Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

13 Cara Menghadapi Anak yang Memukul dan Menendang saat Tantrum

13 Cara Menghadapi Anak yang Memukul dan Menendang saat Tantrum
Popmama.com/Violin Heldina/AI
  • Memukul, menendang, menggigit, atau melempar saat tantrum cukup umum pada anak kecil yang belum mampu mengungkapkan dan mengelola emosi besar, bukan otomatis tanda anak nakal.
  • Saat tantrum memuncak, utamakan keselamatan: jauhkan benda berbahaya, pindahkan dari area berisiko, lindungi orang sekitar, dan gunakan kalimat singkat serta tegas tanpa ceramah panjang.
  • Setelah anak tenang, orangtua perlu membahas pemicu, menetapkan batasan konsisten, dan melatih alternatif seperti mengungkapkan perasaan, meminta bantuan, menarik napas, atau menenangkan diri.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Tantrum bisa menjadi salah satu momen paling melelahkan bagi orangtua. Apalagi kalau tangisan dan teriakan si Kecil mulai disertai dengan memukul, menendang, menggigit, atau melempar barang.

Rasanya mungkin campur aduk, antara ingin menenangkan anak, khawatir ada yang terluka, sekaligus bingung harus berbuat apa.

Mama mungkin juga bertanya-tanya:

“Kenapa anak saya sampai seperti ini?”

“Apakah perilaku agresif ini normal?”

Sebenarnya, perilaku fisik saat tantrum cukup sering terjadi pada anak, terutama ketika mereka belum mampu mengungkapkan emosi dengan kata-kata.

Saat sedang sangat marah atau frustrasi, anak bisa kehilangan kendali dan bereaksi menggunakan tubuhnya.

Lantas, apa yang sebaiknya Mama lakukan ketika menghadapi situasi seperti ini? Berikut Popmama.com telah merangkum 13 hal yang bisa Mama pahami.

Yuk, simak!

  1. 1. Ingat, perilaku ini cukup normal terjadi

    Jangan panik ketika anak tantrum, karena itu hal yang normal terjadi
    Pexels/Pavel Danilyuk

    Melihat anak tiba-tiba memukul atau menendang ketika tantrum tentu bisa membuat Mama kaget.

    Namun, Mama tidak perlu langsung berpikir bahwa si Kecil memiliki masalah perilaku. Perilaku seperti memukul, menendang, menggigit, berteriak, atau melempar barang cukup sering muncul pada anak usia dini, terutama ketika mereka sedang belajar mengelola emosi.

    Anak kecil sebenarnya bisa merasakan emosi yang sangat besar, tetapi belum selalu tahu bagaimana cara menyampaikannya.

    Ketika merasa marah, kecewa, lelah, atau frustrasi, mereka mungkin belum bisa mengatakan:

    “Aku kesal karena Mama tidak mengizinkanku melakukan itu.”

    Akhirnya, emosi tersebut keluar melalui tindakan fisik. Jadi, ketika hal ini terjadi, Mama bisa mengingat bahwa si Kecil masih sedang belajar.

    Bukan berarti perilakunya boleh dibiarkan, tetapi anak memang membutuhkan bantuan untuk memahami apa yang sedang terjadi pada dirinya.

    Dengan pendampingan yang konsisten, anak perlahan dapat belajar bahwa marah boleh, tetapi memukul dan menendang bukan cara yang tepat untuk melampiaskannya.

  2. 2. Anak sedang berada dalam kondisi stres

    Anak melepaskan tekanan emosionalnya dengan tantrum
    Magnific/krakenimages

    Ketika tantrum sudah sangat besar, anak sebenarnya sedang mengalami tekanan emosional yang tidak mudah untuk mereka kendalikan. Tubuhnya bisa masuk ke dalam respons stres, sehingga ia lebih banyak bereaksi daripada berpikir.

    Dalam kondisi seperti ini, anak mungkin memukul, menendang, mendorong, atau melempar sesuatu secara spontan.

    Bukan karena ia sudah merencanakan untuk menyakiti Mama atau orang lain, tetapi karena emosinya sedang mengambil alih.

    Bayangkan ketika Mama sedang sangat marah. Rasanya mungkin sulit untuk langsung berpikir jernih, bukan?

