? Ceritain ke Mama dulu.”

Saat anak merasa dipahami, biasanya ia akan lebih terbuka menerima arahan.

6. Tetap konsisten, meski sedang lelah

seorang anak laki-laki membalikkan badan dari teman-temannya
Pexels/anastasiashuraeva

Ini memang tidak mudah, tapi sangat penting. Anak berkemauan kuat cepat menangkap celah.

Kalau hari ini aturan ditegakkan, tapi besok dilonggarkan karena lelah, anak akan belajar bahwa aturan bisa dinegosiasikan.

Konsistensi bukan berarti kaku, tapi memberikan kepastian. Dan justru dari situlah anak merasa aman.

7. Jadi contoh, bukan sekadar memberi nasihat

mama dan anak perempuannya sedang berdebat
Pexels/RDNEstockproject

Anak belajar dari apa yang dilihat, bukan hanya dari apa yang didengar.

Kalau Mama ingin anak bisa mengelola emosi, tunjukkan bagaimana menghadapi situasi sulit dengan tenang. Kalau ingin anak aktif, ajak bergerak bersama.

Anak berkemauan kuat biasanya sangat peka terhadap ketidaksesuaian antara ucapan dan tindakan.

8. Berikan konsekuensi yang masuk akal

seorang anak menunjukan ekspresi marah
Pexels/alexanderdummer

Hukuman yang tidak relevan sering terasa tidak adil bagi anak.

Lebih baik berikan konsekuensi yang berhubungan langsung dengan perilakunya. Misalnya, jika anak tidak merapikan mainan, mainannya bisa disimpan sementara.

Tanpa marah atau drama, anak akan belajar tentang sebab-akibat dan tanggung jawab

9. Salurkan energi lewat aktivitas fisik

seorang anak laki-laki melakukan pull up
Pexels/cottonbrostudio

Anak dengan kemauan kuat biasanya punya energi besar, terutama saat memasuki usia remaja.

Olahraga seperti pull up bisa jadi salah satu pilihan karena melatih kekuatan otot sekaligus disiplin. Dilansir dari healthline.com, latihan kekuatan seperti pull up terbukti membantu meningkatkan kepadatan tulang dan kesehatan jantung pada usia muda fondasi kesehatan yang efeknya akan terasa hingga dewasa. 

Selain itu, aktivitas fisik juga baik untuk kesehatan mental, membantu anak lebih percaya diri dan mampu mengelola stres.

Yang penting, mulai dari yang sederhana dan jadikan aktivitas ini menyenangkan, Ma.

Mengasuh anak berkemauan kuat memang penuh tantangan. Ada kalanya Mama dan Papa merasa lelah atau kehabisan cara.

Tapi ingat, sifat yang hari ini terasa “melelahkan” justru bisa menjadi kekuatan besar di masa depan.

Share
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Related Articles

See More