- Bahan-bahan yang termasuk penghantar listrik,
- Bahan-bahan penghambat listrik,
- Medan listrik dan area yang bertegangan listrik tinggi.
Viral Anak Kesetrum saat Ambil Layangan, Ini Cara Edukasi Anak

- Seorang anak di Bulandshahr, India tersengat listrik saat mengambil layangan yang tersangkut di kabel bertegangan tinggi, sementara sang kakek meninggal dunia ketika mencoba menolongnya.
- Orangtua disarankan mengajarkan anak tentang bahaya listrik, termasuk mengenali bahan penghantar dan penghambat arus agar mereka lebih waspada saat bermain di luar rumah.
- Penting bagi orangtua menanamkan prinsip melepaskan mainan yang tersangkut serta melatih anak menghadapi situasi darurat tanpa panik demi menjaga keselamatan diri.
Menyaksikan berita tentang kecelakaan yang menimpa anak-anak selalu berhasil membuat hati orangtua pilu ya, Ma.
Rasa penasaran dan kurangnya pemahaman akan bahaya sering kali membuat anak melakukan tindakan nekat saat sedang bermain.
Seperti peristiwa memilukan yang terjadi di Bulandshahr, Uttar Pradesh, India baru-baru ini.
Sebuah kecelakaan fatal yang berawal dari bermain layang-layang, tidak hanya melukai seorang anak, tetapi juga merenggut nyawa sang kakek yang berusaha menyelamatkannya.
Tentunya tragedi ini menjadi alarm keras bagi kita semua mengenai bahaya yang bisa mengintai anak kapan saja ya Ma.
Agar kejadian serupa tidak menimpa anak Mama, sudah Popmama.com rangkum pelajaran penting dari kronologi kasus dan cara mengedukasinya. Dicatat ya Ma.
Table of Content
1. Kronologi: kakek tewas demi menolong cucu yang kesetrum
Melansir dari latestly.com berdasarkan laporan dari kepolisian setempat, peristiwa tragis ini menimpa seorang anak berusia 12 tahun bernama Ahad yang sedang bermain di atap rumah kakeknya, Israr (65 tahun).
Saat asyik bermain, layang-layang milik Ahad putus dan tersangkut di sebuah tiang listrik yang dialiri kabel bertegangan tinggi sebesar 11.000 volt.
Tanpa memikirkan risikonya, Ahad mencoba mengambil layangan tersebut menggunakan sebuah batang besi.
Seketika itu juga, arus listrik berkekuatan besar langsung menyengat tubuhnya hingga mengeluarkan percikan api dan asap.
Melihat sang cucu menjerit kesakitan, refleks sang kakek langsung berlari dan mencoba menarik tubuh Ahad dengan tangan kosong.
Celakanya, aliran listrik tersebut justru ikut menyengat sang kakek hingga dinyatakan meninggal dunia di lokasi.
Sementara, sang cucu berhasil terpental selamat dan mendapatkan perawatan intensif.
2. Mama bisa ajarkan pemahaman sederhana mengenai kelistrikan

Belajar dari tragedi yang menimpa Ahad, langkah pertama yang bisa Mama lakukan adalah memberikan pemahaman sederhana pada anak.
Jelaskan kepada anak bahwa kabel besar di jalanan membawa arus listrik ribuan kali lebih kuat daripada kabel yang ada di rumah.
Selain itu, Mama bisa memberikan pemahaman sederhana seperti:
Supaya anak lebih paham dan bisa membedakan mana bahan yang merupakan penghambat listrik dan mana yang justru malah menghantarkan listrik.
3. Tanamkan pemahaman "Lepaskan dan Ikhlaskan” pada anak

Bagi anak-anak, mainan seperti layang-layang yang putus atau tersangkut sering kali dianggap sebagai rasa kepemilikan.
Pikirannya terfokus pada rasa sayang terhadap mainan. Padahal hal inilah yang kerap membuat anak nekat mengabaikan keselamatan diri.
Di sinilah peran penting Mama untuk menanamkan prinsip hidup bahwa tidak ada satu pun mainan di dunia ini yang nilainya sebanding dengan nyawa.
Mama bisa mencontohkan ini untuk bicara pada anak,
"Kalau nanti layangannya putus dan tersangkut di tempat berbahaya seperti tiang listrik, biarkan saja dan ikhlaskan. Nanti kita bisa beli yang baru bersama Papa."
Cara ini bisa dilakukan untuk meredam kenekatan anak saat mereka bermain di luar pengawasan orangtua ya Ma.
4. Melatih anak dalam kondisi darurat

Selain mengedukasi anak, tragedi di India juga menjadi pelajaran berharga bagi Mama mengenai pentingnya tidak panik saat menolong korban kesetrum listrik.
Mengingat sang kakek yang malah menjadi korban karena spontan menarik cucunya dengan tangan kosong. Anak juga perlu diajarkan cara merespons kondisi darurat secara aman dan tenang.
Mama bisa melatih anak agar ketika melihat ada teman atau orang lain tersengat listrik, jangan pernah menyentuh korban dengan tangan telanjang.
Ajarkan anak untuk segera berteriak meminta bantuan orang dewasa di sekitar, mematikan saklar pusat jika memungkinkan, atau menggunakan benda penghambat listrik seperti balok kayu untuk menjauhkan korban.
Kehilangan mainan seperti layang-layang memang bisa membuat anak sedih, namun menanamkan pemahaman yang logis tentang keselamatan jauh lebih berharga daripada segalanya Ma.





















