Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

7 Tips agar Anak Inisiatif Salat Tanpa Harus Diingatkan

7 Tips agar Anak Inisiatif Salat Tanpa Harus Diingatkan
Freepik/rawpixel.com
Intinya Sih
  • Mama sering merasa lelah karena harus terus mengingatkan anak salat, padahal Mama ingin anak punya kesadaran sendiri tanpa dipaksa

  • Agar anak rajin salat tanpa diingatkan, diperlukan pemahaman makna, suasana yang menyenangkan, penghargaan atas usaha kecil, dan proses belajar yang sabar

  • Dengan konsistensi, refleksi bersama, dan pendekatan yang hangat, kebiasaan salat bisa tumbuh perlahan dari kesadaran anak sendiri

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Mama mungkin pernah berada di situasi ketika waktu salat sudah tiba, anak masih asyik dengan mainannya.

Sudah diingatkan sekali, belum bergerak. Diingatkan lagi, masih menunda. Lama-lama Mama yang merasa lelah sendiri, bahkan bisa berujung pada nada suara yang meninggi.

Di sisi lain, Mama tentu tidak ingin anak salat hanya karena takut dimarahi. Mama ingin anak punya kesadaran sendiri, tahu kapan waktunya salat tanpa harus terus diingatkan.

Membangun kebiasaan ini memang tidak bisa instan, karena anak perlu proses untuk memahami makna dan membentuk rutinitasnya secara konsisten.

Berikut Popmama.com rangkum 7 tips agar anak rajin salat tanpa harus diingatkan yang bisa Mama terapkan secara bertahap di rumah!

Table of Content

1. Tanamkan makna salat sebagai kebutuhan

1. Tanamkan makna salat sebagai kebutuhan

Berdoa setelah salat
Unsplash/Raka Dwi Wicaksana

Agar anak rajin salat tanpa diingatkan, langkah pertama yang perlu Mama lakukan adalah mengubah cara pandang anak tentang salat. Jangan hanya mengenalkannya sebagai kewajiban yang harus dilakukan karena aturan. Anak perlu memahami bahwa salat adalah kebutuhan.

Gunakan bahasa yang sederhana sesuai usia anak. Mama bisa menjelaskan bahwa salat adalah waktu untuk berbicara kepada Allah, waktu untuk bercerita, bersyukur, dan meminta pertolongan. Sampaikan bahwa seperti tubuh butuh makan dan minum, hati juga butuh dikuatkan, salah satu caranya melalui salat.

Hindari pendekatan yang menakut-nakuti. Jika anak hanya mengenal salat dari sisi dosa dan hukuman, ia mungkin akan melakukannya karena takut, bukan karena sadar. Rasa takut tidak membangun kebiasaan jangka panjang. Justru bisa membuat anak menjauh saat tidak diawasi.

Mama juga bisa mengaitkan salat dengan pengalaman sehari-hari anak. Misalnya ketika anak berhasil melakukan sesuatu, ajak ia bersyukur lewat salat. Ketika anak sedang sedih atau kesal, arahkan bahwa salat bisa jadi tempat menenangkan diri. Dengan begitu, anak mulai merasakan fungsi nyata dari salat dalam hidupnya.

Proses ini tidak instan. Anak mungkin belum langsung berubah. Namun jika makna sudah tertanam, dorongan untuk salat perlahan bisa muncul dari dalam dirinya sendiri.

2. Ciptakan suasana salat yang menyenangkan

Sajadah di masjid
Unsplash/Madrosah Sunnah

Salah satu alasan anak enggan salat tanpa diingatkan adalah karena ia belum memiliki pengalaman yang menyenangkan terkait salat. Jika setiap waktu salat selalu diiringi teguran, nada tinggi, atau tekanan, anak akan mengasosiasikan salat dengan rasa tidak nyaman. Dalam jangka panjang, ini membuat anak menunda atau menghindar.

Mama bisa mulai dari hal sederhana seperti mengajak anak salat berjamaah bersama keluarga. Kebersamaan membuat salat terasa sebagai aktivitas yang dilakukan bersama, bukan perintah sepihak. Anak melihat contoh langsung dari orangtuanya. Ketika Mama dan Papa segera berwudu saat azan berkumandang, anak belajar bahwa salat adalah prioritas.

Libatkan anak dalam persiapan sebelum salat. Biarkan anak mengambil sajadahnya sendiri, memilih mukena atau baju koko yang ia sukai, atau membantu menggelar sajadah. Keterlibatan kecil seperti ini membuat anak merasa memiliki peran. Saat anak merasa dilibatkan, ia lebih terdorong untuk ikut tanpa disuruh.

Pujian sederhana juga berperan penting. Ketika anak segera bersiap tanpa diingatkan berkali-kali, beri apresiasi yang spesifik. Hindari pujian berlebihan atau hadiah materi setiap kali salat, karena tujuan utamanya adalah membangun kebiasaan, bukan ketergantungan pada imbalan.

