Ketahui! Sindrom Tourette, Kelainan Saraf yang Bisa Terjadi Pada Anak

Sindrom tourette termasuk kelainan saraf yang langka terjadi nih, Ma!

22 Februari 2019

Ketahui Sindrom Tourette, Kelainan Saraf Bisa Terjadi Anak
Pixabay/RachelBostwick

Sindrom tourette adalah sebuah kelainan saraf yang langka. Sindrom ini akan menyerang sistem saraf otak yang biasanya ditandai dengan berbagai pola gerakan dan ucapan yang terjadi secara berulang-ulang. Semuanya terjadi secara spontan dan tidak bisa dikendalikan, kondisi inilah yang disebut tics. Sindrom tourette bisa menyerang anak-anak.

Ketika tics pada anak dengan sindrom tourette kambuh, dirinya tidak dapat mengendalikan gerakan atau apa yang dikatakan karena semua terjadi secara tiba-tiba.

Nama sindrom ini berasal dari penemunya yaitu Dr. Georges Gilles de la Tourette seorang ahli saraf dari Perancis. Dirinya pertama kali menggambarkan kondisi mengenai sindrom tourette pada seorang bangsawan berusia 86 tahun asal Perancis.

Pada kasus berbeda seseorang yang memiliki sindrom tourette bisa secara tiba-tiba mengeluarkan suara abnormal, mengulang pertanyaan yang sama bahkan bisa menghujat orang lain tanpa disadari. 

Untuk Mama yang ingin mengetahui sindrom tourette lebih banyak lagi, kali ini Popmama.com sudah merangkumnya. 

Penyebab Sindrom Tourette

Penyebab Sindrom Tourette
Freepik/prostooleh

Sebenarnya penyebab dari sindrom tourette, seperti dituliskan di tourette.org belum diketahui secara pasti. Namun, beberapa penelitian mengatakan bahwa sindrom ini diduga disebabkan karena beberapa kondisi seperti:

  • Gangguan sistem saraf otak.

Sindrom tourette mengalami kecacatan pada fungsi, struktur atau zat kimia pada otak yang mampu mengantarkan impuls saraf. Kelaian pada area otak juga bisa terjadi mulai dari basal ganglia, lobus frontal, dan bagian korteks. 

Perlu diketahui kalau lobus frontal termasuk salah satu yang bertanggung jawab untuk mengatur gerakan, penilaian, pengambilan keputusan, pemecahan masalah, spontanitas, kontrol impuls, memori, bahasa hingga periaku sosial. Bila ini mengalami gangguan, maka ada gerakan hingga ucapan yang terjadi secara spontan seolah-olah tidak bisa dikendalikan. 

Selain itu, neurotransmiter (dopamin, serotonin, dan norepinephrine) yang bertanggung jawab untuk berkomunikasi antar sel saraf di otak juga bisa terganggu akibat sindrom tourette.

  • Faktor genetik.

Perlu disadari bahwa kelainan genetik yang diwarisi dari orangtua kepada anaknya diduga menjadi salah satu pemicu sindrom tourette. 

  • Faktor lingkungan. 

Gangguan atau kondisi stres yang terjadi selama masa kehamilan atau saat proses persalinan diduga menjadi salah satu pemicu sindrom tourette. Selain itu, bayi yang lahir di bawah normal dapat menyebabkan anak-anak terkena sindrom tourette. 

Selain itu, sindrom tourette bisa memiliki faktor pemicu lain seperti jenis kelamin. Umunya laki-laki 3-4 kali berisiko lebih tinggi mengalami sindrom ini dibandingkan perempuan. 

Baca juga: 

Editors' Picks

Gejala dari Sindrom TouretteĀ 

Gejala dari Sindrom TouretteĀ 
Freepik

Gejala awal dari sindrom tourette yaitu terjadinya gerakan spontan yang tidak bisa dikontrol, menyentak secara tiba-tiba, hidup berkedut, mulut bergerak-gerak tanpa disadari bahkan mengalami kejang dalam waktu yang singkat. Rata-rata kemunculan dari gejala awal sindrom tourette terjadi pada usia 3 dan 9 tahun.  

Ma, perlu disadari kalau gejala umum dari sindrom tourette adalah tics. Meskipun begitu, gejala tics yang terjadi pada setiap orang akan berbeda-beda. 

Tics memiliki klasifikasinya sendiri dalam beberapa jenis yaitu: 

  • Vocal tics terjadi saat membuat suara secara berulang. Contoh dari vocal tics seperti batuk, berdeham, membuat suara seolah menyerupai binatang. 
  • Motor tics terjadi saat melakukan gerakan yang selalu sama secara berulang-ulang. Beberapa contoh dari motor tics seperti mengangguk, menggeleng, berkedip atau menggerak-gerakan mulut.

Saat anak-anak mengalami stres, memiliki kecemasan tinggi, mulai lelah atau terlau bersemangat dapat memperburuk kondisi tics. Bahkan tics di awal masa remaja dapat berkembang dan melakukan transisi ke masa yang lebih dewasa.

Anak-anak yang terkena sindrom tourette umumnya mengalami sejumlah kondisi tertentu akibat komplikasi, seperti: 

  • Mengalami gangguan mood,
  • merasa kesulitan belajar,
  • mengalami gangguan perilaku dalam bersosialisasi,
  • ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder),
  • perilaku melukai diri sendiri (self injury),
  • OCD (Obsessive-Compulsive Disorder) atau OCB (Obsessive-Compulsive Behavior).

Baca juga: Penting! Ini 5 Fakta Mengenai Sindrom Leher Bayi Terlilit Tali Pusar

Pengobatan untuk Sindrom Tourette

Pengobatan Sindrom Tourette
Freepik/pressfoto

Anak-anak yang terkena sindrom tourette dengan gejala ringan, sebenarnya tidak memerlukan pengobatan khusus. Namun, gejala yang dialami oleh sindrom tourette dapat mengganggu aktivitas kesehatan atau bahkan bisa membahayakan diri sendiri serta orang lain. 

Untuk itu, ada beberapa metode seperti pengobatan yang perlu dilakukan antara lain:

  • DBS (deep brain stimulation), biasanya prosedur ini akan direkomendasikan saat gejala sindrom tourette sudah sangat parah dan tidak bisa diatasi dengan cara lain. Prosedur DBS akan dilakukan penanaman elektroda ke otak pasien agar kinerjanya bisa kembali normal. 
  • Psikoterapi, terapi yang satu ini dapat dijalani untuk memperbaiki perilaku kognitif. Psikoterapi umumnya akan dilakukan melalui beberapa metode yaitu meditasi, teknik pernapasan atau relaksasi dan hipnosis. 

Sebagai orangtua, Mama juga perlu mengenal informasi mengenai sindrom tourette lebih banyak. Saat anak mama merasa tidak percaya diri, usahakan untuk selalu berada di dekatnya. 

Mulailah dengan memberi dukungan atau semangat agar dapat meredakan gejala sindrom tourette secara perlahan pada anak mama. 

Semoga informasi mengenai sindrom tourette bisa memberikan banyak informasi serta pengetahuan baru. Tetap semangat ya, Ma!

Baca juga: 

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!