Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
7 Hal yang Terjadi saat Anak Mengingat Luka Masa Kecil
Freepik
  • Kenangan dan ucapan menyakitkan di masa kecil dapat membentuk rasa aman, kepercayaan diri, serta cara anak memandang dirinya dan orang lain hingga dewasa.
  • Tanggapan orangtua yang meremehkan atau tidak mendengarkan membuat anak bingung dengan emosinya, sulit mengekspresikan perasaan, dan berisiko mengalami gangguan hubungan sosial.
  • Pola asuh serta pengelolaan emosi orangtua yang tidak sehat bisa menurun antar generasi, namun kesadaran dan refleksi dapat membantu menciptakan hubungan keluarga yang lebih hangat dan empatik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Tidak semua luka masa kecil hilang seiring waktu. Ada anak yang masih mengingat dengan jelas rasa sakit, tangisan, hingga perlakuan yang pernah mereka terima dari orangtuanya dulu. Sementara itu, orangtua sering kali sudah tidak mengingat kejadian tersebut.

Situasi ini bisa membuat anak merasa bingung dengan emosinya sendiri. Di satu sisi, luka itu terasa nyata. Namun di sisi lain, tidak ada pengakuan dari orangtua yang membuat anak mempertanyakan perasaannya.

Berikut Popmama.com rangkum hal yang terjadi jika anak memiliki luka di masa kecil dan dampaknya.

1. Anak masih mengingat luka lama

Freepik

Di masa sekarang, kenangan menyakitkan itu bisa muncul tanpa diduga dan memicu emosi seperti sedih atau marah. Anak bisa tiba-tiba teringat hanya karena situasi kecil yang serupa.

Dalam jangka panjang, ingatan tersebut perlahan membentuk cara anak memandang dirinya dan orang lain. Rasa tidak aman bisa membuatnya menjaga jarak atau sulit percaya.

Saat Mama menghadapi kondisi ini, cobalah hadir tanpa menyangkal. Dengarkan dengan tenang, akui perasaannya, dan biarkan anak mengekspresikan apa yang ia rasakan tanpa takut dihakimi.

2. Anak ingat kata yang menyakitkan

Freepik

Ucapan yang pernah melukai hati sering kali terus teringat dan memengaruhi suasana hati anak sehari-hari. Ia bisa menjadi lebih sensitif terhadap perkataan orang lain.

Dalam jangka panjang, hal ini dapat membentuk cara anak berbicara pada dirinya sendiri, bahkan menurunkan rasa percaya diri.

Anak bisa tumbuh dengan pikiran yang cenderung menyalahkan diri. Saat Mama menyadari hal ini, penting untuk mulai membangun komunikasi yang lebih hangat. Mengakui kesalahan dan meminta maaf juga bisa menjadi langkah awal untuk memperbaiki hubungan.

3. Anak merasa tidak didengarkan

Freepik

Ketika usaha anak untuk bercerita tidak mendapat respons yang baik, ia bisa merasa kecewa dan memilih untuk diam. Dalam jangka pendek, anak mungkin menarik diri karena merasa suaranya tidak berarti.

Jika terus terjadi, anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang kesulitan menyampaikan perasaan atau kebutuhan.

Ini juga dapat memengaruhi relasi mereka di masa depan. Saat Mama berada di situasi ini, cobalah benar-benar memberi ruang. Tunjukkan bahwa Mama mendengar, memahami, dan menghargai apa yang ia sampaikan.

4. Anak bingung dengan perasaannya

Freepik/8photo

Respons yang meremehkan bisa membuat anak mempertanyakan emosinya sendiri. Ia menjadi ragu apakah yang dirasakan benar atau hanya berlebihan.

Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat membuat anak sulit mengenali emosinya sendiri dan kebingungan dalam mengelolanya.

Dampaknya bisa terasa pada kesehatan mental. Saat Mama melihat hal ini, bantu anak mengenali perasaannya dengan lebih jelas. Ajarkan bahwa semua emosi valid dan tidak perlu menunggu persetujuan orang lain untuk merasa demikian.

5. Pola asuh diturunkan tanpa sadar

Freepik/Lifestylememory

Banyak orangtua mengasuh dengan cara yang sama seperti yang mereka terima dulu, tanpa disadari. Dalam waktu dekat, pola tersebut terasa wajar dan terus dilakukan.

Namun dalam jangka panjang, pola ini bisa berulang dari generasi ke generasi. Anak yang pernah terluka berpotensi mengulang hal yang sama saat menjadi orangtua.

Saat Mama menyadarinya, penting untuk mulai refleksi. Mencari cara baru yang lebih sehat adalah langkah untuk memutus siklus tersebut.

6. Orangtua sulit mengelola emosi

Freepik/cookie_studio

Reaksi yang meledak atau tidak terkontrol bisa membuat anak merasa tidak nyaman, bahkan takut.

Dalam jangka pendek, anak bisa menjadi lebih waspada terhadap perubahan suasana hati orangtua. Jika berlangsung lama, anak bisa meniru pola tersebut atau justru menekan emosinya sendiri. Hal ini dapat memengaruhi hubungan sosialnya di kemudian hari.

Saat Mama menyadari hal ini, cobalah belajar mengelola emosi secara bertahap. Memberi jeda sebelum bereaksi bisa membantu menciptakan suasana yang lebih aman bagi anak.

7. Anak belajar memahami tapi tetap terluka

Freepik

Ada anak yang mencoba memahami bahwa orangtuanya juga punya pengalaman masa lalu yang tidak mudah. Namun di saat yang sama, ia tetap merasakan luka yang belum selesai.

Dalam jangka pendek, ini bisa menimbulkan konflik batin antara empati dan rasa sakit. Dalam jangka panjang, anak mungkin tumbuh lebih dewasa secara emosional, tetapi masih membawa beban yang belum sepenuhnya pulih.

Saat Mama berada di fase ini, penting untuk diingat bahwa memahami tidak berarti mengabaikan luka. Proses penyembuhan tetap perlu dijalani dengan cara yang sehat.

Pengalaman ini bisa menjadi titik awal untuk memperbaiki pola hubungan dalam keluarga. Saat Mama menyadari hal ini, ada kesempatan untuk menghadirkan pola asuh yang lebih hangat, sehat, dan penuh empati bagi si Kecil.

Sudahkah Mama memutus pola lama yang mungkin menyakiti anak tanpa disadari?

Editorial Team