Membuat salat terasa menyenangkan bukan berarti menjadikannya permainan atau menghilangkan keseriusan ibadah. Yang dimaksud adalah menciptakan pengalaman yang hangat. Ketika anak merasa nyaman, ia tidak melihat salat sebagai beban. Perlahan, kebiasaan itu bisa tumbuh tanpa harus terus diingatkan.

3. Pahami bahwa salat adalah proses belajar anak

Wudu
Freepik

Mama perlu menyadari bahwa membiasakan anak salat adalah proses belajar, bukan perubahan instan. Setiap anak memiliki tahap perkembangan yang berbeda. Tidak semua anak bisa langsung disiplin lima waktu dengan kesadaran penuh.

Pada usia di bawah tujuh tahun, fokus utamanya adalah mengenalkan gerakan dan membangun kedekatan dengan aktivitas salat. Anak mungkin belum memahami bacaan atau maknanya secara utuh. Di tahap ini, yang penting adalah membangun kebiasaan dan rasa nyaman. Terlalu menuntut kesempurnaan justru bisa membuat anak tertekan.

Ketika anak mulai beranjak lebih besar, Mama bisa mulai meningkatkan konsistensi. Namun tetap perlu disesuaikan dengan kesiapan anak. Jika suatu hari anak terlihat menunda atau kurang fokus, lihat itu sebagai bagian dari proses. Hindari langsung memberi label malas atau tidak taat. Label negatif bisa melekat dan memengaruhi cara anak melihat dirinya sendiri.

Kesalahan kecil dalam gerakan atau bacaan juga wajar. Saat anak sedang belajar, ia membutuhkan bimbingan. Jika setiap kesalahan langsung dikoreksi dengan nada tinggi, anak bisa merasa tidak mampu. Sebaliknya, koreksi yang lembut membuat anak lebih terbuka untuk belajar.

Proses ini juga membutuhkan kesabaran orangtua. Ada hari ketika anak terlihat semangat, ada hari ketika ia kembali menunda. Perubahan perilaku memang tidak selalu stabil. Yang penting adalah arah perkembangannya.

4. Hargai setiap usaha kecil anak

Mengapresiasi anak
Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana/AI

Agar anak bisa sampai pada tahap rajin salat tanpa diingatkan, Mama perlu peka terhadap usaha kecil yang ia lakukan. Jangan hanya fokus pada hasil akhir seperti salat lima waktu penuh atau bacaan yang sudah lancar.

Saat anak mulai mengikuti gerakan salat, meski belum rapi, itu adalah tanda ia sedang belajar. Ketika anak mau mengambil wudu sendiri walau masih perlu dibimbing, itu juga bagian dari perkembangan.

Apresiasi tidak harus berupa hadiah atau imbalan materi. Ucapan sederhana seperti “Mama senang kamu langsung bersiap saat azan tadi” sudah cukup memberi penguatan positif. Anak yang merasa dihargai cenderung ingin mengulang perilaku baiknya.

Hindari membandingkan anak dengan saudara atau teman sebayanya. Kalimat seperti kakak saja sudah bisa salat sendiri atau teman kamu sudah hafal bacaan dapat membuat anak merasa tidak cukup baik.

Mama juga perlu berhati hati dalam mengoreksi. Jika anak salah gerakan atau bacaan, pilih waktu yang tepat untuk membimbing. Jangan memotong di tengah salat dengan nada keras. Setelah selesai, ajak anak berbicara dengan tenang dan tunjukkan cara yang benar.

Ketika anak merasa dilihat dan dihargai, ia lebih percaya diri untuk terus mencoba. Perlahan, kebiasaan itu tidak lagi bergantung pada pengingat dari Mama, tetapi tumbuh dari rasa mampu dan tanggung jawab dalam dirinya sendiri.

5. Bangun kedekatan anak dengan nilai agama

Membacakan kisah nabi
Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana/AI

Agar anak bisa sampai pada tahap rajin salat tanpa diingatkan, ia perlu memiliki kedekatan emosional dengan nilai agama itu sendiri. Jika agama hanya hadir dalam bentuk aturan dan kewajiban, anak bisa melihatnya sebagai beban. Sebaliknya, jika agama terasa dekat dengan keseharian, anak lebih mudah menerimanya.

Mama bisa memulai dari obrolan ringan dalam aktivitas sehari hari. Saat anak mendapat nikmat kecil seperti makanan favorit atau berhasil menyelesaikan tugas sekolah, ajak ia mengaitkannya dengan rasa syukur kepada Allah. Percakapan sederhana seperti ini membantu anak memahami bahwa hubungan dengan Tuhan bukan hanya saat salat, tetapi juga dalam kehidupan sehari hari.

Membacakan kisah nabi sebelum tidur juga bisa menjadi cara efektif. Pilih cerita yang sesuai usia dan mudah dipahami. Fokus pada nilai seperti kejujuran, kesabaran, dan tanggung jawab.

