7 Penyebab Rabun Jauh pada Anak Balita

- Kurang konsumsi makanan Zat Karoten menyebabkan rabun jauh
- Menatap layar gawai telalu dekat membuat rabun jauh pada mata
- Tidur dalam kamar dengan cahaya yang terang menyebabkan rabun jauh jika tidak dibiarkan begitu saja
Rabun jauh atau miopia merupakan salah satu gangguan penglihatan yang semakin sering dialami anak-anak di era modern saat ini. Kondisi ini terjadi, ketika bayangan cahaya yang masuk ke mata tidak jatuh tepat di retina, melainkan di bagian depan retina, sehingga membuat objek yang berada pada jarak jauh tampak kabur.
Tak hanya dialami orang dewasa, rabun jauh kini banyak ditemukan pada anak-anak sejak usia dini. Kondisi ini tentu tidak boleh dianggap sepele, Ma. Selain karena tak sedap dipandang, hal ini juga dapat mengganggu aktivitas belajar si Kecil, seperti kesulitan membaca tulisan di papan tulis, menurunnya konsentrasi, hingga memengaruhi prestasi akademik.
Jika tidak ditangani sejak awal, miopia juga berisiko berkembang menjadi gangguan penglihatan yang lebih berat di kemudian hari.
Agar dapat memberikan perlindungan terbaik di rumah, berikut Popmama.com telah merangkum penyebab rabun jauh pada anak secara lebih mendalam guna membantu mencegah risikonya, Ma. Yuk, disimak!
Table of Content
1. Kurang konsumsi makanan yang mengandung Zat Karoten

Asupan nutrisi memegang peran penting dalam menjaga kesehatan mata anak. Salah satu zat yang dibutuhkan adalah karoten, yaitu senyawa yang akan diubah tubuh menjadi vitamin A dan berfungsi dalam menjaga kesehatan retina serta ketajaman penglihatan.
Zat Karoten, banyak ditemukan dalam beragam sayuran berwarna seperti wortel, bayam, tomat, labu, atau buah-buahan seperti pepaya, pisang, apel dan buah naga. Kekurangan zat ini diketahui dapat mengganggu fungsi penglihatan anak, terutama pada masa pertumbuhan.
Menurut Dr. Parul Ichhpujani dari Gleneagles Hospital, India, menyebutkan bahwa asupan antioksidan alami termasuk beta-karoten, berperan penting dalam melindungi sel-sel retina dari stres oksidatif dan menjaga fungsi penglihatan anak dalam jangka panjang. Langkah sederhana ini tidak hanya mendukung kesehatan mata, tetapi juga membantu mengoptimalkan tumbuh kembang anak secara tepat.
2. Menatap layar gawai telalu dekat

Paparan layar digital menjadi salah satu faktor terbesar meningkatnya kasus miopia pada anak. Penggunaan ponsel, tablet, laptop, dan televisi dalam jarak dekat dan durasi lama membuat otot mata bekerja terus-menerus untuk fokus pada jarak pendek.
Penelitian dalam jurnal Ophthalmology (2019), menyebutkan bahwa anak yang menghabiskan lebih dari dua jam per hari di depan layar, memiliki risiko miopia jauh lebih tinggi dibandingkan anak yang aktivitas menatap gawainya dibatasi. Menatap layer gawai dinilai dapat merusak retina mata jika dilakukan secara berulang.
3. Tidur dalam kamar dengan cahaya yang terang

Tak banyak yang tahu, kebiasaan tidur dengan lampu menyala yang kuat juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko rabun jauh pada anak lho, Ma. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Nature menemukan bahwa paparan cahaya terang saat tidur pada bayi usia 0–2 tahun berkaitan dengan peningkatan risiko rabun jauh saat memasuki usia kanak-kanak.
Menurut Dr. Quinn M. Gehle, MD, dokter spesialis mata anak American Academy of Ophthalmology (AAO), cahaya buatan di malam hari dinilai dapat menghambat produksi melatonin.
Suatu hormon yang mengatur siklus tidur sekaligus berperan dalam menjaga kesehatan retina. Gangguan pada produksi melatonin ini, berpotensi memengaruhi perkembangan struktur mata anak dalam jangka panjang. Cahaya buatan di malam hari juga dinilai dapat mengganggu ritme sirkadian serta perkembangan sistem visual yang seharusnya beradaptasi dengan kondisi gelap saat tidur.
4. Kebiasaan membaca tulisan berukuran kecil

