Kelihatan Sepele, Oversharing Anak di Media Sosial Bahayakan Privasi

- Unggahan sederhana seperti foto berseragam sekolah atau check-in lokasi dapat membuka pola aktivitas anak yang berisiko bagi keamanannya.
- Konten yang dibagikan orangtua hari ini bisa memicu perundungan atau rasa tidak nyaman bagi anak saat ia tumbuh besar.
- Identitas dan visual anak berpotensi dimanfaatkan untuk grooming, penipuan, hingga eksploitasi online jika tidak dibatasi.
Kebiasaan membagikan momen anak di media sosial sering kali dilakukan dengan niat baik. Mulai dari foto lucu, cerita keseharian, hingga pencapaian anak, semuanya terasa layak dibagikan sebagai bentuk kebanggaan orangtua.
Namun dibalik itu, ada risiko besar yang kerap luput disadari. Data dan jejak digital anak bisa terbuka lebar akibat oversharing. Bukan hanya soal privasi, tapi juga keselamatan anak secara fisik, psikologis, hingga sosial.
Berikut Popmama.com rangkum tentang bahaya oversharing anak di media sosial yang perlu orangtua pahami.
1. Oversharing bisa membuka lokasi dan rutinitas anak

Konten yang terlihat sepele seperti foto anak berseragam sekolah, unggahan check-in lokasi, atau sekedar story “lagi di sini” ternyata bisa menjadi petunjuk lengkap bagi pihak tidak bertanggung jawab. Dari satu unggahan saja, orang lain bisa menebak sekolah, jam berangkat, hingga kebiasaan harian anak.
Ketika rutinitas anak terekam jelas di ruang digital, risiko keamanan pun meningkat. Informasi ini bisa dimanfaatkan untuk menguntit, menipu, atau bahkan melakukan tindakan kriminal terhadap anak.
2. Identitas anak sebaiknya dibuat seanonim mungkin di dunia digital

Menyebut nama lengkap, umur, kelas, sekolah, atau alamat anak dalam satu unggahan dapat membentuk profil digital yang utuh. Semakin lengkap identitas yang dibagikan, semakin kecil perlindungan privasi anak.
Prinsip anonim menjadi sangat penting. Tanpa seragam sekolah, papan nama, atau penanda lokasi, risiko penyalahgunaan data anak bisa ditekan. Anak berhak memiliki ruang digital yang aman, meski orangtuanya aktif di media sosial.
3. Jejak digital bisa berdampak panjang bagi masa depan anak

Apa yang diunggah hari ini belum tentu bisa dihapus sepenuhnya di masa depan. Konten yang terlihat lucu sekarang, bisa berubah menjadi sumber rasa malu, perundungan, atau penilaian negatif ketika anak tumbuh besar.
Jejak digital bersifat permanen. Karena itu, orangtua perlu mempertimbangkan dampak jangka panjang sebelum membagikan momen anak, terutama yang memperlihatkan kondisi rentan seperti saat menangis, sakit, tidur, atau berpakaian minim.
4. Konten anak berpotensi disalahgunakan untuk eksploitasi digital

Foto, cerita, dan data anak bisa dimanipulasi untuk berbagai kejahatan digital, mulai dari penipuan, grooming, deepfake, hingga eksploitasi seksual online. Laporan global mencatat puluhan juta dugaan eksploitasi seksual anak daring setiap tahun, termasuk jutaan kasus di Indonesia.
Yang sering dianggap “cuma foto biasa” bisa menjadi bagian dari database bagi pelaku kejahatan. Jika sebuah konten berpotensi disalahgunakan, maka sebaiknya tidak dibagikan sama sekali.
Itulah tadi bahaya oversharing anak di media sosial yang perlu orangtua pahami. Semoga membantu ya!


















