Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

Tarian Tradisional Tionghoa yang Menggunakan Kostum Singa saat Imlek

Barongsai dalam perayaan Imlek
Popmama.com/Amsal Hutagalung/AI
Intinya sih...
  • Mitos dan kepercayaan di balik Barongsai
  • Sejarah historis dan simbolisme singa dalam budaya Tionghoa
  • Tarian singa berusia lebih dari 1.000 tahun dengan status sakral
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Perayaan Imlek, sering kali identik dengan hari yang meriah dan berwarna dipenuhi dengan hiasan ornamen merah menyala sebagai simbol semangat dalam menyambut tahun baru.

Imlek tentu tak lengkap tanpa hadirnya peragaan dengan kostum singa yang menampilkan berbagai aksi memukau atau biasa disebut sebagai Barongsai.

Atraksi ini bukan sekadar hanya hiburan semata, melainkan bagian penting dari ritual budaya yang sarat makna simbolis. Gerakan lincah, irama tabuhan genderang yang meriah serta interaksi Barongsai dengan lingkungan sekitar, dipercaya mampu mengusir energi negatif sekaligus mengundang keberuntungan dan kemakmuran.

Untuk mengetahui tradisi ini lebih lanjut, berikut ini Popmama.com telah merangkum informasi penting tarian tradisional menggunakan kostum singa yang perlu Mama tahu. Disimak, ya!

Table of Content

1. Mitos dan kepercayaan

1. Mitos dan kepercayaan

tulisan berbahasa China
Freepik

Di balik kemeriahan tabuhan drum dan atraksi Barongsai yang memukau, tersimpan sebuah legenda kuno yang sarat makna dan filosofi. Kisah ini berakar dari sebuah desa di Tiongkok kuno, di mana setiap malam menjelang pergantian tahun selalu diliputi rasa cemas. Ketakutan tersebut, muncul akibat kehadiran makhluk misterius yang kerap datang tanpa peringatan, merusak ladang pertanian, menghancurkan tanaman, bahkan memangsa hewan ternak milik penduduk.

Karena kemunculannya selalu bertepatan dengan pergantian tahun, penduduk desa kemudian menamai makhluk tersebut Nián (年), yang dalam bahasa Mandarin berarti “tahun”.

Dipercaya mahkluk ini memilki kelemahan terhadap merah cerah, cahaya terang serta suara berisik. Hal ini terus dipercaya hingga kini dan menjadi suatu perayaan yang dikenal sebagai Imlek.

2. Sejarah historis

bentuk bangunan di China
Popmama.com/Amsal Hutagalung/AI

Secara historis, Singa tidak pernah hidup secara alami di wilayah Tiongkok. Namun, kehadiran hewan ini justru memiliki perjalanan budaya yang panjang dan signifikan. Asal-usul Singa dalam kebudayaan Tionghoa perkembang pada masa Dinasti Han (202 SM–220 M), ketika Jalur Sutra mulai berkembang sebagai jalur perdagangan dan diplomasi yang menghubungkan Tiongkok dengan Asia Tengah, Persia, hingga Eropa.

Pengaruh lain yang turut memperkuat posisi singa dalam budaya Tionghoa datang dari ajaran Buddhisme, yang mulai berkembang pesat di Tiongkok pada akhir Dinasti Han. Dalam tradisi Buddha, hewan ini dipandang sebagai makhluk suci yang melambangkan keberanian, kebijaksanaan dan perlindungan terhadap kebenaran.

Istilah “raungan singa” bahkan digunakan untuk menggambarkan ajaran Buddha yang kuat dan dipercaya mampu mengusir kejahatan. Perpaduan antara simbol kekaisaran dan makna spiritual inilah yang kemudian menjadikan singa sebagai figur penting dalam seni, arsitektur dan ritual Tionghoa.

3. Tarian singa berusia lebih dari 1.000 Tahun

festival Lion Dancing
Freepik

Tarian singa diperkirakan telah berkembang lebih dari seribu tahun lalu, bermula sejak simbol singa meresap pertama kali di lapisan masyarakat Tionghoa melalui jalur perdagangan.

Catatan sejarah dari periode Tiga Kerajaan (220–280 M), mengindikasikan bahwa pertunjukan menggunakan kostum singa dahulu digunakan dalam upacara keagamaan sebagai lambang keberanian dan perlindungan spiritual.

