7 Hal yang Perlu Mama Pahami Dibanding Bilang “Jangan Menangis”

Pentingnya memahami tangisan anak sebagai bentuk komunikasi emosional, bukan tanda manja atau perilaku negatif.
Orangtua disarankan memvalidasi perasaan anak dan menjelaskan bahwa kesedihan saat berpisah adalah hal wajar serta akan berlalu.
Ditekankan bahwa tujuan utama bukan menghentikan tangisan, melainkan membantu anak belajar mengenali dan mengelola emosinya dengan sehat.
Saat anak menangis karena harus berpisah dengan orangtua, banyak Mama atau Papa yang spontan berkata, “Jangan nangis ya,” atau “Kan cuma sebentar.” Tujuannya tentu baik, yaitu agar anak lebih tenang.
Namun, tanpa disadari, kalimat tersebut bisa membuat anak merasa emosinya tidak diterima. Padahal, sedih saat berpisah dengan orang yang disayang adalah hal yang wajar, terutama pada balita dan anak usia dini.
Daripada langsung meminta anak berhenti menangis, berikut Popmama.com rangkum beberapa hal yang perlu dipahami orangtua.
1. Menangis bukan berarti anak manja

Anak menangis bukan karena ingin mempersulit orangtua. Menangis adalah cara mereka mengungkapkan rasa sedih, takut, atau cemas saat harus berpisah. Ini merupakan bagian normal dari perkembangan emosional anak.
Daripada menganggap tangisan sebagai perilaku yang tidak boleh dilakukan, cobalah melihatnya sebagai bentuk komunikasi yang sedang disampaikan si Kecil.
2. Validasi perasaan anak

Sebelum mengalihkan perhatian anak, akui dulu apa yang sedang ia rasakan.
Misalnya, Mama bisa mengatakan, “Mama tau kamu sedih karena harus berpisah dulu.”
Kalimat sederhana seperti ini membuat anak merasa dipahami. Ketika emosinya diterima, biasanya anak akan lebih mudah menenangkan diri dibanding jika langsung diminta berhenti menangis.
3. Sedih saat berpisah adalah tanda anak memiliki ikatan yang kuat dengan orangtuanya

Banyak orangtua khawatir ketika anak menangis setiap ditinggal. Padahal, dalam banyak kasus, hal tersebut justru menunjukkan bahwa anak memiliki attachment atau ikatan emosional yang sehat dengan orangtuanya.
Jadi, tidak perlu langsung merasa bersalah. Yang terpenting adalah membantu anak memahami bahwa perpisahan hanya sementara.
4. Katakan bahwa perasaan sedih akan berlalu

Selain mengakui emosinya, bantu anak memahami bahwa perasaan sedih tidak berlangsung selamanya.
Mama bisa mengatakan, “Sekarang memang sedih. Nanti setelah bermain dengan teman-teman, biasanya sedihnya akan berkurang.”
Kalimat seperti ini mengajarkan anak bahwa emosi akan datang dan pergi, sehingga ia belajar menghadapi perasaannya dengan lebih tenang.
5. Hindari memberikan janji yang tidak pasti

Sebisa mungkin jangan mengatakan, “Mama cuma sebentar kok,” jika kenyataannya anak akan ditinggal selama beberapa jam.
Lebih baik jelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami, misalnya, “Mama nanti jemput setelah kamu selesai main dan makan siang.”
Kejujuran akan membantu membangun rasa percaya anak kepada orangtuanya.
6. Jangan langsung ditinggalkan

Anak lebih mudah beradaptasi jika mengetahui apa yang akan terjadi.
Mama bisa membuat rutinitas sederhana sebelum berpisah, seperti memeluk anak, memberi ciuman, melambaikan tangan, lalu berpamitan dengan tenang. Hindari pergi diam-diam tanpa berpamitan karena hal ini justru bisa membuat anak semakin cemas saat menyadari orangtuanya menghilang.
7. Tujuan utamanya bukan membuat anak berhenti menangis, tetapi mengajarkan cara mengelola emosi

Anak mungkin tetap menangis meski Mama sudah melakukan semuanya dengan benar. Hal itu bukan berarti pendekatan tersebut gagal.
Yang sedang dipelajari anak bukan sekadar berhenti menangis, melainkan mengenali emosinya, merasa aman untuk mengungkapkannya, dan perlahan belajar menenangkan diri. Kemampuan ini akan menjadi bekal penting bagi kestabilan emosinya hingga dewasa nanti.
Mengizinkan anak merasa sedih bukan berarti membiarkannya larut dalam emosi. Justru dengan didampingi, didengarkan, dan divalidasi, anak akan belajar bahwa setiap perasaan boleh dirasakan dan selalu ada cara yang sehat untuk menyelesaikannya.





















