"Ini rahasia kita saja ya,"
10 Tanda Child Grooming pada Anak yang Sering tidak Disadari Mama

Child grooming sering dilakukan oleh orang yang dikenal anak dan keluarga, dengan tujuan membangun kepercayaan untuk mempermudah eksploitasi.
Ada sepuluh tanda child grooming, mulai dari perhatian berlebihan, pemberian hadiah tanpa alasan jelas, hingga permintaan agar anak menyimpan rahasia dari orangtua.
Orangtua dianjurkan waspada dan mengajarkan anak mengenali batasan tubuh, menolak ajakan yang tidak nyaman, serta selalu terbuka dalam komunikasi agar terhindar dari risiko grooming.
Tidak semua ancaman terhadap anak datang dari orang asing, Ma. Dalam banyak kasus, pelaku child grooming justru orang yang dikenal dan dipercaya oleh si Kecil dan keluarga.
Pelaku membangun kedekatan dengan anak untuk memperoleh kepercayaan, mengurangi kewaspadaan, hingga mempermudah terjadinya kekerasan atau eksploitasi. Untuk itu, semakin awal Mama mengenali tanda-tandanya, semakin besar pula peluang untuk melindungi si Kecil.
Itulah mengapa penting bagi orangtua memahami bagaimana proses child grooming berlangsung dan mengenali berbagai tanda yang perlu diwaspadai.
Yuk, simak 10 tanda child grooming pada anak yang sudah popmama.com rangkum untuk Mama.
1. Memberikan perhatian yang lebih istimewa dibanding anak lain

Salah satu tanda awal child grooming adalah ketika orang dewasa memberikan perhatian yang lebih istimewa kepada si Kecil. Perhatian seperti mengobrol dan menunjukkan ketertarikan yang berlebih terhadap anak. Sekilas sikap tersebut terlihat wajar, ya Ma.
Namun, jurnal Child Abuse & Neglect (2023) menunjukkan bahwa pelaku memulai dengan membangun hubungan yang terlihat positif dan penuh perhatian. Seolah-olah memperkuat kedekatan emosional agar anak merasa nyaman dan semakin memercayainya.
Tapi Mama tak perlu langsung menganggap perhatian dari orang dewasa sebagai ancaman. Cukup garis bawahi saja perhatian yang terasa berlebihan dan terfokus pada si Kecil.
2. Menjadi orang yang paling dipercaya anak

Setelah berhasil menarik perhatian si Kecil, pelaku akan berusaha menjadi sosok yang dipercaya. Seperti sering mendengarkan cerita anak atau memberikan dukungan saat anak sedih. Tujuannya untuk membuat anak merasa memiliki ikatan emosional yang kuat dengan pelaku.
Kedekatan ini dilakukan agar si Kecil lebih mudah mengikuti ucapan dan ajakan tanpa merasa curiga. Karena itu, Mama perlu memerhatikan saat si Kecil mulai menganggap orang dewasa sebagai satu-satunya tempat bercerita dan merasa lebih nyaman bergantung kepada orang tersebut dibandingkan orangtua.
3. Berusaha mendapatkan kepercayaan orangtua

Child grooming tidak hanya menyasar anak, tetapi juga orangtua lho Ma. Sebelum mendekati si Kecil, pelaku berusaha membangun citra sebagai sosok yang baik dan dapat dipercaya. Seperti menawarkan bantuan untuk menjaga si Kecil atau membantu keluarga dalam berbagai kesempatan.
Hal ini dilakukan karena ketika orangtua sudah menaruh kepercayaan, akses untuk berinteraksi dengan si Kecil tidak menimbulkan kecurigaan. Agar terhindar dari itu, Mama bisa memberi batasan interaksi antara orang dewasa dan si Kecil.
Sikap waspada tanpa mengabaikan hubungan baik dapat menjadi langkah sederhana untuk membantu melindungi si Kecil dari risiko child grooming.
4. Anak sering diberi hadiah dan perlakuan khusus

Memberikan hadiah kepada anak menjadi salah satu bentuk apresiasi. Namun, Mama perlu waspada jika ada orang dewasa yang terlalu sering memberikan hadiah tanpa alasan yang jelas serta dilakukan berulang kali.
Jurnal Child Abuse & Neglect (2023) mengidentifikasi pemberian hadiah secara berlebihan sebagai salah satu tanda peringatan child grooming. Hadiah ini diberikan agar anak merasa berhutang budi sehingga lebih sulit menolak permintaan di kemudian hari.
Mama bisa menerapkan kebiasaan kepada si Kecil, untuk selalu bercerita setiap kali menerima hadiah dari orang lain. Ajarkan juga bahwa tidak semua pemberian harus diterima, terutama jika anak merasa tidak nyaman dan diminta untuk merahasiakannya.
5. Mulai mencari kesempatan agar bisa berduaan dengan anak

