Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

10 Sikap Orangtua yang Bisa Melukai Psikologis Anak

10 Sikap Orangtua yang Bisa Melukai Psikologis Anak
Freepik
Intinya Sih
5W1H
  • Sikap yang terlihat sepele bagi orangtua ternyata bisa berdampak besar pada kesehatan psikologis anak

  • Konflik, perbandingan, pengabaian emosi, hingga pola asuh yang tidak konsisten dapat membentuk rasa tidak aman dan rendah diri pada anak

  • Dengan lebih sadar dan empati dalam bersikap, orangtua dapat membantu menjaga kesehatan emosional serta kepercayaan diri anak sejak dini

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Orangtua tentu ingin memberikan yang terbaik untuk anak, termasuk dalam mendidik dan membesarkannya.

Namun tanpa disadari, ada beberapa sikap yang terlihat sepele atau bahkan dianggap wajar, tetapi bisa berdampak besar pada kondisi psikologis anak.

Anak mungkin belum mampu memahami situasi secara logis, tetapi mereka sangat peka terhadap suasana dan emosi di sekitarnya.

Berikut Popmama.com rangkum beberapa hal yang bisa melukai psikis anak dan perlu dihindari orangtua.

Table of Content

1. Bertengkar di depan anak

1. Bertengkar di depan anak

Orangtua bertengkar
Freepik

Teriakan, banting pintu, atau diam penuh ketegangan mungkin terlihat seperti konflik biasa bagi orang dewasa.

Namun bagi anak, situasi tersebut terasa seperti dunia yang tiba-tiba tidak aman. Ia belum mampu memahami akar masalah, tetapi bisa merasakan perubahan suasana dan emosi yang intens.

Tidak jarang anak justru menyalahkan diri sendiri atas pertengkaran orangtuanya. Jika hal ini terjadi berulang, rasa cemas dan takut kehilangan bisa terbentuk sejak dini, memengaruhi cara anak memandang hubungan dan rasa aman dalam keluarganya.

2. Membandingkan dengan orang lain

Perbandingan 2 anak
Freepik

Ucapan seperti “Coba lihat kakakmu” atau “Temanmu bisa, kenapa kamu tidak?” sering dianggap sebagai cara memotivasi.

Padahal, yang anak tangkap adalah pesan bahwa dirinya tidak cukup baik. Perbandingan terus-menerus dapat membuat anak merasa kurang berharga dan tidak diterima apa adanya.

Ia bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa kasih sayang dan pengakuan hanya datang jika ia menjadi seperti orang lain.

Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi rasa percaya diri dan membuat anak terus mencari validasi dari luar.

3. Mengabaikan perasaan anak

Anak yang murung
Freepik

Kalimat seperti “Jangan cengeng” atau “Itu hal sepele” mungkin diucapkan tanpa maksud menyakiti.

Namun bagi anak, respons tersebut memberi pesan bahwa perasaannya salah atau berlebihan. Jika hal ini terjadi berulang, anak belajar untuk menekan emosi dan tidak mengekspresikan apa yang dirasakannya.

Ia bisa tumbuh menjadi pribadi yang kesulitan mengenali atau mengelola emosinya sendiri. Padahal, validasi sederhana seperti mendengarkan dan memahami perasaan anak dapat membantu membangun rasa aman secara emosional.

4. Memberi kasih sayang dengan syarat

Anak tersenyum
Freepik/jcomp

Ketika anak hanya dipuji saat berprestasi atau disayang saat patuh, ia bisa memahami bahwa cinta harus diperoleh dengan memenuhi harapan tertentu.

Anak belajar bahwa dirinya diterima bukan karena siapa dirinya, tetapi karena apa yang ia lakukan.

Pola ini dapat membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang selalu ingin menyenangkan orang lain dan takut mengecewakan.

Ia mungkin merasa cemas saat gagal dan kesulitan menerima dirinya sendiri tanpa pencapaian atau pengakuan dari luar.

5. Hukuman fisik

Memukul anak
Freepik

Tamparan, cubitan, atau pukulan dengan alasan “demi kebaikanmu” dapat meninggalkan dampak lebih dari sekadar rasa sakit fisik.

