Si Kecil memang selalu penuh kejutan ya, Ma. Terkadang, hal yang menurut Mama adalah bentuk kasih sayang atau bantuan, justru bagi mereka adalah "pemicu perang" yang bisa berakhir dengan tantrum hebat.
7 Hal yang Tanpa Sadar Membuat si Kecil Emosi

Terdapat tujuh hal sederhana yang sering memicu emosi si Kecil, mulai dari intervensi saat bermain hingga pemilihan pakaian tanpa memberi mereka pilihan.
Setiap pemicu berkaitan dengan kebutuhan si Kecil untuk merasa mandiri dan memiliki kendali atas aktivitasnya, termasuk saat belajar, bermain, makan, atau berekspresi.
Dengan memahami sumber emosinya dan memberi ruang bagi kemandirian si Kecil, orangtua dapat mengurangi tantrum serta membangun komunikasi yang lebih positif di rumah.
Memasuki fase ini, si Kecil mulai merasa memiliki kendali atas dunianya, sehingga intervensi sekecil apa pun dari orang dewasa bisa dianggap sebagai gangguan terhadap kemandirian mereka yang baru tumbuh.
Berikut Popmama.com rangkum 7 hal yang tanpa sadar sering bikin si Kecil emosi!
Table of Content
1. Merasa terganggu saat asyik belajar sendiri

Pernahkah Mama melihat si Kecil sedang fokus mencoba memasukkan balok atau memakai sepatu sendiri, lalu Mama datang membantu agar lebih cepat? Alih-alih berterima kasih, mereka justru sering kali menangis histeris atau membuang mainannya.
Bagi si Kecil momen ini adalah fase krusial mereka belajar memecahkan masalah. Saat Mama mengambil alih, mereka merasa kemampuannya direnggut. Mereka butuh merasa mampu menyelesaikan sesuatu dengan tangan mereka sendiri.
Jadi, selama tidak membahayakan, cobalah untuk menahan diri dan biarkan mereka berjuang sedikit lebih lama hingga mereka benar-benar meminta bantuan Mama.
2. Ikut menyanyikan lagu favorit mereka

Mungkin Mama berniat menunjukkan kekompakan dengan ikut bernyanyi saat lagu kesukaan si Kecil diputar, namun jangan kaget jika mereka tiba-tiba berteriak "Jangan!" atau menutup mulut Mama.
Di mata si Kecil, lagu tersebut adalah milik mereka dan mereka ingin menjadi bintang utamanya. Mereka sedang menikmati kontrol atas suara dan irama yang mereka hasilkan. Kehadiran suara Mama dianggap sebagai distraksi yang merusak momen "konser" pribadi mereka.
Sebaiknya, jadilah penonton yang suportif dengan memberikan tepuk tangan atau pujian setelah mereka selesai bernyanyi, agar mereka merasa dihargai tanpa merasa tersaingi.
3. Melahap makanan yang dititipkan pada Mama

Hati-hati jika si Kecil menitipkan sepotong biskuit atau makanannya kepada Mama. Jangan sekali-kali menganggap itu adalah pemberian untuk Mama makan! Bagi mereka, Mama adalah "tempat penyimpanan" yang aman.
Saat mereka melihat makanan tersebut hilang karena Mama makan, mereka merasa dikhianati dan kehilangan sesuatu yang menjadi hak miliknya. Logika si Kecil belum sampai pada konsep berbagi, mereka hanya tahu bahwa barang miliknya harus tetap ada saat mereka membutuhkannya kembali.
Jadi, pastikan Mama selalu meminta izin atau lebih baik hanya berpura-pura menjaganya sampai mereka memintanya lagi.
4. Membereskan mainan yang belum selesai

Bagi Mama, tumpukan balok atau susunan kereta di tengah ruang tamu mungkin terlihat seperti berantakan yang harus segera dibersihkan. Namun bagi si Kecil, itu adalah mahakarya atau "proyek" yang sedang dalam proses pengerjaan.
Membereskan mainan tanpa izin mereka sebelum mereka benar-benar selesai bermain bisa memicu emosi besar. Mereka merasa usaha dan kreativitasnya tidak dihargai.
Jika memang ruangan harus segera dibersihkan, cobalah berkomunikasi terlebih dahulu atau ajak mereka melakukan "upacara penutupan" proyek tersebut agar mereka merasa memiliki kendali untuk mengakhiri permainannya sendiri secara sadar.
5. Bermesraan di depan anak secara berlebihan

Mungkin terdengar lucu, tapi banyak anak yang merasa cemburu atau kesal saat melihat Mama dan Papa saling berpelukan atau bermesraan di depan mereka. Hal ini terjadi karena mereka merasa perhatian yang seharusnya tertuju pada mereka tiba-tiba teralihkan.
Di usia ini, si Kecil masih merasa sebagai pusat dunia, sehingga melihat orang tuanya asyik sendiri bisa menimbulkan rasa tidak aman atau perasaan dikesampingkan.
Bukan berarti Mama tidak boleh menunjukkan kasih sayang pada pasangan, tapi cobalah untuk selalu melibatkan si Kecil dalam momen tersebut, misalnya dengan melakukan "pelukan bertiga" agar ia tetap merasa menjadi bagian dari kasih sayang keluarga.
6. Menyuruh selesai mandi saat masih asyik bermain

Waktu mandi bagi si Kecil bukan sekadar urusan membersihkan badan, melainkan sesi eksplorasi sensorik yang sangat seru.
Saat Mama tiba-tiba menyuruh mereka menyudahi permainan air karena sudah terlalu lama, hal ini sering kali memicu tantrum di kamar mandi.
Transisi dari aktivitas yang sangat menyenangkan ke aktivitas rutin (seperti memakai baju) adalah hal yang sulit bagi mereka. Mereka membutuhkan peringatan bertahap, misalnya dengan mengatakan "5 menit lagi selesai ya," agar mereka siap untuk berhenti.
Pemaksaan untuk langsung berhenti hanya akan membuat mereka merasa hak bermainnya dirampas secara tidak adil.
7. Memilihkan pakaian tanpa memberi opsi

Seiring tumbuhnya rasa percaya diri, si Kecil mulai ingin menentukan identitasnya sendiri, termasuk dalam hal berpakaian. Memaksa mereka memakai baju pilihan Mama tanpa diskusi sering kali berakhir dengan aksi mogok berpakaian.
Mereka ingin merasa punya suara dalam menentukan apa yang melekat di tubuh mereka. Untuk menghindari emosi ini, Mama bisa memberikan "pilihan terbatas", misalnya dengan menawarkan dua kaos yang berbeda.
Dengan cara ini, Mama tetap bisa mengontrol keserasian pakaian, sementara Si Kecil tetap merasa bangga karena ia diberi kesempatan untuk memilih dan memutuskan sendiri apa yang ia inginkan.
Memahami apa yang menjadi "pemicu emosi" si Kecil memang butuh observasi yang jeli. Dengan memberikan sedikit ruang bagi kemandirian mereka, Mama bisa mengurangi frekuensi tantrum dan membangun komunikasi yang lebih harmonis.
Pernahkah Mama niatnya mau bantu, tapi si Kecil malah marah besar? Hal sepele apa yang biasanya paling cepat bikin si Kecil Mama emosi di rumah?


















