Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

20 Puisi Sapardi Djoko Damono Terpopuler, Sentuhan Cinta dan Renungan Kehidupan

20 Puisi Sapardi Djoko Damono Terpopuler, Sentuhan Cinta dan Renungan Kehidupan
Gramedia.com
Share Article

Puisi Sapardi Djoko Damono memang selalu berhasil membius siapa saja yang membacanya. Karangan puisi tersebut dibuat dalam berbagai tema, mulai dari percintaan, kekeluargaan, agama, dan cita-cita.

Bagi remaja yang sedang belajar mengekspresikan diri, kumpulan puisi dari sastrawan ternama ini bisa menjadi contoh sempurna bagaimana bahasa bisa menjadi jembatan antara dunia batin dan realitas.

Ada kosakata yang terkesan tidak selalu popular, tapi tersimpan dengan sederhana. Saat membacanya bisa menyentuh.

Banyak membaca karya puisi dari sastrawan ternama akan meningkatkan kecerdasan berbahasa, melatih rasa, dan mengasah kemampuan berpikir kritis.

Untuk itu, berikut Popmama.com rangkumkan 20 kumpulan puisi Sapardi Djoko Damono terpopuler yang penuh sentuhan cinta dan renungan kehidupan.

  1. Mahakarya Cinta yang Romantis

    A man and a woman walk into a field holding hands
    Freepik/pvproductions

    Berikut kumpulan puisi Sapardi Djoko Damono perihal cinta yang romantis:

    1. Yang Fana Adalah Waktu

    Yang fana adalah waktu. 

    Kita abadi memungut detik demi detik,

    merangkainya seperti bunga

    sampai pada suatu hari

    kita lupa untuk apa

    "Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?" tanyamu.

    Kita abadi.

    2. Aku Ingin

    Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

    dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu

    Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

    dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

    3. Pada Suatu Hari Nanti

    Pada suatu hari nanti,

    Jasadku tak akan ada lagi,

    Tapi dalam bait-bait sajak ini,

    Kau tak akan kurelakan sendiri.

    Pada suatu hari nanti,

    Suaraku tak terdengar lagi,

    Tapi di antara larik-larik sajak ini.

    Kau akan tetap kusiasati,

    Pada suatu hari nanti,

    Impianku pun tak dikenal lagi,

    Namun di sela-sela huruf sajak ini,

    Kau tak akan letih-letihnya kucari.

    4. Hanya

    Hanya suara burung yang kau dengar

    dan tak pernah kaulihat burung itu

    tapi tahu burung itu ada di sana

    Hanya desir angin yang kaurasa

    dan tak pernah kaulihat angin itu

    tapi percaya angin itu di sekitarmu

    Hanya doaku yang bergetar malam ini

    dan tak pernah kaulihat siapa aku

    tapi yakin aku ada dalam dirimu

  2. Renungan Filosofis Merenungi Kehidupan

    Side view woman with journal at home
    Freepik

    Selain cinta, Sapardi juga piawai menyajikan renungan filosofis. Berikut ini puisi Sapardi Djoko Damono yang akan mengajak kita merenungi hakikat diri, kehidupan, dan waktu, yaitu:

    5. Hatiku Selembar Daun

    Hatiku selembar daun

    melayang jatuh di rumput,

    Nanti dulu,

    biarkan aku sejenak terbaring di sini,

    ada yang masih ingin kupandang,

    yang selama ini senantiasa luput;

    Sesaat adalah abadi

    sebelum kau sapu tamanmu setiap pagi.

    6. Sajak Tafsir

    Kau bilang aku burung?

    Jangan sekali-kali berkhianat

    kepada sungai, ladang, dan batu.

    Aku selembar daun terakhir

    yang mencoba bertahan di ranting

    yang membenci angin.

    Aku tidak suka membayangkan

    keindahan kelebat diriku

    yang memimpikan tanah,

    tidak memercayai janji api yang akan menerjemahkanku

    ke dalam bahasa abu.

