“Korban mengalami luka serius berdasarkan hasil visum. Saat ini korban tengah mendapatkan penanganan medis dan pendampingan. Kami turut prihatin dan mengecam keras segala bentuk kekerasan terhadap anak,” ujar Cep Wildan, melalui rilis 16 Februari 2026.
Kronologi Balita 2,5 Tahun Dianiaya di Karawang, Mata Ditusuk Tang

- Seorang balita 2,5 tahun di Karawang mengalami luka serius setelah dianiaya oleh pacar ibunya di sebuah hotel, saat sang ibu keluar membeli makanan.
- Pelaku diduga menyiksa korban karena kesal mendengar tangisan, bahkan mencolok mata dan melukai mulut korban dengan alat seperti tang sebelum berusaha mengelak dari tuduhan.
- Ibu korban mengungkap kekerasan sudah terjadi hingga tiga kali selama hubungan mereka, menunjukkan pola penganiayaan berulang yang baru terungkap setelah kejadian terakhir.
Kasus kekerasan terhadap anak kembali terjadi, kali ini ada di wilayah Karawang, Jawa Barat. Seorang balita laki-laki berusia 2,5 tahun berinisial MA menjadi korbannya dan sempat mendapatkan penanganan medis setelah mengalami luka serius.
Peristiwa ini terjadi saat ibu korban berinisial IP (20) berada di sebuah hotel bersama anaknya. Berdasarkan keterangan, ia sempat keluar kamar untuk membeli makanan setelah diminta oleh seorang laki-laki yang merupakan teman dekatnya.
Namun, saat kembali ia mendapati kondisi anaknya sudah tidak wajar. Korban kemudian segera dibawa ke RSUD Karawang untuk mendapatkan pertolongan.
Berikut Popmama.com rangkum informasi mengenai kronologi balita 2,5 tahun dianiaya di Karawang dengan luka serius.
1. Kejadian di hotel, korban ditemukan dalam kondisi bersimbah darah

Peristiwa memilukan mengenai balita NA terjadi pada Kamis malam (12/2/2026) lalu. Saat itu ibu korban berinisial IP (20) bersama pelaku check-in di sebuah hotel di Karawang Barat. Sekitar pukul 02.00 WIB, pelaku meminta ibu korban keluar kamar untuk membeli makanan.
Ibu korban pergi sekitar 20 menit dan kembali ke hotel. Namun, saat masuk ke kamarnya IP mendapati anaknya dalam kondisi tidak wajar bahkan bersimbah darah. Ia pun langsung panik dan segera membawa anaknya untuk mendapatkan pertolongan medis.
Hasil visum menunjukkan korban mengalami luka serius akibat kekerasan.
2. Pelaku diduga menyiksa karena kesal mendengar tangisan

Kapolres Karawang, Fiki N. Ardiansyah melalui Kasi Humas, Cep Wildan, dikutip dari website Polri menyampaikan bahwa pelaku diduga melakukan tindakan keji tersebut karena emosi sesaat saat korban terus menangis.
Laporan juga menyebut pelaku diduga mencolok bagian mata korban serta melukai bagian mulut hingga menyebabkan luka pada lidah menggunakan alat seperti tang.
Setelah kejadian, pelaku sempat mengelak dan berdalih bahwa korban terjatuh dari kasur. Namun, penjelasan tersebut tidak sesuai dengan kondisi luka yang ditemukan.
3. Kekerasan disebut sudah terjadi hingga tiga kali

Pada keterangan ibu korban, ia mengungkap bahwa tindakan kekerasan ini bukan pertama kali terjadi. Selama menjalin hubungan sekitar tiga bulan, pelaku diduga sudah beberapa kali melakukan penganiayaan terhadap anaknya.
Pada kejadian sebelumnya, korban sempat mengalami luka gigitan di tangan, pembengkakan pada bagian tulang rusuk, hingga benjolan di area tubuh lainnya. Luka-luka tersebut sempat ditangani oleh keluarga karena dianggap cedera biasa.
Namun, karena kejadian itu menunjukkan adanya pola kekerasan berulang yang baru terungkap setelah kejadian terakhir yang paling parah.
4. Kenali tanda perubahan perilaku anak juga sinyal bahaya

Selain tanda fisik, kekerasan pada anak sering muncul melalui perubahan perilaku. Anak bisa menjadi lebih takut, mudah menangis, menarik diri, atau menunjukkan regresi perkembangan. Terutama jika berada didekat orang yang diduga melakukan kekerasan kepadanya.
Oleh karena itu, di sini pentingnya kepekaan orangtua untuk mengenali tanda ini. Jika ada hal yang terasa janggal, sebaiknya segera cari bantuan profesional agar anak mendapatkan perlindungan dan pendampingan yang tepat.
5. Anak korban kekerasan berisiko mengalami trauma jangka panjang

Kekerasan pada usia dini dapat berdampak besar pada perkembangan otak dan emosi anak di masa depan. Anak yang mengalami trauma berisiko mengalami gangguan kecemasan, kesulitan membangun rasa aman, hingga masalah perilaku di masa depan.
Selain dampak fisik, pengalaman traumatis juga dapat “tersimpan” dalam sistem saraf anak. Ini bisa muncul dalam bentuk perubahan perilaku seperti mudah takut, gangguan tidur, atau keterlambatan perkembangan emosional.
6. Pentingnya pengawasan dan lingkungan aman bagi anak

Orangtua perlu mengingat bahwa lingkungan yang aman dan pengawasan orang dewasa sangat krusial, terutama pada usia balita. Anak di usia ini belum mampu melindungi diri atau mengomunikasikan bahaya secara jelas.
Karena itu, orangtua disarankan untuk lebih selektif dalam mempercayakan anak kepada orang lain, serta memastikan situasi dan lingkungan selalu aman. Respons cepat saat terjadi hal mencurigakan juga sangat penting untuk meminimalkan dampak yang lebih besar.
Itulah tadi kronologi balita 2,5 tahun dianiaya di Karawang, pelaku adalah pacar ibu korban. Kasus ini menjadi pengingat penting bagi semua pihak untuk lebih waspada dan memastikan anak selalu berada di lingkungan yang aman.


















