5 Pelajaran dari Co-Parenting Daehoon yang Batasi Akses Anak ke Jule

- Na Daehoon mengumumkan pembatasan akses anak-anaknya dengan mantan istri, Jule, melalui Instagram demi melindungi tumbuh kembang anak, bukan karena emosi atau konflik pribadi.
- Daehoon menegaskan bahwa keputusan co-parenting harus berfokus pada kepentingan anak, termasuk aspek fisik, mental, emosional, dan spiritual agar perkembangan mereka tetap sehat dan seimbang.
- Ia menekankan pentingnya batasan yang jelas dalam co-parenting untuk menjaga keamanan anak tanpa memutus hubungan dengan ibu, serta memastikan lingkungan yang aman dan penuh kasih sayang.
Isu co-parenting kembali jadi sorotan setelah Na Daehoon menyampaikan pernyataan terkait pembatasan akses anak-anaknya dengan sang mantan istri, Jule pada Jumat (1/5/2026). Keputusan ini ia sampaikan langsung melalui Instagram pribadinya.
Dalam pernyataannya, Daehoon menegaskan bahwa langkah tersebut diambil bukan karena emosi, melainkan demi melindungi tumbuh kembang anak. Dari situ, ada beberapa pelajaran penting soal co-parenting yang bisa dipahami oleh orangtua.
Berikut Popmama.com rangkum informasi selengkapnya.
1. Hak asuh bukan berarti menutup akses orangtua lain

Hak asuh anak jatuh secara penuh ke Daehoon. Namun, ia tetap memberikan ruang bagi anak-anak untuk berinteraksi dengan mama dari anak-anak. Ini menunjukkan bahwa co-parenting tetap bisa berjalan meski secara hukum hak asuh hanya dipegang satu pihak.
“Selama ini, meskipun hak asuh berada pada saya, saya tetap membuka akses kepada ibu kandung anak-anak untuk memberikan kasih sayang kepada anak-anak,” jelas Daehoon.
Dalam praktiknya, anak tetap membutuhkan kehadiran kedua orangtua. Namun, akses tersebut tetap perlu disesuaikan dengan kondisi terbaik bagi anak.
2. Kepentingan anak harus jadi prioritas utama

Daehoon menegaskan bahwa semua keputusan terkait akses anak harus mempertimbangkan aspek tumbuh kembang secara menyeluruh. Ini jadi prinsip dasar dalam co-parenting yang sehat.
Artinya, bukan soal keinginan orangtua, tetapi bagaimana keputusan tersebut berdampak pada kondisi fisik, mental, dan emosional anak.
“Selama tidak mengganggu aktivitas anak-anak, perkembangan jiwa, pertumbuhan jasmani dan rohani, kecerdasan intelektual, serta pendidikan agama mereka,” tutur Daehoon.
3. Orangtua berhak mengambil batasan jika merasa anak tidak aman

Dalam kondisi tertentu, orangtua mungkin perlu mengambil langkah tegas. Daehoon menyebut adanya hal-hal yang dianggap tidak pantas bagi anak, sehingga ia merasa perlu membatasi akses.
“Beberapa hal yang menjadi perhatian serius bagi saya antara lain adanya tindakan yang menurut saya tidak pantas terhadap anak termasuk penggunaan produk kosmetik dewasa kepada anak, mempertemukan anak-anak dengan pihak yang berkaitan dengan permasalahan rumah tangga sebelumnya, serta membiarkan anak-anak terlibat atau digunakan untuk bahan lecehan dan merendahkan martabat saya sebagai ayah,” tutur Daehoon.
Ini menunjukkan bahwa co-parenting juga membutuhkan batasan yang jelas. Jika ada potensi risiko terhadap anak, perlindungan harus diutamakan.
4. Membatasi akses bukan berarti memutus hubungan

Daehoon menegaskan bahwa pembatasan akses bukan berarti melarang hubungan antara anak dan ibu. Ia tetap menghormati peran ibu dalam kehidupan anak-anaknya.
"Atas dasar hal-hal tersebut, saya akan membatasi akses anak-anak dengan mantan istri. Keputusan ini bukan diambil karena emosi, dendam, atau keinginan untuk memisahkan anak-anak dari ibu kandungnya, melainkan semata-mata demi menjaga keamanan, kenyamanan, kesehatan mental, serta tumbuh kembang anak-anak,” pungkas Daehoon.
Dalam co-parenting, batasan bisa diterapkan tanpa harus menghilangkan hubungan sepenuhnya. Terpenting adalah memastikan interaksi tetap sehat dan aman.
5. Lingkungan yang aman adalah prioritas utama anak

Di akhir unggahan, Daehoon menyebut tidak ingin memperpanjang konflik di ruang digital. Namun, ia juga tidak mau terus diam apabila nama baik anak-anak dan keluarga Daehoon diganggu. Itu menjadi tanggung jawabnya.
“Fokus saya sekarang adalah melindungi anak-anak, menjaga mereka tetap tumbuh dengan penuh kasih sayang, dan memastikan mereka berada di lingkungan yang aman, sehat, dan baik untuk masa depan mereka,” tutur Daehoon.
Pada akhirnya, tujuan utama dari setiap keputusan Daehoon sebagai orangtua adalah menciptakan lingkungan terbaik bagi anak. Baik itu dari segi fisik, mental, maupun sosial.
Itulah beberapa pelajaran dari co-parenting versi Daehoon. Setiap keluarga tentu memiliki dinamika berbeda, namun satu hal yang pasti: kepentingan anak harus selalu jadi prioritas utama.


