Anak bisa belajar bahwa orang yang mencintainya juga boleh menyakitinya, dan hal tersebut dianggap wajar. Pesan ini berisiko terbawa hingga dewasa, terutama dalam membangun hubungan dengan orang lain.

Selain itu, hukuman fisik sering kali menimbulkan rasa takut, bukan pemahaman. Anak mungkin patuh karena takut, bukan karena mengerti kesalahan dan belajar memperbaikinya.

6. Mengejek atau mempermalukan anak

Memarahi anak
Freepik

Ucapan seperti “Kamu memang selalu bikin masalah” bahkan jika disampaikan dengan nada bercanda, dapat melekat kuat dalam ingatan anak.

Kata-kata orangtua sering menjadi suara batin yang terus ia dengar sepanjang hidup. Jika anak kerap diejek atau dipermalukan, ia bisa tumbuh dengan citra diri negatif dan merasa tidak mampu.

Hal ini dapat memengaruhi keberanian anak untuk mencoba hal baru atau mengekspresikan dirinya. Dukungan dan komunikasi yang penuh empati jauh lebih membantu perkembangan emosinya.

7. Membebani anak dengan masalah dewasa

Anak lelah dimarahi
Freepik/peoplecreations

Menceritakan stres keuangan, konflik rumah tangga, atau menjadikan anak tempat curhat bisa membuatnya memikul beban yang belum siap ia tanggung.

Anak belum memiliki kapasitas emosional untuk memahami kompleksitas masalah orang dewasa.

Ketika ia merasa bertanggung jawab atas situasi tersebut, rasa cemas dan tidak aman bisa muncul.

Ia mungkin tumbuh dengan kecenderungan overthinking dan merasa harus selalu kuat. Padahal, anak seharusnya merasa dilindungi, bukan menjadi penopang emosi orangtuanya.

8. Pola asuh yang tidak konsisten

Anak dimarahi
Freepik

Hari ini dimarahi untuk suatu hal, besok dibiarkan. Pagi dipeluk hangat, malam diteriaki tanpa penjelasan.

Aturan yang berubah mengikuti suasana hati orangtua membuat anak hidup dalam kebingungan. Ia tidak tahu perilaku mana yang dianggap benar atau salah.

Kondisi ini dapat menimbulkan ketegangan karena anak selalu waspada terhadap reaksi orangtuanya.

Dalam jangka panjang, inkonsistensi bisa memengaruhi rasa aman dan kestabilan emosinya, karena ia tidak memiliki pedoman yang jelas.

9. Manipulasi emosional

Anak dimarahi
Freepik

Ucapan seperti “Mama sakit karena kamu” atau “Kalau sayang Mama, turuti” dapat membuat anak merasa bertanggung jawab atas emosi orangtuanya.

Ia belajar bahwa perasaan orang lain adalah beban yang harus ia pikul. Rasa bersalah yang terus-menerus bisa terbentuk dan terbawa hingga dewasa.

Anak mungkin kesulitan menetapkan batasan dalam hubungan karena takut dianggap jahat atau tidak peduli.

Padahal, setiap orang bertanggung jawab atas emosinya sendiri, bukan dibebankan pada anak.

10. Mempermalukan anak di depan orang lain

Anak merasa malu
Freepik/DC studio

Mengejek ketakutan, kesalahan, atau tangisan anak di depan orang lain bisa membuatnya merasa bahwa terlihat adalah sesuatu yang berbahaya.

Ia belajar bahwa menjadi dirinya sendiri dapat mengundang rasa malu. Dampaknya, anak bisa memilih menarik diri dan menjadi sangat pendiam, atau sebaliknya membangun “topeng” untuk melindungi dirinya.

Rasa malu yang ditanamkan sejak kecil dapat memengaruhi kepercayaan diri dan cara anak berinteraksi sosial di kemudian hari.

Setiap orangtua tentu pernah melakukan kesalahan. Namun menyadari dan memperbaikinya adalah langkah penting untuk menjaga kesehatan emosional anak.

Menurut Mama, kebiasaan mana yang paling perlu dihindari dalam pola asuh sehari-hari?

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Latest in Big Kid

See More