"Jadi anak yang pemberani, oke? Mantap udah, semangat ya dek," ujarnya sambil memeluk korban.
Kasus Bully Anak The Paparock Berakhir Damai, Ini Ceritanya

- Anak YouTuber Helmi The Paparock menjadi korban bullying di sekolah yang bermula dari ejekan verbal
- Bullying tersebut berkembang menjadi pelecehan verbal setelah stiker tanpa izin korban disebarkan dan ditanggapi dengan kata-kata tidak pantas
- Kasus ini akhirnya diselesaikan secara damai melalui proses mediasi yang melibatkan orangtua dan pihak terkait
Kasus bullying di lingkungan sekolah masih menjadi perhatian serius yang memerlukan respons cepat dari orangtua dan pihak sekolah.
Anak dari YouTuber Helmi The Paparock yang merupakan siswi SMPN 214 Jakarta baru-baru ini menjadi korban bullying dan pelecehan verbal oleh empat temannya.
Kasus ini berawal dari ejekan yang terlihat sepele, namun berkembang menjadi pelecehan yang lebih serius karena tidak segera ditangani.
Berikut Popmama.com rangkum kronologi kasus anak Helmi The Paparock yang jadi korban bully dan pelecehan verbal.
Table of Content
1. Kronologi kasus bullying dan pelecehan verbal

Kasus ini berawal dari tindakan bullying yang terlihat sepele. Dalam kasus ini, korban menghadapi tidak hanya satu, tetapi empat pembully sekaligus.
Awalnya, pembully hanya mengejek korban. Korban pada awalnya memilih untuk mengabaikan perlakuan tersebut karena tidak ingin berurusan lebih jauh.
Namun, sikap mengabaikan ini ternyata tidak menyelesaikan masalah. Justru sebaliknya, bullying yang dialami korban semakin lama semakin parah.
2. Stiker tanpa izin yang disebar di grup chat

Puncak dari kasus bullying ini adalah ketika salah satu dari empat pembully membuat stiker tanpa seizin korban.
Stiker tersebut dibuat saat korban sedang latihan dance bersama teman-temannya. Bukan hanya memuat wajah korban, stiker tersebut memuat seluruh badan korban.
Sementara itu, tiga pembully lainnya melontarkan kata-kata tidak pantas terkait stiker tersebut hingga tergolong sebagai pelecehan verbal.
3. Respon orangtua yang tenang dan suportif

Ketika mengetahui kejadian ini, Helmi merespon dengan cara yang patut diapresiasi. Meskipun pasti merasa marah dan kecewa, ia tetap merespon dengan tenang dan tidak menghakimi anak.
Kasus ini kemudian ditangani melalui mediasi yang difasilitasi oleh Suku Dinas Pendidikan Wilayah II Jakarta Timur. Mediasi dilakukan sebanyak dua kali antara orangtua para terduga pelaku dengan keluarga korban.
Pada mediasi kedua, orangtua pelaku meminta maaf kepada istri Helmi The Paparock dan juga kepada korban. Akhirnya, kasus ini berakhir dengan damai setelah melalui proses mediasi yang melibatkan kedua belah pihak.
Kasus ini mengingatkan bahwa dukungan keluarga adalah hal terpenting bagi korban bullying. Bullying bukan kesalahan korban, dan orangtua perlu memberikan dukungan penuh tanpa menghakimi agar anak merasa aman untuk bercerita dan mencari bantuan.
Apakah Mama sudah memberikan ruang aman bagi anak untuk bercerita tentang masalah yang dihadapi di sekolah?


















