dr. Amrina Rosyada, Sp.A., CBCFF dalam instagramnya @amrinaroo memberikan perumpamaan, "Bayangin parents lagi install sistem di HP. HP-nya diam nih, tapi kok suhunya panas ya? Itu hal yang sama yang terjadi ketika anak sedang tidur,"
Kenapa Anak Sering Berkeringat saat Tidur? Simak Penjelasannya

Anak dapat berkeringat saat tidur karena metabolisme tetap aktif untuk pemulihan sel, pertumbuhan, dan pengolahan memori, yang menghasilkan panas tubuh.
Pada fase tidur nyenyak, peningkatan aktivitas internal bisa menaikkan suhu; saraf otonom lalu memicu kelenjar keringat untuk mendinginkan tubuh.
Kondisi ini umumnya normal bila anak tidur nyenyak dan tumbuh baik, tetapi perlu diperiksakan jika keringat berlebihan disertai lemas, rewel, demam, batuk, sesak napas, atau berat badan turun.
Mama pernah memerhatikan si Kecil saat tidur nggak sih?
Setelah diperhatikan, ternyata anak selalu berkeringat saat ia tertidur.
Lantas Mama kebingungan, padahal suhu AC atau kipas di kamar sudah cukup dingin.
Kondisi tersebut membuat Mama bertanya-tanya apa ada masalah kesehatan tertentu yang dialami oleh si Kecil.
Melihat anak berkeringat di tengah tidurnya memang bisa memicu rasa cemas, ya.
Apalagi jika piyama atau bantalnya sampai basah kuyup.
Banyak Mama yang langsung panik dan mengira Si Kecil sedang mengalami demam atau penyakit serius lainnya.
Namun, sebelum Mama mengambil kesimpulan sendiri, penting untuk memahami mekanisme tubuh anak saat mereka tertidur lelap.
Ternyata Ma, fenomena anak berkeringat saat tidur adalah hal yang cukup wajar dan sering ditemui pada usianya, lho!
Untuk menjawab rasa penasaran Mama dan menenangkan kekhawatiran tersebut, Popmama.com telah menyiapkan rangkuman dan penjelasannya, nih.
Yuk ketahui alasan kenapa anak sering berkeringat saat tidur, simak penjelasannya, Ma!
1. Metabolisme tubuh anak tetap bekerja meski saat tidur

Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI Ma, meskipun si Kecil terlihat diam dan terlelap dalam tidurnya, ternyata sistem di dalam tubuhnya tidak berhenti, lho.
Tubuh anak justru sedang melakukan berbagai proses pemulihan sel, pertumbuhan, hingga pengolahan memori otak.
Proses biologis kompleks ini mengonsumsi energi dan secara alami menghasilkan energi panas dari dalam tubuh anak mama.
Hal ini yang menjadi salah satu alasan utama mengapa tubuh si Kecil bisa meningkat saat ia tertidur.
2. Aktivitas tinggi terjadi pada tubuh anak saat ia tertidur lelap

Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI Ada satu hal yang perlu Mama dan Papa ketahui tentang tidur anak, yaitu siklus tidurnya.
Siklus tidur anak terdiri dari beberapa tahapan Ma, salah satu fase yang penting adalah deep sleep atau tidur nyenyak.
Pada fase inilah tubuh si Kecil benar-benar beristirahat secara fisik, namun aktivitas internal tubuhnya justru tetap bekerja secara maksimal.
Peningkatan fungsi metabolik pada fase deep sleep ini kerap memicu kenaikan suhu tubuh anak secara alami.
Ketika suhu tubuh mulai naik, mekanisme alami tubuh akan merespons untuk menjaga agar suhu tidak terlalu tinggi.
Menurut penjelasan dr. Amrina Rosyada, Sp.A., CBCFF, "Walaupun dia sedang tidur, tetapi terjadi metabolisme dan aktivitas yang luar biasa di dalam tubuhnya, sehingga kadang proses tidur diikuti dengan proses peningkatan suhu terutama pada saat fase deep sleep."
Oleh karena itu, Mama tidak perlu heran jika melihat si Kecil tiba-tiba berkeringat pada beberapa jam pertama setelah ia tertidur.
3. Mekanisme alami saraf otak otonom dan pendinginan tubuh

Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI Tubuh manusia sangat kompleks dari yang kita ketahui, Ma.
Ternyata, tubuh kita dilengkapi dengan sistem pengatur suhu otomatis, lho!
Sistem tersebut berpusat di dalam otak setiap manusia.
Pengatur suhu ini terhubung langsung dengan sistem saraf otonom anak mama.
Bahkan cara bekerjanya tidak bisa kita sadari.
Ketika saraf otonom mendeteksi adanya kenaikan suhu tubuh saat si Kecil tidur, sistem ini akan merangsang kelenjar keringat untuk memproduksi cairan.
Cairan keringat yang keluar ke permukaan kulit bertujuan untuk menguapkan panas dan menurunkan suhu tubuh ke batas normal.
Jadi, keluarnya keringat ini bukan karena anak mama demam, ya.
Melainkan tanda bahwa sistem pertahanan dan pengatur suhu tubuh si Kecil berfungsi dengan sangat baik.
4. Anak berkeringat saat tidur umumnya tidak membahayakan

Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI Melihat baju si Kecil basah oleh keringat di malam hari kerap membuat orangtua khawatir.
Padahal Ma, sebagian besar kasus, kondisi ini merupakan respons fisiologis yang normal dan tidak berbahaya.
Selama anak masih bisa tidur dengan nyenyak, tidak rewel, serta tumbuh kembangnya berjalan optimal, Mama tidak perlu panik, ya.
Keringat tersebut hanyalah hasil dari proses pendinginan alami yang dilakukan oleh tubuh anak.
Kondisi ini merupakan proses penyesuaian suhu tubuh yang wajar terjadi pada anak-anak.
Jadi, Mama tidak perlu merasa cemas berlebihan setiap kali mendapati anak berkeringat saat tertidur, ya.
5. Waspadai jika keringat disertai dengan gejala penyakit

Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI Meskipun umumnya normal, Mama tetap harus bersikap waspada dan memperhatikan kondisi kesehatan si Kecil, ya.
Produksi keringat saat tidur bisa menjadi penanda adanya masalah kesehatan apabila disertai dengan gejala lainnya.
Misalnya, jika keringat keluar secara berlebihan tidak seperti biasanya dan anak tampak sangat lemas atau rewel.
Jika mengalami kondisi tersebut, Mama harus segera membawa si Kecil ke dokter spesialis anak!
Terlebih jika kondisi berkeringat ini dibarengi dengan timbulnya demam, batuk, sesak napas, atau penurunan berat badan.
Sebagaimana diimbau oleh dr. Ocha, "Kecuali misalnya keringatnya berlebihan atau disertai dengan gejala yang tidak normal seperti demam, batuk, sesak, dan lain-lain."
Memahami metabolisme dan mekanisme tubuh si Kecil memang sangat penting bagi setiap orangtua.
Itu dia Ma, alasan kenapa anak sering berkeringat saat tidur, simak penjelasannya.
Ketahuilah bahwa berkeringat saat tidur merupakan bagian dari proses fisiologis dan pengaturan suhu tubuh yang normal.
Mama jadi bisa merasa lebih tenang saat mendampingi waktu istirahat si Kecil, deh.
Kuncinya adalah tetap tenang dan selalu mengamati gejala fisik pendukung lainnya pada anak mama, ya.
Selama si Kecil tidak menunjukkan tanda-tanda sakit seperti demam atau sesak napas, Mama tidak perlu panik lagi dan cukup pastikan sirkulasi udara di kamar anak tetap nyaman.






















