Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

Pentingnya Edukasi Bagian Vital Anak yang Tidak Boleh Disentuh Orang

Mama mencium anak
Freepik/prostooleh
Intinya sih...
  • Maraknya kasus kekerasan membuat Mama perlu mengajarkan bagian vital dan batasan sentuhan kepada si Kecil sejak dini

  • Si Kecil perlu tahu bahwa bagian vital seperti kemaluan, bokong, dada, dan mulut tidak boleh disentuh oleh siapa pun, termasuk orang keluarga

  • Melihat tingginya kasus kekerasan terhadap anak di Indonesia, edukasi bagian vital menjadi bekal penting agar si Kecil bisa melindungi diri

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kekhawatiran Mama terhadap keselamatan si Kecil semakin meningkat di tengah maraknya kasus penculikan dan kekerasan terhadap anak.

Salah satu langkah penting yang bisa Mama lakukan adalah mengajarkan si Kecil tentang bagian vital sejak dini.

Hal ini penting mengingat bahaya bisa datang dari mana saja, termasuk dari orang-orang terdekat. Edukasi tentang batasan tubuh dan cara melindungi diri menjadi bekal penting untuk si Kecil menghadapi potensi bahaya.

Berikut Popmama.com merangkum pentingnya edukasi bagian vital si Kecil yang tidak boleh disentuh orang.

Table of Content

1. Ajarkan edukasi bagian vital tubuh ke si Kecil

1. Ajarkan edukasi bagian vital tubuh ke si Kecil

Mama menggendong anak
Freepik/prostooleh

Akun Instagram @ana_lesha_ membagikan video edukasi bagian vital kepada anak berusia 19 bulan. Video ini menampilkan metode sederhana namun efektif untuk mengajarkan si Kecil melindungi diri sejak dini.

"Kalo ada yang pegang, kakak harus teriak," ujar sang ibu, mengajarkan respons cepat yang harus dilakukan si kecil saat menghadapi bahaya.

Bagian tubuh yang tidak boleh disentuh oleh siapa pun, yaitu kemaluan, bokong, dada, dan mulut. Tidak ada satu pun orang yang boleh menyentuh bagian-bagian tersebut, termasuk ayah, kakak, paman, tante, kakek, dan nenek.

Mengajarkan bagian vital anak memerlukan pendekatan yang disesuaikan dengan tingkat pemahaman si Kecil. Berikut beberapa cara yang bisa Mama terapkan:

  • Gunakan instruksi sederhana dan jelas

Ajarkan dengan instruksi yang mudah dipahami karena si Kecil belum memahami konsep yang rumit. Sebutkan bagian tubuh yang tidak boleh disentuh secara langsung dan gunakan nama anatomi yang benar, bukan nama panggilan yang membuat si Kecil bingung.

  • Latih respons yang mudah diingat

Ajari si Kecil respons sederhana seperti berteriak minta tolong, memanggil Mama, dan lari. Ulangi latihan ini sesekali agar si Kecil mengingat dan bisa melakukannya secara refleks saat dibutuhkan.

  • Jelaskan konsep sentuhan baik dan buruk

Seiring bertambahnya usia, si Kecil perlu memahami perbedaan antara sentuhan baik dan sentuhan buruk. Sentuhan baik misalnya pelukan dari Mama atau jabat tangan dengan teman, sementara sentuhan buruk adalah sentuhan yang membuat tidak nyaman atau di bagian vital.

  • Tekankan pentingnya melapor ke Mama

Ajarkan si Kecil untuk selalu bilang ke Mama jika ada yang menyentuh bagian vital mereka, bahkan jika orang tersebut meminta untuk tidak memberitahu siapa pun. Tekankan bahwa tidak ada rahasia yang harus disimpan dari Mama dan Papa, terutama yang berhubungan dengan tubuh mereka.

  • Ajarkan tentang consent dan cara menolak

Jelaskan kepada si Kecil bahwa mereka berhak menolak sentuhan apa pun yang membuat tidak nyaman, bahkan dari keluarga atau teman. Ajarkan cara menolak dengan tegas menggunakan kata-kata seperti "Jangan sentuh aku" atau "Stop, aku tidak suka". Berikan juga contoh situasi nyata dan bagaimana cara menghadapinya agar si Kecil lebih siap.

