Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

Anak Indonesia Tertinggi Konsumsi Makanan UPF, Risiko Obesitas Mengintai

Anak Indonesia Tertinggi Konsumsi Makanan UPF, Risiko Obesitas Mengintai
Magnific/freepik

Di zaman yang serba canggih dan instan ini, berbagai makanan olahan, seperti camilan kemasan, hingga sosis dan nugget sering kali jadi andalan sehari-hari.

Padahal tanpa disadari, kebiasaan ini justru bisa membawa risiko besar bagi kesehatan si Kecil. Sebagaimana data terbaru yang dilaporkan UNICEF, Indonesia menempati peringkat tertinggi konsumsi Ultra Processed Food (UPF) pada anak usia 0–5 tahun di dunia.

Bahkan, UPF menyumbang sekitar 38% dari total kalori harian anak Indonesia, yang mana ini menjadi angka yang sangat mengkhawatirkan untuk proses tumbuh kembang anak, Ma.

Para ahli pun telah memeringatkan bahwa asupan UPF tinggi meningkatkan risiko obesitas hingga 21% pada anak.

Tentu hal ini perlu menjadi alarm keras bagi kita para otangtua agar bisa lebih bijak memberikan asupan makanan yang sangat menentukan kesehatan mereka di masa depan.

Berikut ini Popmama.com rangkumkan apa saja hal-hal yang perlu Mama dan Papa ketahui mengenai tingginya konsumsi UPF pada anak Indonesia dan bagaimana menyikapinya.

1. Mengenal apa itu UPF yang digemari banyak anak

hotdog
Freepik/chandlervid85

UPF atau Ultra Processed Food adalah makanan yang melalui berbagai proses industri kompleks, Ma. Biasanya mengandung bahan-bahan seperti perasa buatan, pengemulsi, pewarna, dan pengawet yang jarang ditemukan di dapur rumah kita.

Contoh sederhana UPF yang sering dikonsumsi anak, yaitu es krim, keripik, sosis, nugget, biskuit kemasan, sereal, roti tawar produksi massal, hingga minuman bersoda.

Kepraktisan dan pemasaran yang masif sering kali membuat para orangtu mudah tergiur. Cukup seduh atau panaskan sebentar, anak sudah bisa makan.

Namun, kemudahan dan rasa lezat yang ditawarkan inilah yang ternyata menyembunyikan bahaya besar dan bisa mengancam gizi seimbang si Kecil.

2. Anak Indonesia tertinggi di dunia dalam konsumsi UPF

menu sederhana bergizi untuk anak
Freepik/gpointstudio

Dalam webinar internasional yang melibatkan para ilmuwan dari Wageningen University hingga EAT Foundation, Indonesia disebut sebagai kasus paling menonjol, Ma.

Data dari 16 negara menunjukkan bahwa kontribusi UPF dalam pola makan anak Indonesia sangat tinggi, mulai dari bayi hingga usia anak menginjak remaja.

Dr. Neha Khandpur dalam acara tersebut menegaskan bahwa sebagian besar kalori anak Indonesia kini berasal dari makanan ultraproses.

Ketua AIPI, Daniel Murdiyarso, menegaskan bahwa perubahan sistem pangan global telah mengubah pola konsumsi masyarakat secara signifikan.

“Lingkungan pangan global telah berubah dengan cepat. Makanan ultra-olahan kini semakin mudah tersedia, terjangkau, dan dipasarkan secara luas, termasuk kepada anak-anak. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi kesehatan masyarakat,” ujarnya dalam keterangan tertulis AIPI.

Artinya, makanan bergizi utuh seperti sayur, buah, dan protein alami mulai tergeser, Ma. Sebagaimana dikuatkan juga oleh UNICEF, bahwa pada usia 0–5 tahun, anak Indonesia menjadi yang tertinggi di dunia.

Kondisi ini tentu menjadi perhatian bagi berbagai pihak, terutama orantua, karena masa balita adalah periode emas untuk tumbuh kembang otak dan fisik.

Jika dominasi konsumsi UPF terus berlanjut tanpa dibarengi dengan makanan bergizi seimbang, generasi kita terancam masalah kesehatan kronis.

3. Dampak nyata UPF yang bisa tingkatkan risiko obesitas

anak tantrum
Freepik/krakenimages.com

Di balik rasa lezat yang menggiurkan, serta kepraktisan yang ditawarkan, konsumsi UPF punya dampak nyata yang berbahaya jika dikonsumsi jangka panjang, Ma.

Konsumsi UPF tinggi nggak cuma membuat anak kelebihan berat badan saja, tapi terdapat penelitian yang membuktikan bahwa risiko obesitas pada anak dengan asupan UPF tinggi meningkat 21% dibanding yang rendah.

Jika terus dikonsumsi jangka panjang, dampaknya bisa bikin anak kita kekurangan mikronutrien (zat besi, zinc, kalsium), gangguan metabolik, hingga memicu penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes dan hipertensi sejak usia dini, Ma.

Ini semua terjadi karena gula, garam, dan lemak jahat menggantikan nutrisi penting yang seharusnya diterima anak. Ngeri sekali, bukan?

4. Langkah yang harus orangtua ambil

makan keluarga
Freepik

Menyikapi kondisi ini, para ahli mendorong gerakan “Eat Real Food” atau makan makanan asli yang minim proses.

Artinya, orangtua berperan penting dalam membiasakan anak mengonsumsi bahan segar, seperti sayur, buah, telur, ikan, tahu, tempe, dan lauk alami lainnya.

Nggak harus langsung menghentikan, Mama bisa mulai dengan langkah sederhana dengan membatasi camilan kemasan di rumah, menyiapkan bekal sehat dengan tampilan menarik, serta melibatkan anak dalam memasak makanan.

Yang terpenting, jangan langsung mengubah total secara drastis agar anak nggak kaget dan menolak mentah-mentah ya, Ma.

Dalam acara serupa, Wakil Menteri Kesehatan dan Bappenas pun mendukung transformasi kebijakan pangan. Namun, perubahan terbesar tetap harus dimulai dari keluarga.

Dengan mengurangi UPF secara bertahap, kita sedang melindungi si Kecil dari obesitas, stunting, dan penyakit kronis di masa depan yang bisa membahayakan mereka.

uk, mulai kurangi makanan ultraproses dan kembalikan kebiasaan makan makanan alami demi generasi yang lebih sehat!

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Related Articles

See More

7 Menu Sarapan Olahan Kentang dan Telur untuk Anak, Praktis & Bergizi

08 Mei 2026, 10:19 WIBKid