Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
7 Fakta Rumah Singgah untuk Anak Pejuang Kanker, Gratis!
Popmama.com/NasywaQurrotuAini
  • Rumah singgah menjadi tempat aman dan gratis bagi anak pejuang kanker serta keluarganya selama pengobatan di Jakarta, lengkap dengan fasilitas harian dan dukungan emosional.
  • Anak-anak tetap bisa belajar lewat koordinasi guru dengan sekolah asal, sementara keluarga mendapat bantuan kebutuhan dasar meski masih menghadapi tantangan biaya transportasi.
  • Pergelaran amal GITA CITRA CITA digelar untuk menggalang dana dan membangun empati publik terhadap perjuangan anak-anak pejuang kanker melalui kolaborasi seni lintas generasi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Tidak banyak yang tahu kalau di tengah beratnya perjuangan melawan kanker, ada banyak anak dari luar daerah yang harus tinggal jauh dari rumah demi menjalani pengobatan di Jakarta. Sebagian bahkan harus bolak-balik rumah sakit selama bertahun-tahun.

Di balik proses pengobatan yang panjang itu, ada rumah singgah yang menjadi tempat tinggal sementara sekaligus ruang aman bagi anak-anak pejuang kanker dan keluarganya. Di tempat inilah mereka bisa beristirahat, belajar, bermain, hingga mendapatkan dukungan emosional selama menjalani pengobatan.

Fakta ini dibagikan dalam press conference pergelaran amal GITA CITRA CITA oleh Ketua Umum YKAKI, Martha Stefanie Haliman selaku President Lions Club Jakarta Jaya Sunter Agung, Poppy Hayono Isman, dan Budi Widiastuti Suharto yang digelar di Jakarta pada Selasa (5/5/2026). Acara tersebut menjadi bagian dari upaya penggalangan dana untuk membantu anak-anak pejuang kanker di Indonesia.

Lantas, seperti apa kehidupan di rumah singgah untuk anak pejuang kanker? Berikut Popmama.com telah merangkum beberapa faktanya.

1. Anak-anak bisa tinggal tanpa batas waktu selama pengobatan

Popmama.com/NasywaQurrotuAini

Banyak pasien anak datang dari luar kota dan harus menjalani pengobatan dalam waktu lama. Karena itulah rumah singgah menjadi tempat tinggal sementara bagi anak dan pendampingnya selama proses pengobatan berlangsung.

Menariknya, tidak ada batas waktu tinggal selama masih dibutuhkan dokter. Ada anak yang tinggal selama dua hingga empat tahun demi menyelesaikan pengobatan.

“Jadi mereka bisa tinggal di rumah ini tanpa batas selama diperlukan dokter selama pengobatan. Ada yang dua tahun, tiga tahun, bahkan empat tahun,” ujar Ketua YKAKI, Ira Soelistyo.

2. Rumah singgah menampung puluhan anak dari berbagai daerah

Popmama.com/NasywaQurrotuAini

Rumah singgah ini memiliki kapasitas sekitar 50 anak beserta orangtuanya. Sebagian besar penghuni datang dari berbagai daerah di Indonesia untuk menjalani pengobatan di Jakarta.

Biasanya satu anak didampingi satu orangtua. Namun untuk anak usia di bawah lima tahun, kedua orangtuanya diperbolehkan tinggal bersama jika memang dibutuhkan.

3. Semua kebutuhan harian anak ikut disediakan

Popmama.com/NasywaQurrotuAini

Bukan hanya tempat tinggal, kebutuhan sehari-hari anak dan keluarga juga ikut dipenuhi. Mulai dari makan, tempat tidur, hingga fasilitas bersama disediakan agar keluarga bisa lebih fokus mendampingi anak selama pengobatan.

Hal ini penting karena banyak keluarga mengalami tekanan ekonomi setelah anak didiagnosis kanker. Tidak sedikit orangtua yang akhirnya harus berhenti bekerja demi menemani proses pengobatan anak.

4. Anak-anak tetap bisa sekolah meski sedang menjalani pengobatan

Popmama.com/NasywaQurrotuAini

Salah satu hal yang menarik, anak-anak di rumah singgah tetap mendapatkan akses pendidikan formal. Guru-guru akan berkoordinasi langsung dengan sekolah asal masing-masing anak agar mereka tidak tertinggal pelajaran.

“Guru-guru kami menghubungi langsung sekolah mereka satu per satu. Jadi anak-anak tetap bisa belajar dan tidak putus sekolah,” jelas Ira.

Bahkan, guru juga rutin datang ke beberapa rumah sakit untuk mengajar anak-anak yang masih menjalani perawatan intensif.

5. Banyak keluarga kesulitan biaya transportasi untuk kembali berobat

Popmama.com/NasywaQurrotuAini

Meski pengobatan sudah ditanggung BPJS, banyak keluarga tetap menghadapi kesulitan lain seperti biaya transportasi, pemeriksaan tambahan, hingga kebutuhan sehari-hari selama tinggal di Jakarta.

Ira mengungkapkan, ada keluarga yang sempat pulang kampung tetapi kesulitan kembali karena tidak memiliki ongkos perjalanan.

“Kadang pengobatan terputus karena mereka pulang dan untuk kembali lagi tidak punya ongkos,” ungkapnya.

6. Rumah singgah juga memberikan dukungan psikososial

Popmama.com/NasywaQurrotuAini

Perjuangan melawan kanker bukan hanya melelahkan secara fisik, tetapi juga mental. Karena itu, anak dan orangtua juga mendapatkan dukungan psikososial agar tetap kuat menjalani proses pengobatan.

Selain belajar dan bermain bersama, anak-anak juga didampingi agar tetap memiliki semangat serta harapan selama masa pengobatan.

7. Menggelar penampilan musikal untuk menyuarakan perjuangan anak pejuang kanker

Popmama.com/NasywaQurrotuAini

Sebagai bentuk dukungan untuk anak-anak pejuang kanker, akan digelar pergelaran amal GITA CITRA CITA pada 20 Mei 2026 di Djakarta Theatre. Pergelaran ini akan melibatkan lebih dari 250 penampil lintas generasi, mulai dari survivor kanker anak, paduan suara, musisi, hingga relawan kemanusiaan.

Acara ini diinisiasi oleh Martha Haliman bersama berbagai kolaborator untuk menggalang dukungan bagi anak-anak pejuang kanker di Indonesia.

Menurut Poppy Hayono Isman, pertunjukan ini bukan sekadar konser amal, tetapi juga ruang untuk membangun empati masyarakat terhadap perjuangan anak-anak pejuang kanker.

“GITA CITRA CITA lahir dari keyakinan bahwa seni mampu menyentuh ruang yang sering tidak dijangkau oleh kata-kata. Kami ingin setiap lagu dan setiap babak menjadi jembatan empati yang menghubungkan panggung dengan aksi nyata membantu anak-anak pejuang kanker,” ujarnya.

Lewat acara ini, masyarakat diajak tidak hanya hadir sebagai penonton, tetapi juga ikut menjadi bagian dari gerakan yang membantu anak-anak pejuang kanker tetap memiliki harapan untuk masa depan mereka.

Editorial Team