    Tolong tafsirkan aku

    sebagai daun terakhir

    agar suara angin yang meninabobokan

    ranting itu padam.

    Tolong tafsirkan aku sebagai hasrat

    untuk bisa lebih lama bersamamu.

    Tolong ciptakan makna bagiku,

    apa saja — aku selembar daun terakhir

    yang ingin menyaksikanmu bahagia

    ketika sore tiba.

    7. Dalam Diriku

    Dalam diriku mengalir sungai panjang

    Darah namanya;

    Dalam diriku menggenang telaga darah

    Sukma namanya;

    Dalam diriku meriak gelombang sukma

    Hidup namanya!

    Dan karena hidup itu indah

    Aku menangis sepuas-puasnya.

    8. Metamorfosis

    Ada yang sedang menanggalkan

    kata-kata yang satu demi satu mendudukkanmu di depan cermin

    dan membuatmu bertanya

    tubuh siapakah gerangan yang kukenakan ini

    ada yang sedang diam-diam

    menulis riwayat hidupmu

    menimbang-nimbang hari lahirmu

    mereka-reka sebab-sebab kematianmu

    ada yang sedang diam-diam

    berubah menjadi dirimu.

  3. Dialog dengan Alam dan Ketenangan Hati

    People near the tree on the shore during the sunset
    Freepik/wirestock

    Banyak puisi Sapardi Djoko Damono yang menggunakan elemen alam sebagai metafora untuk menyampaikan kedamaian, keikhlasan, dan proses penerimaan. Berikut beberapa di antaranya yang terpopuler:

    9. Hujan Bulan Juni

    tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni

    dirahasiakannya rintik rindunya

    kepada pohon berbunga itu

    tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni

    dihapusnya jejak-jejak kakinya

    yang ragu-ragu di jalan itu

    tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni

    dibiarkannya yang tak terucapkan

    diserap akar pohon bunga itu

    10. Akulah Si Telaga

    akulah si telaga

    berlayarlah di atasnya;

    berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan bunga-bunga padma;

    berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;

    sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja

    perahumu biar aku yang menjaganya.

    11. Gerimis Jatuh

    Gerimis jatuh kau dengar suara di pintu

    Bayang-bayang angin berdiri di depanmu

    Tak usah kau ucapkan apa-apa; seribu kata

    Menjelma malam, tak ada yang di sana

    Tak usah; kata membeku,

    Detik meruncing di ujung Sepi itu

    Menggelincir jatuh

    Waktu kau tutup pintu.

    Belum teduh dukamu.

    12. Kuhentikan Hujan

    Kuhentikan hujan

    Kini matahari merindukanku, mengangkat kabut pagi perlahan

    Ada yang berdenyut dalam diriku

    Menembus tanah basah

    Dendam yang dihamilkan hujan

    Dan cahaya matahari

    Tak bisa kutolak

    Matahari memaksaku menciptakan bunga-bunga

  4. Refleksi Spiritual dan Religius

    Teenage girl with praying. Peace, hope, dreams concept
    Freepik/jcomp

    Nuansa spiritual dan religiositas juga kuat mewarnai karya-karya Sapardi, seperti terlihat pada puisi populernya sebagai berikut:

    13. Dalam Doaku

    Dalam doa subuhku ini kau menjelma langit yang semalaman tak memejamkan mata, 

    yang meluas bening siap menerima cahaya pertama, 

    yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara

    Ketika matahari mengambang di atas kepala,

    dalam doaku kau menjelma pucuk pucuk cemara yang hijau senantiasa, 

    yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin

    yang mendesau entah dari mana

    Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,

    yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu

    bunga jambu, 

    yang tiba tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

    Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat perlahan dari nun disana, 

