Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
7 Jenis Makanan yang Perlu Dibatasi agar Ginjal Anak Tetap Sehat
Pexels/Pavel Danilyuk
  • IDAI menegaskan sebagian besar kasus cuci darah pada anak disebabkan kelainan bawaan atau kondisi medis, bukan karena konsumsi jajanan tertentu.

  • Kemenkes RI mengimbau orangtua membatasi asupan gula, garam, dan lemak agar kesehatan ginjal anak tetap terjaga.

  • 7 makanan yang perlu dibatasi meliputi makanan ultraproses, daging olahan, mi instan, camilan tinggi garam, minuman bersoda, fast food, serta makanan tinggi gula.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Ramainya berita anak yang harus menjalani cuci darah tentu membuat banyak orangtua khawatir. Namun, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan bahwa sebagian besar kasus tersebut berkaitan dengan kelainan bawaan atau kondisi medis tertentu, bukan akibat langsung dari mengonsumsi jajanan tertentu. Karena itu, Mama tidak perlu panik berlebihan.

Meski begitu, pola makan anak tetap perlu diperhatikan. Kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak secara berlebihan dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan yang pada akhirnya ikut memengaruhi kesehatan ginjal.

Karena itulah, Kementerian Kesehatan RI mengimbau orangtua untuk membatasi asupan gula, garam, dan lemak pada anak.

Lalu, makanan apa saja yang sebaiknya dibatasi?

Berikut popmama.com telah merangkum 7 jenis makanan yang perlu dibatasi agar ginjal anak tetap sehat.

1. Makanan ultraproses

Pexels/Kindel Media

Makanan ultraproses, seperti camilan kemasan dan es krim, memang praktis dan disukai anak-anak. Namun, jenis makanan ini umumnya mengandung gula, garam, lemak jenuh, serta berbagai bahan tambahan dalam jumlah tinggi sehingga kurang baik jika dikonsumsi terlalu sering.

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), kebiasaan mengonsumsi makanan olahan secara berlebihan dapat meningkatkan risiko obesitas, resistensi insulin, dan tekanan darah tinggi pada anak.

Berbagai kondisi tersebut dapat membebani kerja ginjal dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan di kemudian hari.

Mama tidak harus melarang anak menikmati camilan favoritnya. Cukup batasi dan membiasakan anak mengonsumsi lebih banyak real food Ma.

2. Daging olahan (sosis, ham, dan nugget)

Pexels/Susanne Jutzeler, suju-foto

Daging olahan seperti sosis, ham, dan nugget sering menjadi pilihan praktis untuk bekal anak. Namun, jenis makanan ini umumnya mengandung natrium yang cukup tinggi agar cita rasa dan masa simpannya lebih tahan lama.

Jika terlalu sering dikonsumsi, asupan natrium meningkatkan risiko tekanan darah tinggi. Dan membebani kerja ginjal serta meningkatkan risiko gangguan pada fungsi penyaringannya.

Sesekali mengonsumsi daging olahan tentu tidak masalah. Namun, saat Mama secara perlahan mulai menyajikan protein, seperti ayam, ikan, telur, kebutuhan gizi anak terpenuhi.

3. Mi instan

Pexels/Gu Ko

Mi instan sering menjadi pilihan praktis saat Mama tidak sempat memasak atau ketika anak sedang pilih-pilih makanan. Namun, dibalik kepraktisannya, mi instan umumnya mengandung natrium yang cukup tinggi, terutama pada bumbu penyedapnya.

Jika terlalu sering dikonsumsi, asupan natrium berlebih dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi. Seiring waktu, kondisi ini dapat membuat ginjal bekerja lebih keras untuk menjaga keseimbangan cairan dan mineral di dalam tubuh.

Mama bisa membatasinya dan mulai menyajikan mi buatan sendiri dengan tambahan sayuran, telur, atau ayam agar gizinya lebih seimbang.

4. Keripik dan camilan tinggi garam

Pexels/Natali Yakovleva

Keripik kentang memang sering menjadi camilan bermain anak. Sayangnya, camilan ini mengandung natrium yang cukup tinggi, meski porsinya kecil.

Jika dikonsumsi terlalu sering, asupan natrium dapat menumpuk dan membuat ginjal bekerja lebih keras untuk menjaga keseimbangan cairan di dalam tubuh. Kebiasaan ini meningkatkan risiko tekanan darah tinggi yang berdampak pada kesehatan ginjal.

Sebagai gantinya, Mama bisa menyediakan camilan yang lebih bernutrisi, seperti potongan buah segar, jagung rebus, ubi panggang, atau yoghurt tanpa tambahan gula berlebih.

5. Minuman bersoda

Pexels/Towfiqu barbhuiya

Minuman bersoda terasa menyegarkan, terutama saat cuaca panas. Namun, jenis minuman ini mengandung gula tambahan yang tinggi dan hampir tidak memberikan manfaat gizi bagi tumbuh kembang anak.

Jika dikonsumsi sering, asupan gula berlebih dapat meningkatkan risiko obesitas, resistensi insulin, hingga diabetes.

Kondisi tersebut bisa memengaruhi kesehatan tubuh secara menyeluruh, termasuk meningkatkan beban kerja ginjal dalam jangka panjang.

Sesekali menikmati minuman bersoda tidak menjadi masalah. Namun, akan lebih baik jika Mama membiasakan anak memilih air putih sebagai minuman utama agar kebutuhan cairan hariannya tetap terpenuhi.

6. Makanan cepat saji (fast food)

Pexels/Ricardo Suarez

Makanan cepat saji atau fast food memang menjadi pilihan praktis saat Mama sedang sibuk atau ingin mengajak anak makan di luar. Namun, menu seperti burger hingga kentang goreng umumnya mengandung kombinasi natrium, gula, dan lemak jenuh yang cukup tinggi.

Jika terlalu sering dikonsumsi, pola makan seperti ini dapat meningkatkan risiko obesitas dan tekanan darah tinggi.

Penting untuk Mama membatasi dan menyeimbangkannya dengan makanan bergizi, seperti sayur, buah, serta protein agar kebutuhan nutrisinya terpenuhi.

7. Makanan tinggi gula

Pexels/Julia Filirovska

Permen dan aneka pastry memang menjadi camilan favorit banyak anak. Meski boleh dinikmati sesekali, makanan tinggi gula sebaiknya tidak dikonsumsi terlalu sering, Ma.

Konsumsi gula berlebih dapat meningkatkan risiko obesitas, resistensi insulin, hingga diabetes. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kesehatan berbagai organ, termasuk meningkatkan beban kerja ginjal.

Mama bisa membiasakan anak mengonsumsi camilan yang lebih bernutrisi, seperti buah segar atau yoghurt tanpa tambahan gula berlebih, dapat menjadi langkah sederhana untuk membantu menjaga kesehatan ginjalnya.

Menjaga kesehatan ginjal anak bisa dimulai dari kebiasaan makan sehari-hari. Karena itu, penting bagi Mama untuk lebih bijak dalam membatasi makanan tinggi gula, garam, dan lemak agar risiko gangguan kesehatan di kemudian hari dapat diminimalkan.

Yuk, mulai terapkan pola makan sehat di rumah agar kesehatan ginjal anak tetap terjaga seiring pertumbuhannya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article