Saatnya Bagi Rapor! Ini 5 Cara Menghadapi Nilai Anak yang Kurang Baik

Tidak perlu memperkeruh suasana, Ma!

19 Desember 2018

Saat Bagi Rapor Ini 5 Cara Menghadapi Nilai Anak Kurang Baik
Freepik/peoplecreations

Walau Mama menerapkan cara belajar yang sama pada anak-anak Mama, namun Mama tidak bisa memaksakan hasilnya akan selalu sama (dan baik). Beda anak, tentu beda pula kemampuannya.

Inilah yang sering dilupakan para orangtua ketika mendapati nilai-nilai kurang memuaskan di rapor anak.

“Kamu pasti enggak perhatikan Ibu Guru dengan baik nih di kelas, makanya nilainya banyak yang jelek!” atau mungkin ada juga Mama yang bilang, “Sudah les privat, nilainya masih jelek juga! Keterlaluan deh kamu!”

Semoga kalimat seperti itu tidak pernah keluar dari mulut Mama, ya. Karena kalimat menjatuhkan seperti itu tidak akan mengubah nilai anak menjadi lebih baik, dan justru membuat anak patah semangat.

Di lain sisi, kami mengerti rasa kesal Mama yang telah memberikan semua hal terbaik untuk pendidikan anak, namun hasilnya tidak sesuai harapan. Kami juga mengerti kalau Mama merasakan kekhawatiran mendalam ketika melihat rapor anak kurang baik.

“Masih SD saja nilainya sudah jelek, bagaimana dia bisa masuk kampus terbaik kelak? Bisa-bisa anakku susah dapat pekerjaan kalau sudah besar nanti.” Mungkin sejauh itu rasa kalut yang ada di benak Mama, ya.

Namun percayalah, Ma, kalimat menghujat anak justru hanya memperkeruh suasana, bukan memotivasi anak untuk menjadi lebih baik.

Lalu bagaimana cara tepat menghadapi rapor anak yang nilai-nilainya kurang memuaskan? Simak 5 langkah berikut ini yuk, Ma.

1. Puji bagian baik di rapornya

1. Puji bagian baik rapornya
Freepik

Walau mungkin nilai baik di rapor anak Mama hanya nilai kehadiran, namun itu tetap sesuatu yang layak dipuji. Dengan memuji sisi positif ini, anak jadi tahu kalau Mama bukan sosok negatif yang hanya melihat sisi buruk anak, namun juga sisi baiknya.

Percayalah, tidak hanya Mama yang sedih melihat rapor buruk, anak pun merasa malu dan sedih. Dengan reaksi positif Mama yang tidak menghakimi, anak justru akan merasa lebih semangat untuk memperbaiki nilai-nilainya.

2. Membahas nilai jelek

2. Membahas nilai jelek
Freepik/freephoto

Mama boleh saja merasa kecewa, namun jangan hilang kendali dalam amarah ya, Ma. Untuk itu, Mama perlu mengatakan pada anak kalau nilai-nilainya tidak sesuai dengan harapan Mama.

Beri tahu anak kalau Mama berharap nilainya bisa lebih baik dari ini. Ingat, ucapkan semuanya tanpa amarah.

Anak mungkin sudah sadar kalau nilainya tidak seperti yang Mama harapkan, ia sudah cukup terluka karena itu. Memarahinya hanya membuat anak merasa malu dan tidak termotivasi untuk belajar lebih keras.

Editors' Picks

3. Dengarkan anak Mama

3. Dengarkan anak Mama
Freepik

Saat membahas hasil rapor dengan anak, pastikan Mama juga mendengarkan apa yang dikatakan anak Mama, sehingga komunikasi terjadi tidak searah.

Anak pasti punya 1001 alasan kenapa nilainya kurang memuaskan. Dengan mendengarkan semua alasan anak, Mama bisa tahu cara terbaik untuk membantunya memerbaiki nilai.

Mungkin selama ini ada hal di kelas yang menghambat proses belajarnya, namun anak terlalu malu untuk meminta bantuan.

Ada juga anak yang nilainya menurun karena sebenarnya ia tidak bisa melihat papan tulis akibat mata minus. Anak malu untuk bilang itu pada Mama, atau takut akan diminta memakai kacamata (yang menurutnya tidak keren), atau bahkan takut dipindahkan kursinya ke depan sehingga ia harus duduk berjauhan dengan sahabatnya.

Kemungkinan lainnya adalah anak susah fokus di kelas, karena ia mengikuti terlalu banyak ekstrakurikuler yang membuatnya lelah. Alasan-alasan seperti ini tidak akan Mama ketahui jika tidak bertanya atau tidak mau mendengarkan anak.

4. Beri bantuan

4. Beri bantuan
Freepik

Setelah melakukan langkah di atas, kini Mama tahu apa saja kendala anak dalam memahami pelajaran di kelas. Berikan ia bantuan untuk menemukan solusi paling ideal untuknya.

Mama juga perlu bekerja sama dengan gurunya untuk mengetahui gaya belajar anak di kelas. Guru mungkin akan memberi tahu masalah anak Mama, seperti terlalu banyak melamun, terlalu lelah bermain di jam istirahat, atau mungkin terlalu sering diganggu teman-temannya.

Tawarkan semua solusi yang bisa Mama berikan, namun jangan memaksakan itu. Biarkan anak memilih sendiri solusi yang paling nyaman untuknya, karena pada akhirnya anaklah yang akan menjalankan langkah-langkah perbaikan nilai tersebut.

5. Berusaha realistis

5. Berusaha realistis
Pixabay/white77

Agar anak termotivasi untuk memerbaiki nilai-nilainya, maka Mama bisa membuat rencana belajar yang realistis. Setelah mengetahui apa saja hambatan anak dalam belajar, maka Mama perlu membantu anak langkah demi langkah untuk bisa mendapatkan nilai yang lebih baik.

Oh, tentu saja nilai yang lebih realistis, jangan terlalu muluk dalam berharap, Ma.

“Realistis” adalah kata kunci yang tepat dalam membuat rencana perbaikan nilai anak. Tidak ada peri kecil yang bisa mengubah nilai 5 menjadi 10 dalam waktu super singkat! Tidak ada yang instan ya, Ma.

Beri waktu untuk anak berubah menjadi lebih baik, dan hargai segala usaha kerasnya. Tidak ada yang sempurna, tidak ada yang instan, dan semua butuh proses. Setuju, Ma?

Baca juga: