"Komunikasi dua arah biar anaknya tau apa yang kita maksud dan kita juga harus mengerti apa yang mereka mau."
Junior Liem dan Irma Rihi Ungkap Pesan Film Na Willa

Film Na Willa mengajak orangtua untuk kembali memahami dunia dari sudut pandang anak demi membangun kedekatan keluarga yang lebih baik
Memahami cara pandang anak adalah langkah awal untuk membangun komunikasi yang lebih sehat dalam keluarga
Dengan memahami perspektif anak, orangtua tidak hanya mendidik, tapi juga belajar dari cara mereka memandang kehidupan
Sebagai orangtua yang sibuk dengan rutinitas sehari-hari, mungkin komunikasi dengan anak hanya berjalan satu arah. Orangtua bicara, anak mendengar. Padahal, ada cara yang lebih baik untuk membangun kedekatan dengan si kecil.
Pentingnya komunikasi dua arah antara orangtua dan anak menjadi salah satu nilai yang diangkat dalam film Na Willa. Bahkan para aktor yang terlibat mengaku mendapat banyak pembelajaran berharga tentang parenting selama proses syuting.
Junior Liem dan Irma Rihi mengungkap pesan utama film Na Willa dalam wawancara eksklusif yang berlangsung di Sekolah Kembangan, Kemang pada Rabu (4/2/2026).
Berikut Popmama.com rangkum insight mereka tentang pentingnya komunikasi dua arah dan melihat dunia dari sudut pandang anak.
Table of Content
1. Mengingat kembali masa kecil untuk lebih dekat dengan anak

Nilai yang ingin disampaikan bukan sekadar untuk anak-anak, tapi untuk seluruh keluarga.
Junior menjelaskan bahwa harapannya adalah orang bisa mengingat masa-masa kecil mereka. Masa-masa ketika mereka jadi anak, bukan sebagai orangtua.
Selain itu, Junior juga ingin orangtua bisa mengingat kembali kedekatan-kedekatan ketika posisi mereka masih sebagai anak, walaupun sekarang sudah menjadi orangtua.
Irma Rihi merangkum konsep ini dengan sederhana, "Kembali jadi anak-anak."
Dengan mengingat bagaimana dulu diperlakukan sebagai anak dan bagaimana merasakan kedekatan dengan orangtua waktu itu, orangtua bisa membangun hubungan yang sama dengan anak sekarang.
2. Anak punya cara pandang sendiri yang perlu dipahami

Orangtua sering menganggap anak belum mengerti apa-apa karena masih kecil.
Padahal, menurut Junior, anak sebenarnya memiliki kebebasan, cara pandang sendiri, dan rasa penasaran yang tinggi.
Ketika mereka melakukan sesuatu, ada alasan di baliknya, mereka ingin tahu kenapa. Orangtua tidak boleh berasumsi anak tidak mengerti hanya karena usia mereka.
Anak memiliki kemampuan untuk memahami, hanya saja dengan cara mereka sendiri yang berbeda dari orang dewasa.
3. Pentingnya komunikasi dua arah

Irma menjelaskan pentingnya komunikasi dua arah dalam keluarga.
Orangtua tidak hanya memberi perintah atau larangan satu arah, tetapi juga perlu memahami keinginan dan sudut pandang anak. Junior memberikan contoh konkret.
Misalnya ketika anak menjatuhkan gelas. Orangtua tidak bisa langsung memarahi anak karena anak melihat situasi dengan cara berbeda. Anak mungkin belum tahu konsekuensi dari tindakan mereka karena orangtua tidak pernah menjelaskan bahwa gelas yang jatuh bisa pecah.
Di sinilah pentingnya komunikasi dua arah, orangtua perlu menjelaskan alasan di balik larangan, dan anak perlu ruang untuk bertanya.
Irma menambahkan bahwa dengan pendekatan ini, orangtua tidak akan dicap otoriter, melainkan sosok yang mau berdiskusi. Anak pun bisa menganggap orangtua sebagai teman yang bisa dipercaya.
4. Belajar melihat dunia dari perspektif anak

Irma menjelaskan bahwa setiap orangtua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Apapun bentuk didikannya, pasti ada sisi baik yang bisa diambil. Anak bisa menyaring mana yang baik untuk diterapkan dan mana yang buruk untuk dibuang demi kebaikan mereka sendiri.
"Di film Na Willa ini kalian akan belajar banyak tentang bagaimana kalian melihat dunia, gimana kalian menanggapi itu, masalah-masalah yang ada. Dan ya unik banget film ini tuh dari sudut pandang anak-anak," tambah Irma.
Dengan memahami perspektif anak, orangtua tidak hanya mendidik, tapi juga belajar dari cara mereka memandang kehidupan.
Pada akhirnya, kunci dari semua ini adalah kesediaan Mama untuk benar-benar mendengarkan dan memahami anak. Apakah Mama sudah menerapkan komunikasi dua arah dan mencoba melihat dunia dari sudut pandang anak?


