Namun, tarian ini baru mencapai puncak kemegahannya pada era Dinasti Tang (618–907 M), sebuah masa keemasan di mana tarian singa menjadi bagian resmi dari ritual istana kekaisaran yang megah. Pada periode inilah, kostum singa mulai dibuat lebih kompleks, lengkap dengan mekanisme mata yang dapat digerakkan serta iringan musik tabuhan drum dan gong yang terstruktur untuk menciptakan suasana yang meriah.

4. Dipercaya sebagai hewan sakral

orang Tionghoa beribadah
Popmama.com/Amsal Hutagalung/AI

Dalam kebudayaan Tiongkok, Barongsai tidak dipandang sekadar sebagai seni pertunjukan saja Ma, melainkan memiliki status sakral yang sarat akan makna filosofis mendalam. Singa, yang direpresentasikan melalui Barongsai, menempati posisi simbolik sebagai pelindung dan pembawa keberuntungan keluaraga. Bahkan dalam hierarki simbolik budaya Tionghoa, singa kerap disejajarkan dengan makhluk mitologis lain yang sangat dihormati, seperti Naga (lóng), Phoenix (fènghuáng), dan qílín.

Menariknya, lambang dan simbol singa kerap kali digunakan di berbagai sudut rumah, konon dipercaya akan membawa keberuntungan dan penjagaan.

Hal ini tercermin dari keberadaan patung singa penjaga yang dikenal dengan istilah shi shi, yang biasanya ditempatkan di depan gerbang istana, kuil, hingga rumah-rumah sebagai benteng spiritual. Singa dipercaya memiliki insting tajam untuk menghalau pengaruh buruk agar tidak memasuki wilayah dan rumah.

5. Upacara khusus sebelum pertunjukan

orang Tionghoa sedang berdoa
Popmama.com/Amsal Hutagalung/AI

Sama seperti pertunjukan pada umumnya, Barongsai memiliki serangkaian prosesi yang wajib dilaksanakan sebelum menampilkan atraksi utama di hadapan masyarakat. Sebelum pertunjukan dimulai, Barongsai terlebih dahulu melalui sebuah upacara khusus yang bersifat sakral.

Upacara ini dikenal sebagai kāi guāng atau dianjing, yang secara harfiah berarti membuka cahaya atau membuka mata. Ritual ini dipercaya, bertujuan untuk membangunkan singa dan mengundang energi positif serta roh-roh pelindung agar bersemayam secara simbolis di dalam Barongsai selama pertunjukan berlangsung.

Dalam prosesi ini, seorang tokoh yang dihormati seperti pemuka agama, tetua adat atau tokoh masyarakat, akan melakukan pemberkatan dengan menggunakan kuas yang dicelupkan ke dalam tinta merah atau air suci. Kuas tersebut disentuhkan pada bagian mata, telinga, mulut dan dahi kepala Barongsai. Setiap sentuhan memiliki makna tersendiri, seperti membuka penglihatan agar singa mampu membedakan baik dan buruk, mempertajam pendengaran terhadap doa-doa, serta memberi kemampuan untuk membawa berkah dan menolak bala.

6. Kepribadian dalam tradisi Barongsai

perayaan tahun baru Imlek
Popmama.com/Amsal Hutagalung/AI

Menariknya dalam tradisi ini, kepribadian singa tidak hanya dibentuk oleh gerakan tari tetapi juga dipengaruhi oleh aliran pertunjukan yang digunakan. Secara umum, Barongsai terbagi menjadi dua aliran utama, yaitu Barongsai Utara dan Barongsai Selatan yang masing-masing memiliki karakter, gaya gerak serta makna simbolik yang berbeda.

Barongsai aliran Utara atau Běi Shī dikenal secara luas melalui gerakannya yang dinamis serta sarat akan unsur akrobatik yang memukau. Pertunjukan ini banyak melibatkan lompatan tinggi, keseimbangan ekstrem hingga atraksi fisik yang menuntut kekuatan serta ketangkasan dari para penarinya. Karena karakteristik tersebut, singa Utara sering kali digambarkan memiliki kepribadian yang lebih ganas, berani, dan dominan dalam menguasai arena.

Berbeda dengan saudaranya dari utara, Barongsai aliran Selatan atau Nán Shī menampilkan karakter yang jauh lebih ekspresif, komunikatif, dan bersahabat bagi para penonton. Gerakannya lebih menekankan pada detail ekspresi wajah, permainan mata yang berkedip, gerak telinga serta interaksi langsung yang hangat dengan publik di sekitarnya. Tak jarang, singa Selatan digambarkan memiliki sifat yang lucu, cerdas, dan penuh rasa ingin tahu, sehingga sangat mudah menarik perhatian serta antusiasme anak-anak.

