Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

7 Hal yang Sebenarnya Anak Butuhkan Sebelum Tidur, Bukan Caper

7 Hal yang Sebenarnya Anak Butuhkan Sebelum Tidur, Bukan Caper
Pexels/cottonbro studio
Intinya Sih
  • Perilaku aktif atau rewel si Kecil sebelum tidur sering kali merupakan cara mereka mengekspresikan kebutuhan emosional dan fisik yang belum terpenuhi, bukan sekadar mencari perhatian.

  • Tujuh kebutuhan utama si Kecil sebelum tidur meliputi penyaluran energi sisa, ketenangan dari overstimulasi, pelukan hangat, pijatan lembut, rasa aman lewat kedekatan, detoks gadget, dan validasi perasaan.

  • Memahami serta merespons kebutuhan tersebut dengan sabar membantu si Kecil lebih cepat tertidur, merasa aman secara emosional, dan memperkuat ikatan kepercayaan antara orangtua dan si Kecil.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Sering kali Mama merasa kewalahan saat melihat si Kecil justru mendadak aktif atau rewel ketika jam tidur tiba. 

Namun, tahukah Mama bahwa perilaku tersebut sebenarnya adalah "bahasa tubuh" si Kecil untuk menyampaikan kebutuhan yang belum terpenuhi? 

Memahami apa yang terjadi di balik perilaku tersebut akan membantu Mama menciptakan suasana transisi yang lebih damai menuju alam mimpi.

Berikut Popmama.com rangkum 7 hal yang sebenarnya dibutuhkan si Kecil sebelum tidur!

Table of Content

1. Mengalihkan anak yang masih lari-larian

1. Mengalihkan anak yang masih lari-larian

2 anak lompat di kasur
Pexels/RDNE Stock Project

Si Kecil yang masih berlarian ke sana kemari saat jam tidur tiba bukan berarti mereka menolak untuk tidur atau tidak merasa lelah sama sekali. Hal ini sering kali merupakan tanda bahwa energi sisa mereka masih butuh disalurkan atau mereka sedang berjuang melawan rasa kantuknya sendiri. 

Dibandingkan langsung memarahi atau memaksa mereka diam, cobalah berikan aktivitas yang lebih tenang namun tetap melibatkan gerakan, seperti merapikan mainan bersama atau berjalan pelan menuju kamar mandi. 

Aktivitas ini membantu tubuh mereka memberikan sinyal pada otak bahwa ritme gerak sudah harus mulai melambat, sehingga proses menuju tempat tidur terasa lebih alami dan minim drama penolakan.

2. Ketenangan untuk mengatasi overstimulated

Mama tertawa dengan anak
Pexels/Arina Krasnikova

Melihat si Kecil yang semakin aktif, tertawa-tawa dengan sangat keras, atau bahkan berteriak kegirangan menjelang jam tidur sering kali dianggap sebagai tanda bahwa mereka sedang sangat bahagia. 

Padahal, perilaku ini bisa jadi merupakan tanda si Kecil sedang overstimulated atau terlalu banyak menerima rangsangan sensorik sepanjang hari. Yang mereka butuhkan sebenarnya bukanlah tawa tambahan, melainkan lingkungan yang tenang dengan lampu redup dan suara yang rendah. 

Suasana yang sunyi akan membantu menurunkan tingkat hormon stres yang membuat mereka tetap terjaga, sehingga sistem saraf mereka perlahan kembali rileks dan siap untuk memasuki fase istirahat yang sesungguhnya.

3. Pelukan hangat saat anak tantrum karena kelelahan

Mama memeluk anak-anaknya
Pexels/cottonbro studio

Pernahkah Mama menghadapi si Kecil yang mendadak tantrum atau sangat rewel menjelang tidur tanpa alasan yang jelas? Hal ini sering kali disalahartikan sebagai upaya mencari perhatian atau sikap manja. 

Kenyataannya, si Kecil yang sudah terlalu lelah akan kehilangan kemampuan untuk meregulasi emosinya sendiri. Mereka merasa tidak nyaman dengan tubuhnya sendiri tetapi tidak tahu cara menyampaikannya. 

Dalam kondisi ini, mereka sangat membutuhkan kehadiran Mama dalam bentuk pelukan erat atau sentuhan yang menenangkan.

Rasa aman dari pelukan Mama akan menurunkan tingkat kecemasan mereka, membantu mereka merasa "terjaga", hingga akhirnya emosi mereka mereda dan mereka bisa tertidur dengan tenang.