    Anak mengalami hal yang sama, hanya saja kemampuan mereka untuk mengatur emosi masih jauh lebih terbatas.

    Karena itu, jangan berharap anak bisa langsung mendengarkan nasihat panjang ketika sedang berada di puncak tantrum. Otaknya belum berada dalam kondisi yang tepat untuk menerima banyak penjelasan.

    Yang paling dibutuhkan saat itu adalah rasa aman dan bantuan agar kembali tenang. Setelah emosinya mereda, barulah Mama bisa mengajak si Kecil membicarakan apa yang terjadi.

  3. 3. Singkirkan benda yang bisa membahayakan anak

    Singkirkan benda berbahaya disekitarnya ketika anak sedang tantrum
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Ketika anak mulai memukul, menendang, atau melempar barang, hal pertama yang perlu Mama pikirkan adalah keamanan.

    Jangan terlalu sibuk memikirkan bagaimana membuat anak segera berhenti menangis sampai lupa memperhatikan benda-benda di sekitarnya.

    Singkirkan benda yang berisiko:

    • pecah,
    • tajam,
    • berat,
    • melukai anak maupun orang lain.

    Jika si Kecil sedang tantrum di dekat tangga, jalan, atau tempat yang berbahaya, Mama juga bisa membawanya ke area yang lebih aman.

    Lakukan dengan tenang dan seperlunya. Mama tidak perlu mengancam atau memarahi anak sambil memindahkannya.

    Pada saat tantrum sedang memuncak, tujuan Mama bukan memenangkan pertengkaran atau membuat anak langsung menurut. Yang paling penting adalah memastikan tidak ada yang terluka.

    Setelah situasinya lebih tenang, Mama baru bisa membicarakan perilaku yang tadi terjadi dan membantu anak memahami batasan yang perlu ia ikuti.

  4. 4. Anak belum pandai mengendalikan dorongan

    Impuls pada anak masih dalam tahap perkembangan
    Pexels/kaboompics

    Pernah melihat anak melakukan sesuatu lalu beberapa detik kemudian terlihat seperti menyesal? Hal ini bisa terjadi karena kemampuan mengendalikan impuls pada anak memang masih berkembang.

    Saat emosi sedang besar, anak belum selalu mampu berhenti dan berpikir:

    “Kalau aku memukul, orang lain bisa sakit.”

    Dorongan untuk melakukan sesuatu bisa muncul lebih cepat daripada kemampuan mereka untuk menahannya.

    Itulah mengapa Mama mungkin merasa sudah berkali-kali mengatakan:

    “Jangan pukul,” tetapi si Kecil tetap melakukannya ketika sedang tantrum.

    Bukan berarti anak sengaja mengabaikan Mama. Ia memang masih belajar mengendalikan dirinya.

    Tentu saja, Mama tetap perlu memberikan batasan. Katakan dengan tegas bahwa memukul atau menendang tidak boleh dilakukan.

    Namun, jangan berharap satu kali nasihat langsung membuat anak mampu mengendalikan semua emosinya.

    Kemampuan tersebut membutuhkan latihan berulang. Mama bisa membantu dengan mengajarkan pilihan lain, seperti mengatakan “aku marah”, menjauh sebentar, meminta bantuan, atau menarik napas ketika mulai merasa kesal.

  5. 5. Coba tetap tenang karena anak bisa ikut merasakan ketenangan Mama

    Mama harus tetap tenang ketika anak sedang mengalami tantrum
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Ini mungkin terdengar sederhana, tetapi sebenarnya sangat penting. Ketika anak sedang meledak-ledak, Mama mungkin ikut merasa ingin berteriak.

    Apalagi jika sebelumnya sudah berkali-kali meminta anak berhenti.

    Namun, semakin Mama ikut terbawa emosi, situasinya bisa semakin sulit.

    Anak membutuhkan orang dewasa yang bisa menjadi tempat aman ketika emosinya sedang berantakan.

    Mama tidak harus selalu tenang sempurna. Wajar kalau merasa kesal atau lelah. Namun, sebisa mungkin hindari membalas teriakan anak dengan teriakan yang lebih keras.

    Gunakan suara yang lebih pelan dan kalimat singkat. Misalnya:

    “Mama tahu kamu marah. Mama di sini.”