Saat salat berjamaah, bangun suasana yang hangat. Setelah selesai, Mama bisa mengusap punggung anak atau memeluknya. Anak yang merasakan kehangatan emosional lebih mungkin mengingat pengalaman tersebut sebagai sesuatu yang positif.

Mama juga bisa mengajak anak berbicara tentang perasaan setelah salat. Tanyakan apakah ia merasa lebih tenang atau lebih ringan. Ketika anak mulai merasakan manfaatnya, dorongan untuk melakukannya kembali akan muncul secara alami.

Membangun kecintaan pada agama tidak dilakukan dalam satu atau dua hari. Ini adalah proses yang berjalan seiring pertumbuhan anak. Konsistensi dalam obrolan, keteladanan, dan suasana rumah yang mendukung akan membentuk fondasi yang kuat.

6. Buat rutinitas yang konsisten setiap hari

Jadwal harian
Freepik

Salah satu kunci agar anak bisa rajin salat tanpa diingatkan adalah konsistensi. Anak sangat terbantu dengan pola yang berulang. Jika waktu salat selalu memiliki alur yang jelas di rumah, anak akan lebih mudah menyesuaikan diri tanpa harus terus dipanggil.

Mama bisa mulai dengan membuat kebiasaan sederhana sebelum waktu salat tiba. Misalnya beberapa menit sebelum azan, anak sudah diingatkan untuk menyelesaikan permainannya. Kebiasaan ini membantu anak belajar mengatur waktu dan tidak merasa kegiatannya diputus secara tiba tiba.

Ketika azan terdengar, usahakan televisi dimatikan dan aktivitas lain dihentikan. Jika orangtua tetap sibuk dengan ponsel atau pekerjaan tanpa jeda, anak bisa menangkap pesan bahwa salat bukan prioritas utama.

Mama tidak perlu selalu memberi perintah panjang. Cukup gunakan pengingat yang sama setiap hari dengan nada yang tenang. Kalimat yang konsisten membantu anak mengenali pola. Lama kelamaan, ia akan terbiasa bergerak saat mendengar isyarat tersebut tanpa perlu ditegur berkali kali.

Jika suatu hari jadwal sedikit bergeser, jelaskan alasannya. Anak perlu tahu bahwa perubahan bukan berarti aturan diabaikan.

Konsistensi bukan berarti kaku. Ada kalanya anak lelah atau sedang kurang sehat. Dalam situasi seperti itu, pendekatan bisa lebih fleksibel tanpa menghilangkan kebiasaan sepenuhnya. Yang terpenting adalah arah pembiasaan tetap terjaga.

7. Kelola ekspektasi dan biasakan refleksi bersama anak

Refleksi setelah salat
Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana/AI

Mama juga perlu mengelola ekspektasi. Tidak semua proses berjalan lurus. Ada hari ketika anak terlihat semangat, ada hari ketika ia kembali menunda. Hal ini wajar dalam proses pembiasaan.

Anak yang sedang tumbuh masih belajar mengatur emosi dan tanggung jawab. Kadang ia menunda karena masih ingin bermain. Kadang ia terburu buru saat wudu atau ingin cepat selesai. Mama bisa menjadikan momen tersebut sebagai bahan refleksi.

Setelah salat, ajak anak berbicara dengan tenang. Tanyakan bagaimana perasaannya saat salat tadi. Apakah ada bagian yang terasa sulit. Apakah ia merasa sudah berusaha lebih baik dari sebelumnya.

Refleksi tidak harus panjang dan serius. Cukup beberapa menit dengan suasana santai. Mama bisa menyampaikan hal yang sudah baik terlebih dahulu, lalu memberi masukan yang perlu diperbaiki.

Selain mengajak anak refleksi, orangtua juga perlu bercermin. Apakah selama ini cara mengingatkan sudah cukup tenang. Apakah konsistensi sudah terjaga. Apakah contoh yang diberikan sudah jelas.

Mengelola ekspektasi berarti memahami bahwa tujuan utamanya bukan membuat anak langsung sempurna, tetapi membentuk kebiasaan jangka panjang. Jika Mama terlalu fokus pada hasil instan, tekanan bisa meningkat dan suasana menjadi tegang. Sebaliknya, ketika Mama menerima bahwa ini adalah proses bersama, hubungan dengan anak tetap terjaga.

Pada akhirnya, agar anak bisa sampai pada tahap rajin salat tanpa diingatkan, dibutuhkan kombinasi makna, suasana yang positif, konsistensi, dan komunikasi yang terbuka. Tidak ada cara instan, tetapi langkah kecil yang dilakukan terus menerus bisa memberi hasil yang lebih stabil.

Menurut Mama, apa yang masih menjadi tantangan terbesar di rumah saat membiasakan anak salat tanpa diingatkan?

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Latest in Big Kid

See More