Apa Itu Consent? Penting Diajarkan kepada Anak Laki-Laki Sejak Kecil

Pendidikan seksual seringkali baru diberikan di sekolah dan fokusnya cenderung pada pencegahan dari sisi korban.
Padahal, untuk memutus rantai kekerasan seksual, pendidikan kepada calon pelaku potensial juga sama pentingnya, Ma.
Tak hanya perempuan, pelaku kekerasan seskual juga banyak dialami anak laki-laki. Itulah mengapa mengajarkan konsep consent atau persetujuan pada anak laki-laki sejak dini adalah langkah kunci pencegahan yang tepat.
Untuk bisa diajarkan pada anak mama di rumah, simak informasi selengkapnya yang telah Popmama.com rangkumkan berikut ini, ya.
1. Apa itu konsep consent yang perlu diajarkan ke anak sejak dini?

Consent adalah persetujuan yang diberikan secara sadar, sukarela, antusias, dan tanpa paksaan terutama untuk sentuhan fisik.
Ini penting untuk meluruskan pemahaman yang salah ketika korban lebih banyak diam, bukan berarti tandanya setuju. Seseorang bisa diam karena takut atau bingung.
"Takut" juga bukan berarti "mau". Persetujuan yang didapat dengan paksaan adalah tidak valid ya, Ma.
Dengan memahami ini, anak laki-laki bisa belajar bahwa setiap orang punya hak atas tubuhnya sendiri, sehingga anak tumbuh dengan rasa hormat terhadap batasan diri sendiri dan orang lain.
2. Ajarkan consent dalam kehidupan sehari-hari

Ajaran consent mungkin tak selalu diajarkan dalam pendidikan formal, tapi Mama dan Papa bisa memulai dari hal kecil di rumah.
Pertama, selalu minta izin sebelum menyentuh anak. Misalnya, tanyakan "Mama mau peluk boleh, nggak?" sebelum memeluknya. Ini adalah contoh nyata menghormati batasan.
Kedua, langsung hentikan sentuhan saat anak Mama berkata "nggak mau", "stop", atau menggeleng. Dengan ini, ia belajar bahwa kata "tidak" adalah batasan yang harus dihormati, dan ia berhak menolak sentuhan yang tak diinginkan.
Ketiga, puji dan dukung saat ia menyuarakan keinginannya. Misalnya berkata, "Aku mau digandeng" atau "Aku nggak mau dicium", validasi perasaannya. Ini menguatkan pemahaman bahwa ia punya kendali penuh atas tubuhnya.
3. Ajarkan prinsip tubuhnya itu berharga dan hanya milik sendiri

Nggak cuma pada anak perempuan, anak laki-laki juga perlu diajari melindungi diri, Ma. Tegaskan bahwa tubuhnya adalah miliknya sendiri dan tidak semua orang boleh menyentuh area tubuh yang privat.
Bukan berarti ajaran ini membuatnya takut ya, Ma, justru bisa membuatnya jadi lebih waspada.
Mama bisa mulai dengan membuat "lingkaran orang aman" yang merupakan daftar 3-5 orang terpercaya seperti Mama, Papa, Nenek yang bisa ia mintai tolong jika merasa tidak nyaman.
Nah, yang nggak kalah penting adalah mengajarkan anak nama anatomi tubuh yang benar agar ia bisa berkomunikasi dengan jelas.
Jelaskan bahwa sentuhan yang baik tidak membuatnya ragu atau takut karena sentuhan yang aman adalah yang ia izinkan, tidak menyakitkan, dan tidak perlu dirahasiakan.
Dengan mengajarkan prinsip terkait tubuhnya sendiri, ini bisa membantu melindunginya dan mengajarkannya untuk menghormati orang lain.
4. Peran orangtua sebagai orang dewasa yang membuatnya aman

Anak mencontoh perilaku orangtuanya. Itulah mengapa kita perlu menjadi contoh prangd ewasa yang aman untuk menghormatinya, Ma.
Jika anak berkata "tidak", maka kita perlu menghormati pilihannya dan tidak memaksa pelukan atau ciuman, serta jadilah pendengar yang sabar tanpa menghakimi.
Sangat penting untuk tidak memintanya menyimpan rahasia yang membuatnya tidak nyaman, terutama terkait sentuhan. Bedakan antara rahasia baik seperti kejutan dan rahasia buruk yang justru bikin dirinya takut.
Dengan menjadi pendengar yang baik tanpa menghakimi, anak bisa memastikan bahwa ia tahu Mama selalu siap mendengarnya.
Dengan memberikan contoh nyata, Mama mengajarkan bahwa kekuatan dan kasih sayang diekspresikan dengan cara menghormati, bukan memaksa. Ini adalah fondasi terkuat untuk membentuk karakternya.
5. Stop normalisasi lingkungan yang tidak mendukung anak

Lingkungan sekitar seringkali tanpa sadar mengajarkan hal yang salah, sehingga anak bisa beranggapan bahwa perilaku tidak menghormati itu "wajar" untuk anak laki-laki.
Jika kita tak bisa mengendalikan omongan orang lain di luar keluarga, maka kita bisa memulainya dari keluarga dengan menghentikan candaan seperti "Dasar cowok!" atau "Nanti kalau gede pasti jago ngegombal."
Tegaskan bahwa kekerasan itu selalu salah dan bukan kesalahan korban. Jangan biarkan kalimat "namanya juga cowok" menjadi pembenaran. Sebaliknya, tanamkan empati dengan bertanya, "Kalau kamu diperlakukan seperti itu juga, sedih nggak?"
Dengan stop menormalisasi perilaku seperti ini dan mulai konsisten menyuarakan nilai hormat-menghormati, anak laki-laki mama akan tumbuh menjadi pribadi yang aman bagi orang lain.
Ia belajar bahwa menjadi laki-laki sejati adalah tentang tanggung jawab dan empati, bukan dominasi. Dengan demikian, itulah mengapa alasan pentingnya mengajarkan consent pada anak laki-laki sejak dini.
Mengajarkan hal ini pada anak sangat berperan penting untuk tumbuh kembang masa depan dalam membentuknya menjadi laki-laki yang berempati dan menghormati batasan diri sendiri serta orang lain.


