    “Kamu boleh marah, tapi Mama tidak akan membiarkan kamu memukul.”

    Ketenangan Mama tidak berarti membiarkan perilaku agresif. Justru, Mama sedang menunjukkan bagaimana menghadapi emosi besar tanpa ikut meledak.

    Lama-kelamaan, si Kecil akan belajar dari pengalaman tersebut. Ia melihat bahwa ketika emosi sedang besar, ada cara lain untuk menghadapinya selain berteriak, memukul, atau menendang.

  6. 6. Ini bukan sekadar anak nakal

    Anak tantrum bukan berarti ia nakal, coba untuk memahami situasi anak
    Pexels/Yan Krukau

    Ketika anak memukul atau menendang, label nakal mungkin menjadi hal pertama yang muncul di pikiran Mama. Namun, coba lihat lagi apa yang sebenarnya sedang terjadi.

    Anak mungkin sedang marah karena keinginannya tidak terpenuhi. Bisa juga karena ia terlalu lelah, lapar, kecewa, takut, atau tidak tahu bagaimana menyampaikan perasaannya.

    Bagi orang dewasa, masalah tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi anak, perasaan yang muncul bisa terasa sangat besar.

    Karena itu, perilaku agresif saat tantrum tidak selalu berarti anak sedang sengaja mencari masalah.

    Ada kalanya ia memang belum tahu cara mengelola emosinya.

    Meski begitu, memahami penyebabnya bukan berarti membenarkan perilakunya. Mama tetap perlu mengajarkan bahwa memukul, menendang, atau menyakiti orang lain bukanlah hal yang boleh dilakukan.

    Bedanya, Mama tidak hanya berhenti pada kalimat “Jangan pukul!” tetapi juga membantu anak menemukan cara lain untuk mengekspresikan perasaannya.

    Dengan begitu, si Kecil bukan hanya tahu apa yang tidak boleh dilakukan, tetapi juga tahu apa yang bisa dilakukan ketika sedang marah.

  7. 7. Utamakan keselamatan terlebih dahulu

    Ketika anak tantrum utamakan dahulu keselamatannya
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Ketika tantrum sudah melibatkan pukulan dan tendangan, keselamatan harus menjadi prioritas. Mama tidak perlu memikirkan apakah orang lain akan menganggap si Kecil nakal atau apakah tantrumnya akan berhenti dalam beberapa menit.

    Pastikan terlebih dahulu bahwa anak tidak menyakiti dirinya sendiri maupun orang di sekitarnya.

    Jika ada saudara yang berada di dekatnya, Mama bisa meminta mereka menjauh sebentar. Singkirkan barang yang bisa dilempar dan pindahkan anak dari tempat yang berisiko.

    Mama juga bisa mengatakan dengan tegas:

    “Mama tidak akan membiarkan kamu menyakiti Mama,” sambil tetap berusaha menjaga suasana tidak semakin panas.

    Tidak perlu memberikan ceramah panjang saat anak masih menangis dan berteriak. Ia kemungkinan besar belum bisa benar-benar mendengarkan.

    Tunggu sampai emosinya mulai turun. Setelah itu, Mama bisa membahas apa yang terjadi dan mengingatkan kembali aturan yang berlaku di rumah.

    Intinya, saat tantrum berlangsung, pikirkan satu hal terlebih dahulu: bagaimana Mama dan si Kecil bisa melewati situasi ini tanpa ada yang terluka.

  8. 8. Tantrum juga terasa tidak nyaman bagi anak

    Anak juga merasa ada yang membuatnya tidak nyaman ketika tantrum
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Saat anak tantrum, Mama mungkin menjadi pihak yang paling merasa kewalahan. Namun, jangan lupa bahwa si Kecil juga sedang mengalami sesuatu yang tidak nyaman.

    Bayangkan tidak bisa menjelaskan apa yang dirasakan, tidak tahu bagaimana cara menenangkan diri, lalu tubuh terasa seperti ingin terus menangis dan berteriak. Kurang lebih seperti itulah kondisi yang mungkin dialami anak ketika emosinya sedang memuncak.