4. Pijatan ringan bagi tubuh yang belum siap diam

Mama memijat tangan anak
Pexels/Ksenia Chenarya

Saat si Kecil terlihat tidak bisa diam di atas kasur, terus menggeliat, atau menggerakkan kakinya, jangan terburu-buru menganggap mereka bandel atau sengaja mengulur waktu. 

Terkadang, sistem sensorik si Kecil memang belum siap untuk langsung diam dan rileks setelah seharian bergerak aktif. Tubuh mereka masih merasakan sisa-sisa ketegangan otot yang butuh dilepaskan secara perlahan. 

Mama bisa membantu proses ini dengan memberikan pijatan ringan di area kaki atau punggung sambil membacakan cerita dengan suara yang lembut.

Elusan dan tekanan lembut pada kulit akan merangsang saraf parasimpatis yang berfungsi untuk menenangkan tubuh, sehingga si Kecil merasa lebih nyaman untuk mulai memejamkan mata.

5. Ketika anak yang terus minta digendong

Anak laki-laki memeluk Mama
Pexels/RDNE Stock Project

Si Kecil yang terus-menerus minta digendong atau nempel dengan Mama saat akan tidur bukan berarti mereka tumbuh menjadi anak yang terlalu ketergantungan. 

Bagi anak-anak, momen transisi dari kondisi sadar menuju tidur adalah momen yang penuh ketidakpastian secara emosional. Mereka membutuhkan rasa aman sebelum tidur. 

Dengan digendong atau berada sangat dekat dengan Mama, mereka bisa merasakan detak jantung dan kehangatan yang familiar, yang memberikan rasa bahwa mereka dalam keadaan aman dan terlindungi. 

Begitu kebutuhan akan rasa aman ini terpenuhi secara penuh, si Kecil biasanya akan lebih mudah untuk diletakkan di kasur dan tidur dengan perasaan yang jauh lebih stabil.

6. Tidak bermain gadget untuk membantu mata terpejam

Anak perempuan bermain tablet di kasur
Pexels/cottonbro studio

Jika si Kecil terlihat sulit memejamkan mata padahal lampu kamar sudah dimatikan dan suasana sudah gelap, cobalah evaluasi penggunaan gadget sebelum tidur. 

Paparan layar gadget menghambat produksi hormon melatonin yang bertugas memberikan sinyal "waktu tidur" pada otak. Si Kecil yang matanya tetap segar meski sudah waktunya tidur sebenarnya membutuhkan waktu detoks dari stimulasi visual yang berlebihan. 

Untuk itu, jauhkan semua perangkat digital minimal satu jam sebelum tidur dan ajaklah si Kecil pelan-pelan untuk menutup matanya sambil melakukan teknik pernapasan sederhana atau membayangkan hal-hal yang menyenangkan. 

Langkah ini sangat efektif untuk membantu otak beristirahat dari distraksi dan memudahkan proses masuk ke fase tidur nyenyak.

7. Validasi perasaan agar anak cepat tidur

Anak perempuan memeluk Mama
Pexels/Nicola Barts

Poin terakhir yang sering terlupakan adalah kebutuhan si Kecil untuk divalidasi perasaannya sebelum hari berakhir. 

Terkadang, kegelisahan si Kecil sebelum tidur bersumber dari kejadian yang mereka alami sepanjang hari, baik itu rasa takut, senang, maupun sedih. Yang mereka butuhkan hanyalah didengarkan. 

Mama bisa menutup hari dengan sesi "curhat" singkat tentang apa yang paling berkesan bagi mereka hari ini. Mendengar Mama mengakui perasaan mereka, seperti "Mama tahu tadi kamu sedih saat mainannya rusak", akan membuat beban emosional si Kecil terasa ringan. 

Menutup hari dengan hati yang tenang dan perasaan dimengerti adalah kunci utama agar si Kecil tidak mengalami mimpi buruk dan bisa bangun dengan perasaan bahagia keesokan harinya.

Memahami kebutuhan emosional dan fisik si Kecil di balik perilaku "ajaib" mereka sebelum tidur memang butuh kesabaran ekstra ya, Ma. 

Namun, dengan memberikan respon yang tepat, Mama tidak hanya membantu mereka tidur lebih cepat, tapi juga membangun kepercayaan yang mendalam antara Mama dan si Kecil.

Biasanya, perilaku "ajaib" mana yang paling sering muncul dari si Kecil saat sudah disuruh masuk ke kamar untuk tidur, Ma?

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Related Articles

See More