"Jangan terpaku pada merek susu tersebut dan klaim yang diberikan. Langsung lihat label gizi yang tertera di box atau kaleng susu," tegas dr. Feli.
5 Hal yang Perlu Diperhatikan saat Membaca Kandungan Susu Anak Menurut Dokter Gizi

Orangtua disarankan membaca label Informasi Nilai Gizi, terutama membedakan laktosa alami dengan gula tambahan seperti sukrosa dan maltodekstrin.
Total gula tambahan perlu dihitung berdasarkan frekuensi minum susu; WHO dan AHA merekomendasikan batas tidak lebih dari 25 gram per hari.
Perhatikan takaran saji, energi, protein, zat besi, zinc, DHA, omega 3 dan 6; susu adalah pelengkap pola makan seimbang, bukan pengganti makanan utama.
Memilih susu pertumbuhan untuk anak memang bisa menjadi tantangan tersendiri bagi orangtua.
Banyaknya pilihan produk di pasaran dengan berbagai klaim kandungan nutrisi dan harga yang beragam terkadang membuat orangtua bingung menentukan pilihan tepat untuk si Kecil.
Namun, orangtua sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan merek atau klaim yang tercantum pada kemasan.
Menurut Dokter Spesialis Gizi Klinik RS Permata Depok, dr. Felianty Badralany, Sp.G.K., hal yang lebih penting adalah memahami kandungan nutrisi di dalam susu dengan membaca label Informasi Nilai Gizi.
Lantas, apa saja yang perlu diperhatikan orangtua ketika membaca kandungan susu pertumbuhan untuk anak? Berikut penjelasannya telah Popmama.com siapkan.
Table of Content
1. Perhatikan jenis dan jumlah gula dalam susu

Dok. Istimewa Salah satu kandungan yang perlu menjadi perhatian utama ketika memilih susu pertumbuhan anak adalah gula. Orangtua perlu mengetahui bahwa tidak semua jenis gula yang tercantum pada label memiliki sumber dan karakteristik sama.
Menurut dr. Feli, laktosa merupakan gula alami yang memang terdapat di dalam susu. Sementara itu, orangtua perlu lebih mencermati keberadaan gula tambahan, seperti sukrosa dan maltodekstrin, termasuk jumlahnya dalam setiap takaran saji.
“Kandungan laktosa pada susu merupakan gula alami yang berasal dari susu itu sendiri dan aman untuk dikonsumsi anak. Namun, orangtua perlu mewaspadai jenis gula tambahan seperti sukrosa dan maltodekstrin. Gramasi dari gula tambahan ini harus diperhatikan secara cermat karena akan terakumulasi dan menambah total asupan gula harian anak.” jelas dr. Feli.
2. Hitung total asupan gula yang dikonsumsi anak

Magnific/azerbaijan_stockers Selain mengenali jenis gula, jumlah gula yang dikonsumsi anak dalam sehari juga tidak kalah penting. Orangtua sebaiknya tidak hanya melihat angka gula dalam satu takaran saji, tetapi turut memperhitungkan berapa kali anak mengonsumsi susu dalam sehari.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan American Heart Association (AHA) merekomendasikan agar konsumsi gula tambahan pada anak berada di bawah 10 persen dari total kebutuhan energi harian atau tidak lebih dari 25 gram per hari.
"Kita harus lihat berapa gram sukrosanya per takaran saji. Jika anak minum susu dua kali sehari, tinggal dikalikan. Efek konsumsi gula berlebihan mungkin tidak terlihat jangka pendek, namun dalam jangka panjang bisa memicu risiko obesitas hingga penyakit metabolik seperti diabetes melitus," jelas dr. Feli.
3. Cermati protein, zat besi, zinc, hingga omega

Magnific/freepik Saat membaca tabel Informasi Nilai Gizi, orangtua juga perlu memperhatikan takaran saji dan jumlah energi yang tercantum pada kemasan. Informasi tersebut dapat menjadi dasar untuk memperkirakan kontribusi susu terhadap kebutuhan nutrisi harian anak.
Setelah itu, perhatikan pula kandungan protein dalam susu dan sesuaikan dengan kebutuhan anak. Selain protein, beberapa zat gizi lain juga berperan penting dalam mendukung proses tumbuh kembang, seperti zat besi, zinc, DHA, omega 3, dan omega
“Oran tua juga perlu mencermati kandungan zat besi dan zinc yang penting untuk pembentukan sel darah merah, pertumbuhan fisik, serta imunitas tubuh. Tak kalah penting, keberadaan DHA, omega 3, dan omega 6 sangat berperan dalam menunjang tumbuh kembang otak anak.” tambah dr. Feli.
4. Bandingkan kandungan nutrisi secara sepadan

Freepik/jcomp Ketika membandingkan beberapa produk susu, orangtua sebaiknya tidak langsung menyamakan semua kandungan yang terdengar serupa. Perbandingan akan lebih tepat jika dilakukan berdasarkan jenis dan jumlah zat gizi yang sama.
Sebagai contoh, dr. Feli mengingatkan agar orangtua dapat membandingkan kandungan DHA murni dengan DHA murni pada produk lainnya. Kandungan tersebut sebaiknya tidak langsung disetarakan dengan bahan lain, seperti cod liver oil, karena keduanya memiliki komposisi yang berbeda.
Selain itu, orangtua juga perlu memahami bahwa susu bukanlah satu-satunya sumber nutrisi untuk anak. Pemenuhan kebutuhan gizi tetap perlu berasal dari pola makan sehari-hari yang beragam dan seimbang.
"Susu itu bukan penentu keberhasilan pencapaian nutrisi pada anak, susu hanya pelengkap. Tetap orangtua harus mengutamakan pola makan sehat dari real food atau makanan utama," tutur dr. Feli.
5. Jangan jadikan susu sebagai pengganti makanan utama

Pexels/cottonbro studio Sebagian anak mungkin lebih menyukai susu dibandingkan makanan utama. Jika hal ini terjadi, orangtua sebaiknya tidak langsung menjadikan susu sebagai pengganti makan ketika anak menolak makanan yang disajikan.
Kebiasaan tersebut justru dapat membuat anak semakin terbiasa memenuhi rasa kenyang dari susu dan mengurangi ketertarikannya pada makanan utama. Padahal, kebutuhan nutrisi anak perlu dipenuhi melalui makanan yang beragam, bukan hanya dari susu.
Orangtua dapat tetap konsisten menerapkan jadwal makan utama sebanyak tiga kali sehari dengan porsi yang sesuai. Dengan begitu, anak memiliki rutinitas makan yang lebih teratur dan susu tetap ditempatkan sebagai pelengkap, bukan sumber utama pemenuhan nutrisi.
Demikian informasi mengenai hal yang perlu diperhatikan saat membaca kandungan susu anak menurut dokter. Semoga informasinya membantu ya, Ma.