    Tidak heran kalau setelah tantrum selesai, anak terlihat lelah, diam, atau bahkan tiba-tiba ingin dipeluk.

    Memahami hal ini bukan berarti Mama harus membiarkan semua perilakunya. Anak tetap perlu belajar bahwa memukul dan menendang tidak diperbolehkan.

    Namun, sudut pandang ini bisa membantu Mama melihat si Kecil bukan sebagai lawan yang harus dikalahkan.

    Ia adalah anak yang sedang membutuhkan bantuan untuk melewati perasaan yang belum mampu ia kelola.

    Ketika Mama melihat tantrum sebagai momen sulit bagi anak, biasanya akan lebih mudah untuk merespons dengan sabar tanpa kehilangan batasan yang tetap perlu diberikan.

  9. 9. Fokus dulu agar tidak ada yang terluka

    Lindungi anak dari hal-hal yang bisa membahayakannya
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Mama tidak harus menyelesaikan semua masalah saat tantrum sedang berlangsung. Tidak perlu langsung mencari tahu kenapa anak melakukan itu, memberikan nasihat panjang, atau memintanya meminta maaf.

    Untuk sementara, cukup fokus pada satu tujuan: melewati tantrum dengan aman.

    Pastikan anak berada di tempat yang aman. Jauhkan benda yang berbahaya dan bantu menjaga agar ia tidak melukai diri sendiri maupun orang lain.

    Kalau anak terus menendang atau memukul, Mama bisa menggunakan kalimat singkat dan konsisten seperti:

    “Mama tidak akan membiarkan kamu memukul.”

    Setelah anak mulai tenang, barulah percakapan dilakukan. Mama bisa bertanya apa yang membuatnya marah atau kecewa. Kemudian, bantu ia mencari cara lain untuk menghadapi situasi serupa.

    Cara ini juga membantu Mama tidak terlalu terbebani untuk membuat tantrum langsung berhenti. Tantrum memang membutuhkan waktu untuk mereda.

    Selama semua orang aman dan Mama tetap hadir mendampingi, itu sudah menjadi langkah penting dalam menghadapi situasi tersebut.

  10. 10. Pikirkan apa yang perlu dilakukan sekarang dan nanti

    Pikirkan hal yang harus dilakukan setelah anak selesai tantrum nanti
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Saat anak sedang tantrum, Mama tentu ingin situasinya segera selesai. Itu wajar. Namun, selain memikirkan apa yang harus dilakukan saat itu, coba pikirkan juga apa yang bisa dipelajari dari kejadian tersebut.

    Dalam jangka pendek, Mama perlu membantu anak kembali tenang dan memastikan tidak ada yang terluka. Sementara dalam jangka panjang, Mama perlu membantu si Kecil belajar mengelola emosi dengan cara yang lebih sehat.

    Misalnya, jika anak sering tantrum ketika diminta berhenti bermain, Mama bisa mulai memberikan peringatan beberapa menit sebelumnya. Jika ia sering memukul ketika keinginannya ditolak, Mama bisa mengajarkan kalimat sederhana seperti:

    “Aku kecewa,”

    “Aku masih mau.”

    Dengan begitu, setiap tantrum tidak hanya dianggap sebagai kejadian yang melelahkan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mengetahui kebutuhan anak.

    Mama mungkin tidak bisa mencegah semua tantrum. Namun, perlahan Mama bisa membantu si Kecil memiliki lebih banyak kemampuan untuk menghadapi rasa marah, kecewa, dan frustrasi tanpa harus menggunakan tindakan fisik.

  11. 11. Tantrum dengan perilaku fisik cukup sering terjadi

    Tantrum memang sering muncul ketika anak masih belajar mengelola emosi
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Anak yang memukul atau menendang saat tantrum bukan berarti satu-satunya anak yang mengalami hal tersebut. Perilaku fisik memang cukup sering muncul pada masa ketika anak sedang belajar mengenali dan mengelola emosinya.

    Di usia dini, kemampuan berbicara dan mengendalikan diri masih berkembang.

    Jadi, ketika emosi datang terlalu besar, anak bisa kesulitan mencari cara yang tepat untuk mengungkapkannya.

    Hal ini dapat membuat Mama merasa khawatir, terutama jika melihat anak lain tidak menunjukkan perilaku serupa. Namun, setiap anak memiliki perkembangan dan cara merespons emosi yang berbeda.