7. Dikaitkan dengan tokoh legendaris

ilustrasi tokoh penting China
Popmama.com/Amsal Hutagalung/AI

Kepribadian singa Barongsai Selatan atau Nán Shī, kerap dikaitkan dengan tokoh-tokoh legendaris dari periode Tiga Kerajaan Tiongkok. Liu Bei, Guan Yu, dan Zhang Fei.

Setiap tokoh direpresentasikan melalui warna serta ekspresi wajah yang berbeda guna mencerminkan nilai moral tertentu. Singa Guan Yu (Guan Gong) yang didominasi warna merah dan hitam melambangkan kesetiaan serta keadilan.

sementara singa Liu Bei dengan warna kuning atau emas mencerminkan kebijaksanaan dan kepemimpinan yang penuh welas asih. Di sisi lain, singa Zhang Fei yang berwajah hitam dengan ekspresi tegas menjadi simbol keberanian spontan serta kejujuran yang lugas.

8. Gabungan dari beberapa makhluk mitologi

Barongsai merah menari
Popmama.com/Amsal Hutagalung/AI

Meski sering disebut sebagai singa, Barongsai konon dipercayai bukan representasi satu hewan tunggal. Dalam tradisi Tionghoa, Barongsai dinilai sebagai makhluk simbolik yang tersusun dari gabungan beberapa hewan dan makhluk mitologis, yang masing-masing merepresentasikan nilai kehidupan dan keseimbangan alam semesta.

Setiap bagian tubuh Barongsai dirancang dengan makna filosofis yang mendalam, sehingga kehadirannya dipercaya membawa perlindungan, keberuntungan, dan keharmonisan.

Tanduk atau jambul di kepala Barongsai melambangkan kehidupan dan regenerasi, sementara telinga dan ekornya dipercaya mewakili kebijaksanaan serta keberuntungan. Tulang belakang yang lentur dianalogikan dengan ular, sebagai simbol kelincahan dan kemakmuran. Punuk di belakang kepala terinspirasi dari kura-kura yang melambangkan umur panjang dan ketahanan, sedangkan dahi dan jenggot mencerminkan karakter naga sebagai simbol kepemimpinan, kekuatan, dan kewibawaan.

9. Instrumen musik dalam pertunjukan tarian Barongsai

alat musik khas China
Popmama.com/Amsal Hutagalung/AI

Selain warna kostum yang mencolok dan gerakan tari yang memukau, kemeriahan pertunjukan Barongsai juga dikenal melalui iringan musik tradisional yang penuh energi. terdapat tiga instrumen musik utama yang selalu hadir dalam pertunjukan ini, yaitu Drum (tambur), Simbal dan Gong.

Dalam kepercayaan tradisional Tionghoa, suara keras dari drum, simbal dan gong juga dipercaya memiliki kekuatan spiritual untuk mengusir roh jahat dan energi negatif. Iringan musik Barongsai tidak hanya memiliki fungsi artistik, tetapi juga makna simbolis sebagai doa akan keselamatan, keberuntungan, dan kemakmuran. Harmoni antara gerakan Barongsai dan iringan musik inilah yang menjadikan setiap pertunjukan terasa hidup, penuh makna dan berkesan bagi masyarakat yang menyaksikan.

10. Berat kostum pada Barongsai

Barongsai sedang menari
Popmama.com/Amsal Hutagalung/AI

Meski tampak ringan dan lincah saat melompat serta melakukan berbagai atraksi akrobatik, kepala Barongsai sebenarnya memiliki bobot yang cukup berat Ma. Kepala Barongsai umumnya berbobot sekitar 2 hingga 7 kilogram.

Kepala Barongsai modern biasanya terbuat dari campuran bubur kertas yang dipadatkan, rangka bambu atau logam ringan. Bobot besar ini menuntut kekuatan fisik luar biasa dari pemain, khususnya pada bagian kepala yang harus menopang beban sambil bergerak lincah, melompat di atas tiang.

Tak heran jika para pemain Barongsai umumnya memiliki latar belakang bela diri, terutama Wu Shu (Wushu) atau kungfu. Latihan bela diri yang membantu membentuk kekuatan otot punggung, kaki, dan inti tubuh.

Itulah ma, deretan informasi mengenai tarian tradisional menggunakan kostum singa. Semoga dengan makna pada perayaan ini, dapat menjadi motivasi untuk menjalankan tahun degan penuh harapan.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Latest in Big Kid

See More

Makanan Imlek Apa Aja? Yuk, Kenalan dengan 10 Hidangan Istimewanya

05 Feb 2026, 15:32 WIBBig Kid