Tips Mengajarkan Anak Lari dari dr. Tirta, Minimal Sudah 5 Tahun!

dr. Tirta menyarankan anak mulai belajar lari setelah usia 5 tahun karena koordinasi dan keseimbangan tubuh sudah lebih matang.
Latihan sebaiknya dimulai dari jarak pendek dan dilakukan di tempat aman seperti taman, jauh dari kendaraan.
Orangtua perlu fokus mengajarkan teknik dasar lari yang benar sebelum menargetkan jarak atau kecepatan.
Orangtua punya hobi lari? Eits, kita juga bisa menularkannya ke anak lho! Tapi, jangan asal ya karena menurut dr. Tirta perlu memperhatikan beberapa hal nih. Berbeda dengan orang dewasa, mengajari anak berlari ternyata tidak bisa dilakukan sembarangan.
Menurut dokter dengan nama asli Tirta Mandira Hudhi ini ada usia ideal dan tahapan yang perlu diperhatikan. Tujuannya agar si Kecil tetap aman sekaligus menikmati proses belajar larinya.
Dalam konten Tanya Ahli Popmama.com, dr. Tirta membagikan panduannya tentang kapan waktu yang tepat dan bagaimana cara melatih anak berlari dengan benar.
Berikut Popmama.com rangkum selengkapnya.
1. Pastikan anak sudah berusia di atas 5 tahun

Menurut dr. Tirta, anak sebaiknya mulai dilatih berlari saat usianya sudah di atas 5 tahun. Hal ini karena pada usia 1-5 tahun, kemampuan berjalan anak belum sepenuhnya sempurna dengan koordinasi dan keseimbangan tubuhnya masih berkembang.
“Kenapa di atas 5 tahun? Karena di usia 1-5 dia jalannya belum maksimal, belum 100 persen sempurna. Tapi di atas 5 tahun anak-anak ini jalannya sudah bagus,” jelas dr. Tirta kepada Popmama.com.
Di usia tersebut, kontrol gerak dan stabilitas tubuh anak dinilai sudah lebih siap untuk aktivitas seperti berlari.
2. Mulai dari jarak pendek dan tempat yang aman

Saat pertama kali melatih anak berlari, jangan langsung ambisius menentukan jarak jauh. Anak tidak bisa diset langsung berlari jarak jauh seperti orang dewasa meski usianya cukup, misalnya pre-teen jika tidak pernah latihan lari sebelumnya.
Saran dari dr. Tirta untuk memulai dari jarak yang pendek terlebih dahulu. Pilih lokasi yang aman seperti taman dan jauh dari kendaraan agar meminimalkan risiko kecelakaan.
“Dimulai dari jarak yang pendek, di taman dan jauh dari kendaraan sehingga menghindari risiko tertabrak,” ujarnya.
Lingkungan yang aman akan membuat anak lebih percaya diri sekaligus mengurangi potensi cedera.
3. Ajarkan teknik dasar lari yang benar

Sebelum memikirkan kecepatan atau jarak, fokus utama adalah mengajarkan form atau teknik berlari yang benar. Menurut dr. Tirta, orangtua tidak perlu langsung menargetkan performa. Yang terpenting adalah anak memahami cara berlari dengan postur dan gerakan yang tepat.
“Jangan langsung ambisius dilatih jarak jauh, yang penting diajari cara berlari form yang benar dulu,” tegasnya.
Dengan teknik yang baik sejak awal, anak akan lebih nyaman bergerak dan risiko cedera pun bisa ditekan.
Semoga tips ini membantu ya!


