    Meski umum terjadi, Mama tetap perlu memperhatikan perilaku tersebut.

    Jangan sampai anak menganggap memukul sebagai cara yang bisa digunakan setiap kali keinginannya tidak terpenuhi.

    Berikan batasan yang jelas dan konsisten. Anak perlu tahu bahwa marah adalah hal yang boleh dirasakan, tetapi menyakiti orang lain bukanlah cara yang tepat untuk melampiaskannya.

    Jika perilaku agresif sangat sering terjadi, semakin berat, atau membuat anak maupun orang lain terus-menerus terluka, Mama dapat mempertimbangkan untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional agar mendapatkan bantuan yang sesuai.

  12. 12. Cari tahu apa yang perlu diajarkan agar kejadian ini tidak terus berulang

    Cari tahu apa yang perlu diajarkan ke anak setelah ia tantrum
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Setelah suasana benar-benar tenang, Mama bisa mencoba melihat kembali kejadian tadi. Bukan untuk menyalahkan anak, tetapi untuk mencari tahu keterampilan apa yang masih perlu ia pelajari.

    Apakah si Kecil kesulitan mengatakan bahwa ia sedang marah? Apakah ia belum tahu bagaimana meminta bantuan? Atau apakah ia kesulitan menghadapi perubahan aktivitas secara tiba-tiba?

    Jawaban dari pertanyaan tersebut bisa membantu Mama menentukan apa yang perlu diajarkan.

    Misalnya, jika anak sering memukul ketika mainannya diambil, Mama bisa mengajarkan kalimat seperti:

    “Aku masih mau bermain,”

    “Boleh tunggu sebentar?”

    Jika ia mulai marah, Mama juga bisa mengajarkan beberapa cara sederhana untuk menenangkan diri, seperti menarik napas, memeluk bantal, atau pergi ke tempat yang lebih tenang.

    Anak mungkin tidak langsung berhasil menggunakan keterampilan tersebut pada tantrum berikutnya. Tidak apa-apa. Ia sedang belajar.

    Yang penting, Mama terus memberikan contoh dan kesempatan untuk berlatih. Dengan begitu, perlahan anak akan memiliki pilihan lain selain memukul atau menendang ketika emosinya mulai memuncak.

  13. 13. Ingat, tantrum juga tidak nyaman bagi anak

    Bukan hanya mama, anak juga tidak nyaman ketika tantrum
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Hal terakhir yang penting untuk diingat adalah tantrum bukan pengalaman yang menyenangkan bagi anak. Si Kecil mungkin terlihat seperti sedang mengamuk sesuka hati, tetapi sebenarnya ia sedang berada dalam kondisi emosi yang sangat tidak nyaman.

    Ketika Mama mengingat hal tersebut, menghadapi tantrum biasanya bisa terasa sedikit lebih ringan.

    Mama tidak lagi melihat anak sebagai seseorang yang sengaja membuat masalah, melainkan sebagai anak yang sedang membutuhkan bantuan untuk mengatur perasaannya.

    Tentu saja, Mama tetap boleh merasa lelah, kesal, atau kewalahan. Menjadi orangtua bukan berarti harus selalu tenang setiap saat.

    Namun, ketika Mama bisa menenangkan diri terlebih dahulu, anak pun mendapatkan contoh tentang bagaimana menghadapi emosi besar dengan cara yang lebih aman.

    Jadi, saat si Kecil kembali tantrum dan mulai memukul atau menendang, coba tarik napas dan ingat, tugas Mama bukan membuat semua emosi itu hilang seketika.

    Mama hanya perlu membantu anak melewatinya dengan aman, sambil perlahan mengajarkan keterampilan yang ia butuhkan untuk menghadapi emosi tersebut di masa depan.

    Itulah 13 hal yang perlu Mama pahami ketika si Kecil memukul atau menendang saat tantrum.

    Meski melelahkan, ingat bahwa anak masih belajar mengenali dan mengelola emosinya. Tetap utamakan keselamatan, hadapi dengan tenang, dan bantu si Kecil menemukan cara yang lebih baik untuk mengekspresikan perasaannya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More