Setelah berhasil mendapatkan kepercayaan anak dan orangtua, pelaku akan mencari kesempatan untuk menghabiskan waktu berdua dengan si Kecil.
Penelitian dalam jurnal Child Abuse & Neglect (2023) mengungkapkan bahwa pelaku berusaha menciptakan momen berdua dengan anak. Tujuannya mengurangi pengawasan orang lain sekaligus membangun hubungan semakin dekat.
Semakin sering kesempatan tersebut terjadi, semakin besar pula peluang pelaku untuk melakukan child grooming tanpa diketahui orang lain.
Mama perlu membiasakan si Kecil untuk memberitahu jika ada orang yang mengajak pergi. Jelaskan juga bahwa anak berhak menolak ajakan yang membuatnya tidak nyaman, meskipun datang dari orang dekat.
6. Mulai menghubungi anak secara pribadi

Di era digital, child grooming turut terjadi lewat komunikasi online. Mama perlu waspada jika orang dewasa menghubungi si Kecil melalui pesan singkat atau aplikasi gim.
Pelaku mencoba menciptakan komunikasi yang bersifat pribadi dan eksklusif, sehingga anak merasa memiliki hubungan yang berbeda dibandingkan orang lain.
Penting bagi Mama untuk mengajarkan si Kecil agar selalu terbuka dan buat kesepakatan sederhana. Seperti tidak membalas pesan dari orang dewasa tanpa sepengetahuan orangtua.
Karena dengan aturan yang tepat, si Kecil lebih mudah mengenali komunikasi yang sehat dan menghindari interaksi yang berpotensi child grooming.
7. Anak diminta menyimpan rahasia dari orangtua

Mama perlu waspada jika si Kecil mulai diminta menyimpan rahasia oleh orang dewasa, terutama jika berkaitan dengan pertemuan atau aktivitas tertentu. Pelaku mungkin mengatakan kalimat seperti,
atau kalimat lainnya seperti,
"Jangan bilang Mama nanti dimarahi."
Kalimat yang terkesan sederhana, tetapi menjadi tanda bahwa pelaku berusaha memutuskan komunikasi antara anak dan orangtua.
Mama bisa mengajarkan agar tidak ada rahasia yang boleh disimpan dari orangtua, jika berkaitan dengan tubuh, sentuhan atau permintaan dari orang dewasa.
8. Mulai membiasakan sentuhan yang tidak pantas

Tidak semua sentuhan yang dilakukan orang dewasa kepada anak memiliki tujuan yang baik. Karena pelaku memulai dengan sentuhan yang terlihat wajar, seperti memeluk terlalu lama atau mengusap bagian tubuh tertentu.
Temuan dalam Journal of Interpersonal Violence (2026) mengidentifikasi proses ini sebagai desensitization. Strategi pelaku yang secara bertahap membuat anak menganggap sentuhan yang tidak pantas sebagai sesuatu yang biasa.
Untuk menghindari hal ini, Mama dapat mengenalkan konsep batasan tubuh. Supaya si Kecil memahami bahwa tubuhnya adalah miliknya sendiri dan tidak boleh disentuh tanpa persetujuannya.
9. Mulai membicarakan hal-hal yang bersifat seksual

Pelaku child grooming mulai mengenalkan candaan yang mengandung unsur seksual pada anak. Misalnya dengan melontarkan lelucon yang tidak pantas atau menunjukkan konten yang tidak sesuai dengan usianya.
Karena itu, Mama perlu mengajarkan bahwa tidak semua topik pantas dibicarakan oleh orang dewasa kepada anak. Jika si Kecil pernah mendengar pembicaraan yang membuatnya bingung atau tidak nyaman, dorong ia untuk segera bercerita Ma.
10. Anak tampak takut, bingung, atau merasa bersalah saat membicarakan seseorang

Perubahan sikap pada anak bisa menjadi tanda yang perlu Mama perhatikan. Misalnya, si Kecil mendadak enggan menceritakan aktivitasnya dan terlihat takut.
Hal ini terjadi karena anak merasa bersalah dan takut dimarahi, jika berani bercerita kepada orangtua. Akibatnya, si Kecil memilih diam karena takut tidak akan dipercaya.
Mama perlu menciptakan suasana yang membuat si Kecil merasa aman untuk bercerita. Yakinkan bahwa ia tidak akan dimarahi ketika mengungkapkan sesuatu yang membuatnya takut, bingung, atau tidak nyaman.
Itulah 10 tanda child grooming pada anak yang perlu Mama ketahui. Yuk, ajarkan si Kecil cara melindungi dirinya dari hal membahayakan.




















