“Ingin teman-teman mendengar suara anak-anak, kembali menciptakan suasana bahagia masa kecil, dan menghidupkan dunia mereka untuk anak-anaknya,” ujar Reda Gaudiamo, selaku penulis novel Na Willa.
5 Hal Menarik Film Na Willa yang Dekat dengan Anak-anak

- Film Na Willa menghidupkan kembali masa kecil yang penuh tawa, rasa ingin tahu, dan momen sederhana melalui petualangan sehari-hari Na Willa dan teman-temannya
- Produksi film Na Willa mengandalkan kolaborasi dan sinergi dengan anak-anak di lokasi
- Film Na Willa mengajak orangtua kembali mendengar suara anak-anak, menghidupkan pengalaman masa kecil, dan mewariskannya pada generasi selanjutnya
Masa kecil yang penuh tawa, rasa ingin tahu, dan momen sederhana kembali hidup lewat Na Willa. Film Lebaran 2026 ini mengajak penonton merasakan #JadiAnakAnak melalui petualangan sehari-hari Na Willa dan teman-temannya.
Nuansa hangat dan keseruan inilah yang dibawa ke acara press conference perilisan official trailer dan poster, yang digelar di XXI Plaza Senayan pada Kamis (12/02/2026). Di acara ini, para pembuat film, penulis novel, dan pemeran utama hadir untuk berbagi cerita di balik layar.
Berikut Popmama.com merangkum 5 hal menarik dari film Na Willa yang dekat dengan anak-anak.
Table of Content
1. Makna “selamat datang di dunia Na Willa”

Frasa “selamat datang di dunia Na Willa” dalam film Na Willa bukan sekadar kata pembuka, tapi pelukan hangat bagi penonton untuk merasakan kasih sayang dan kesetiaan pada nuansa novel.
Frasa ini menjadi jembatan yang menghubungkan penonton dengan keseharian dunia Na Willa yang sederhana, menampilkan anak-anak pergi ke pasar, minum orange crush, bermain bersama teman, dibacakan buku, dan tidur.
Kehidupan sehari-hari itulah yang kemudian dijahit menjadi narasi utuh dalam film, menggabungkan live action dan drama musikal dalam film anak-anak.
2. Latar tahun 1960-an dari sudut pandang anak

Era 1960-an dalam film ini tidak ditampilkan sekadar sebagai sejarah, melainkan sebagai taman penuh keajaiban melalui mata anak berusia enam tahun.
Hal-hal kecil seperti melihat bumbu dapur yang bagi orang dewasa biasa saja, di mata anak menjadi berbeda dan penuh keajaiban.
“Apa pun latarnya, rasa menjadi anak-anak tidak pernah berubah, yang berubah adalah kita sebagai manusia,” ungkap Reda.
Fokusnya bukan pada zamannya, melainkan pada rasa menjadi anak-anak yang muncul dari memori masa kecil.
3. Kreativitas dan inisiatif Luisa cs di lokasi syuting

Film Na Willa menekankan pengalaman anak-anak langsung di lokasi syuting.
Ryan Adriandhy selaku sutradara dan penulis naskah menjelaskan, berbeda dengan animasi yang bisa diatur per frame, live action membuat anak-anak memberi masukan sendiri selama proses berlangsung.
Karena anak-anak profesional, mereka bisa menilai sendiri adegan yang dimainkan dan mengajukan retake bila perlu.
“Oh aku kelamaan ya om di sini, take ulang deh,” ucap Ryan menirukan pemain.
Produksi mengandalkan kolaborasi dan sinergi dengan anak-anak di lokasi, sekaligus terasa seperti pengalaman parenting bagi tim pembuat film.
4. Kenyamanan kru dan pemain di lokasi syuting

Tim produksi film Na Willa berupaya menciptakan lokasi syuting yang nyaman dan aman bagi kru maupun pemain.
Untuk anak-anak, disiapkan playground, sudut bacaan, perosotan, dan tempat tidur kecil agar bisa beristirahat atau tidur siang setelah makan siang.
"Kayanya Na Willa satu satunya film yang memberlakukan syarat tidur siang setelah break makan siang deh," canda Ryan.
Aturan tidur singkat ini membantu menjaga energi dan kesehatan mereka, sehingga siap kembali ke syuting dengan kondisi prima.
Selain itu, makanan sehat selalu disediakan untuk anak-anak maupun seluruh kru. Selama 26 hari syuting, semua kru saling mengingatkan untuk menjaga pola makan, termasuk sarapan sayuran rebus setiap pagi dan membatasi konsumsi makanan tinggi gula.
Area syuting pun dijaga bebas rokok, agar suasana tetap aman dan nyaman bagi semua.
5. Keterlibatan Reda dalam produksi film Na Willa

Reda terlibat langsung untuk memastikan semua tokoh dan cerita punya fungsi di dalam film. Karena novel awalnya berbentuk slice of life, tim produksi perlu menjahitnya menjadi narasi utuh yang cocok untuk film.
Urutan bab tidak selalu urut. Misalnya, adegan dari bab 1 bisa disambung ke bab 3, lalu kembali ke bab 2, sesuai kebutuhan alur. Hal-hal yang dijaga dalam proses adaptasi novel ke film ini adalah:
Dialog dijaga agar tetap mencerminkan setting 1960-an, karena terlalu modern bisa mengacaukan suasana
Reda ikut mengarahkan akting, terutama karakter Mak (Irma Rihi) agar sesuai karakter
Memberikan pandora box berisi foto masa kecilnya untuk memperkaya ide dan visual film
“Semoga semua generasi bisa merasakan kembali lensa kehidupan yang pernah pudar, lensa anak-anak,” harapnya.
Film Na Willa mengajak orangtua kembali mendengar suara anak-anak, menghidupkan pengalaman masa kecil, dan mewariskannya pada generasi selanjutnya.
Jadi, bagaimana cara Mama bisa membiarkan anak-anak merasakan kebahagiaan sederhana seperti yang ditampilkan dalam dunia Na Willa di rumah?


