Mengajarkan kebiasaan membaca sejak dini merupakan langkah positif yang patut didukung oleh orangtua. Namun, permasalahan dapat muncul ketika anak terlalu sering membaca tulisan berukuran kecil atau dalam jarak yang terlalu dekat. Kondisi ini membuat anak harus menyipitkan mata dan memaksakan fokus, seolah bertanya apakah teks yang dibaca sudah cukup jelas atau belum.
Menurut berbagai penelitian oftalmologi, aktivitas membaca dengan jarak dekat dalam durasi lama dapat memicu kelelahan otot mata (eye strain), jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan ini dapat meningkatkan risiko rabun jauh pada anak, terutama pada masa pertumbuhan, ketika struktur mata si Kecil masih dalam proses perkembangan.
5. Faktor genetik

Faktor genetik atau keturunan diketahui memiliki peran penting dalam terjadinya miopia dan rabun jauh pada anak. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa anak yang memiliki satu atau kedua orangtua dengan riwayat rabun jauh, berisiko dua hingga tiga kali lebih tinggi mengalami kondisi serupa dibandingkan anak tanpa riwayat keluarga miopia.
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Ophthalmology, menyebutkan bahwa risiko miopia meningkat signifikan pada anak yang kedua orangtuanya memiliki rabun jauh, terutama jika kondisi tersebut muncul sejak usia muda. Hal ini berkaitan dengan faktor gen yang memengaruhi panjang bola mata, kelengkungan kornea, serta kemampuan akomodasi lensa.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa faktor keturunan bukanlah satu-satunya penentu. Lingkungan dan gaya hidup tetap memegang peranan besar dalam perkembangan rabun jauh pada anak.
6. Kurangnya paparan cahaya alami

Paparan cahaya alami memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan mata dan perkembangan sistem penglihatan anak. Kurangnya paparan cahaya matahari, dinilai dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan refraksi, termasuk rabun jauh atau miopia. Kondisi ini terjadi ketika retina membutuhkan stimulasi cahaya alami untuk membantu mengatur pertumbuhan bola mata.
Selain itu, perbedaan kontras cahaya yang ekstrem, seperti terlalu sering berada di ruangan gelap lalu menatap layar terang juga menjadi penyebab rabun jauh pada anak.
Hal itu memaksa retina bekerja ekstra, situasi ini dapat mempercepat kelelahan mata, mengganggu proses adaptasi visual, dan dalam jangka panjang meningkatkan risiko rabun jauh pada anak. Untuk itu, para ahli menganjurkan untuk bermain di luar ruangan minimal 1-2 jam per hari yang efektif menurunkan risiko perkembangan rabun jauh pada anak.
7. Kelahiran prematur

Anak yang lahir prematur atau memiliki berat badan lahir rendah (BBLR), diketahui memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan refraksi, termasuk rabun jauh. Hal ini berkaitan dengan perkembangan anatomi mata yang belum sempurna saat lahir, sehingga lebih rentan mengalami gangguan penglihatan di masa balita dan kanak-kanak.
Secara fisiologis, perkembangan mata berlangsung pesat pada trimester ketiga kehamilan. Bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu belum memiliki kematangan struktur okular yang optimal. Akibatnya, proses emetropisasi. Suatu penyesuaian alami mata untuk menghasilkan penglihatan normal dapat terganggu, sehingga meningkatkan risiko terjadinya kelainan refraksi.
Itulah, Ma, deretan informasi penting mengenai penyebab rabun jauh pada anak yang perlu kita waspadai bersama. Mari untuk selalu menjaga kesehatan anak bersama dengan mencegah ha-hal buruk terjadi pada anak dengan meningkatkan kewaspadaan sedini mungkin.


