    bersijingkat di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya

    di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

    Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,

    yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya, 

    yang setia mengusut rahasia demi rahasia, 

    yang tak putus-putusnya bernyanyi

    bagi kehidupanku

    Aku mencintaimu,

    itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan

    keselamatanmu

    14. Sajak Kecil Tentang Cinta

    Mencintai angin harus menjadi siut

    Mencintai air harus menjadi ricik

    Mencintai gunung harus menjadi terjal

    Mencintai api harus menjadi jilat

    Mencintai cakrawala harus menebas jarak

    Mencintai-Mu harus menjelma aku

    15. Sajak Putih

    Beribu saat dalam kenangan

    Surut perlahan

    Kita dengarkan bumi menerima tanpa mengaduh

    Sewaktu detik pun jatuh

    Kita dengar bumi yang tua dalam setia

    Kasih tanpa suara

    Sewaktu bayang-bayang kita memanjang

    Mengabur batas ruang

    Kita pun bisu tersekat dalam pesona

    Sewaktu ia pun memanggil-manggil

    Sewaktu Kata membuat kita begitu terpencil

    Di luar cuaca

    16. Ia Tak Pernah

    Ia tak pernah berjanji kepada pohon untuk menerjemahkan burung menjadi api

    Ia tak pernah berjanji kepada burung untuk menyihir api menjadi pohon

    Ia tak pernah berjanji kepada api untuk mengembalikan pohon kepada burung

  5. Renungan Waktu, Kenangan, dan Kesendirian

    People looking over picture album
    Freepik

    Puisi Sapardi Djoko Damono selanjutnya mengangkat tema universal tentang pergulatan dengan waktu, kesendirian, dan bayang-bayang kenangan. Berikut di antaranya:

    17. Kita Saksikan

    kita saksikan burung-burung lintas di udara

    kita saksikan awan-awan kecil di langit utara

    waktu itu cuaca pun senyap seketika

    sudah sejak lama, sejak lama kita tak mengenalnya

    di antara hari buruk dan dunia maya

    kita pun kembali mengenalnya

    kumandang kekal, percakapan tanpa kata-kata

    saat-saat yang lama hilang dalam igauan manusia

    18. Sementara Kita Saling Berbisik

    Sementara kita saling berbisik 

    untuk lebih lama tinggal pada debu, 

    cinta yang tinggal berupa bunga kertas dan lintasan angka-angka

    ketika kita saling berbisik

    di luar semakin sengit malam hari

    memadamkan bekas-bekas telapak kaki, 

    menyekap sisa-sisa unggun api sebelum fajar

    Ada yang masih bersikeras abadi.

    19. Menjenguk Wajah di Kolam

    Jangan kau ulang lagi menjenguk wajah yang merasa sia-sia,

    yang putih yang pasi itu

    Jangan sekali-kali membayangkan 

    Wajahmu bagai rembulan

    20. Tentang Matahari

    Matahari yang ada di atas kepalamu itu

    Adalah balon gas yang terlepas dari tanganmu

    waktu kau kecil, adalah bola lampu

    yang ada di atas meja ketika kau menjawab surat-surat

    yang teratur kau terima dari sebuah Alamat,

    adalah jam weker yang berdering

    saat kau bersetubuh, adalah gambar bulan

    yang dituding anak kecil itu sambil berkata:

    “Ini matahari! Ini matahari!”

    Matahari itu? Ia memang di atas sana

    supaya selamanya kau menghela

    bayang-bayangmu itu.

    Itu dia 20 puisi Sapardi Djoko Damono terpopuler yang telah menyentuh hati banyak orang. Setiap baitnya bukan sekadar rangkaian kata indah, tapi juga cermin dari pergulatan batin, ketulusan cinta, dan permenungan mendalam tentang kehidupan.

    Karya-karya beliau akan terus abadi, menemani pembaca dari generasi ke generasi, membuktikan bahwa yang fana adalah waktu, tapi puisi dan makna di dalamnya adalah keabadian itu sendiri.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More