  • Ciptakan suasana diskusi yang nyaman.

Gunakan bahasa yang sesuai usia dan tidak menakut-nakuti. Tujuannya adalah memberdayakan si Kecil, bukan membuat mereka takut berinteraksi dengan orang lain. Ciptakan suasana yang nyaman saat berdiskusi tentang tubuh agar si Kecil tidak merasa tabu atau malu untuk bertanya.

2. Alasan edukasi bagian vital harus diajarkan sedini mungkin

Mama memangku anak
Freepik/bristekjegor

Mungkin Mama ragu atau merasa terlalu dini untuk mengajarkan tentang bagian vital kepada si Kecil. Padahal, edukasi ini justru perlu dimulai sedini mungkin agar tertanam kuat dalam ingatan si Kecil.

Mengajarkan body autonomy atau otonomi tubuh sejak kecil memberikan berbagai manfaat penting untuk perkembangan dan keselamatan si Kecil, seperti:

  • Si Kecil bisa mengenali bahaya dan melindungi diri

Dengan memahami bagian tubuh mana yang bersifat privat, si Kecil dapat mengenali ketika ada sentuhan yang tidak seharusnya terjadi. Mereka juga tahu harus berbuat apa ketika menghadapi situasi berbahaya.

  • Membangun kesadaran tentang batasan tubuh

Si Kecil yang diajarkan tentang bagian vital akan memahami bahwa tubuhnya adalah miliknya sendiri. Tidak ada orang lain yang berhak menyentuh bagian-bagian tertentu tanpa alasan yang jelas dan tepat, seperti saat mandi atau saat sakit dan harus diperiksa dokter dengan didampingi orangtua.

  • Membangun komunikasi terbuka dengan orangtua

Ketika Mama mengajarkan tentang bagian vital dengan cara yang positif dan tidak menakutkan, si Kecil akan merasa nyaman untuk bercerita jika ada hal yang tidak beres. Komunikasi terbuka ini sangat penting agar si Kecil tidak menyimpan rahasia berbahaya.

Edukasi bagian vital adalah bentuk pencegahan pertama terhadap kekerasan seksual. Si Kecil yang paham tentang batasan tubuh dan berani melaporkan akan lebih terlindungi dari potensi kekerasan.

3. Penculikan dan kekerasan seksual masih marak di Indonesia

Anak memeluk Mama
Freepik/jcomp

Pentingnya mengajarkan bagian vital sejak dini semakin relevan melihat data kekerasan terhadap anak yang masih tinggi di Indonesia.

Berdasarkan data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) pada tahun 2025, tercatat total 35.131 kasus kekerasan terhadap anak.

Dari total tersebut, korban perempuan mencapai 30.013 kasus, sementara korban laki-laki sebanyak 7.359 kasus. Yang paling mengkhawatirkan, kekerasan seksual menempati urutan kedua tertinggi dengan 15.305 kasus, disusul dengan kekerasan fisik yang mencapai 12.160 kasus.

Data berdasarkan usia korban menunjukkan bahwa:

  • Usia 0-5 tahun: 2.550 korban

  • Usia 6-12 tahun: 7.277 korban

  • Usia 13-17 tahun: 13.216 korban

Mirisnya, rumah tangga menjadi tempat dengan jumlah korban tertinggi, yaitu 21.735 korban. Ini menunjukkan bahwa bahaya justru sering datang dari lingkungan terdekat anak, bukan dari orang asing.

Intinya, Ma, pengawasan dari Mama saja tidak cukup. Si Kecil perlu dibekali pengetahuan dan kemampuan untuk melindungi diri mereka sendiri. Edukasi bagian vital bukan lagi sesuatu yang tabu atau terlalu dini untuk diajarkan, melainkan kebutuhan mendesak dan hak setiap anak.

Jika melihat aktivitas mencurigakan atau si Kecil mengalami kekerasan, jangan ragu untuk segera melaporkan ke nomor darurat 110, KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia), atau kantor polisi terdekat.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Latest in Kid

See More

7 Penyebab Rabun Jauh pada Anak Balita

13 Feb 2026, 18:32 WIBKid