Selama tidak disertai tanda-tanda infeksi, kondisi ini umumnya merupakan bagian dari proses pemulihan yang akan membaik dengan sendirinya seiring pertumbuhan kuku baru.
Kenali Apa Itu Onikomadesis, Kuku Anak Rusak setelah HFMD

- Onikomadesis adalah kondisi kuku terlepas dari pangkal akibat berhentinya pertumbuhan sementara, sering muncul setelah anak sembuh dari HFMD dan bukan karena kekurangan nutrisi atau cedera.
- Perubahan kuku biasanya baru terlihat 1–2 bulan setelah HFMD sembuh, saat kuku lama terdorong oleh kuku baru sehingga tampak retak atau hampir copot.
- Kebanyakan kasus onikomadesis membaik sendiri tanpa pengobatan khusus, cukup jaga kebersihan kuku dan segera periksa ke dokter bila muncul tanda infeksi seperti nyeri, bengkak, atau kemerahan.
HFMD (Hand, Foot, and Mouth Disease) atau yang lebih dikenal sebagai flu Singapura merupakan penyakit yang cukup sering dialami anak-anak.
Gejalanya biasanya berupa demam, sariawan di mulut, serta ruam atau lepuhan pada telapak tangan dan kaki.
Namun, ternyata ada satu efek lanjutan yang belakangan cukup sering ditemukan di poliklinik anak, yaitu perubahan pada kuku.
Kuku anak dapat terlihat rusak, terangkat, bahkan hampir copot dari pangkalnya.
Kondisi ini tentu membuat Mama dan Papa panik karena muncul saat anak justru sudah lama dinyatakan sembuh dari HFMD.
Melalui unggahan di Instagramnya, dr. Damar Prasetya, Sp.A menjelaskan bahwa kondisi tersebut dikenal sebagai onikomadesis.
Meski tampilannya cukup mengkhawatirkan, pada sebagian besar kasus kondisi ini tidak berbahaya dan dapat membaik dengan sendirinya.
Berikut Popmama.com telah merangkum penjelasannya. Yuk, simak!
1. Onikomadesis adalah kondisi kuku yang terlepas dari pangkalnya

Onikomadesis merupakan kondisi ketika pertumbuhan kuku berhenti sementara sehingga kuku lama mulai terlepas dari pangkalnya.
Akibatnya, kuku dapat terlihat seperti retak, bergeser, terangkat, bahkan hampir copot.
Tampilan ini sering kali membuat orangtua panik karena perubahan terjadi secara tiba-tiba, padahal sebelumnya kuku anak tampak normal.
Kondisi tersebut dapat mengenai satu kuku maupun beberapa kuku sekaligus, baik pada jari tangan maupun kaki.
Menurut dr. Damar Prasetya, Sp.A, onikomadesis menjadi salah satu kondisi yang belakangan cukup sering ditemukan pada anak yang sebelumnya pernah mengalami HFMD atau flu Singapura.
Perubahan ini tidak disebabkan oleh kekurangan nutrisi, infeksi jamur, atau benturan saat bermain.
Padahal, pada kasus tertentu, onikomadesis merupakan efek lanjutan dari infeksi virus yang pernah dialami anak. Meski tampak mengkhawatirkan, kondisi ini umumnya tidak berbahaya.
Seiring pertumbuhan kuku baru, kuku yang rusak akan terdorong keluar dan secara perlahan digantikan oleh kuku yang sehat tanpa memerlukan tindakan khusus.
2. Onikomadesis biasanya baru muncul 1–2 bulan setelah HFMD sembuh

Salah satu hal yang membuat onikomadesis sering mengejutkan adalah waktu kemunculannya.
Berbeda dengan ruam, demam, atau sariawan yang muncul saat anak sedang mengalami HFMD, perubahan pada kuku justru baru terlihat sekitar satu hingga dua bulan setelah anak dinyatakan sembuh.
Bahkan, pada beberapa kasus, kondisi ini dapat muncul lebih lama sehingga orangtua tidak lagi mengaitkannya dengan flu Singapura yang pernah dialami si Kecil.
Menurut dr. Damar Prasetya, Sp.A, jeda waktu tersebut terjadi karena gangguan pada pertumbuhan kuku baru akan terlihat setelah kuku terus memanjang.
Selama proses itu, kuku yang sebelumnya sempat berhenti tumbuh akan terdorong ke atas oleh kuku baru sehingga tampak seperti terangkat atau hampir lepas.
Inilah yang membuat Mama mengira kuku anak mengalami kerusakan akibat cedera atau penyebab lain.
Padahal, bila anak memiliki riwayat HFMD beberapa minggu sebelumnya, onikomadesis bisa menjadi salah satu dampak lanjutan yang masih berkaitan dengan infeksi virus tersebut.
3. Sebagian besar kasus onikomadesis akan membaik dengan sendirinya

Melihat kuku anak terangkat atau hampir copot tentu dapat membuat Mama dan Papa merasa cemas.
Namun, dr. Damar Prasetya, Sp.A menjelaskan bahwa pada sebagian besar kasus, onikomadesis setelah HFMD bukanlah kondisi yang berbahaya.
Kuku yang tampak rusak sebenarnya sedang berada dalam proses pergantian.
Setelah gangguan pada pertumbuhan kuku berakhir, kuku baru akan mulai tumbuh dari pangkal dan perlahan mendorong kuku lama yang rusak hingga akhirnya terlepas dengan sendirinya.
Proses ini membutuhkan waktu karena pertumbuhan kuku pada setiap anak tidak sama.
Selama tidak disertai tanda infeksi, seperti bengkak, kemerahan, atau nyeri hebat, umumnya tidak diperlukan pengobatan khusus.
Mama cukup memantau kondisi kuku sambil menunggu pertumbuhannya kembali normal.
Penting juga untuk tidak menarik atau mencabut kuku yang hampir lepas karena tindakan tersebut dapat melukai jaringan kulit di bawah kuku dan meningkatkan risiko infeksi.
4. Jaga kebersihan kuku dan hindari mencabut kuku yang mulai terlepas

Meski onikomadesis umumnya dapat sembuh sendiri, Mama dan Papa tetap perlu merawat kuku anak dengan baik selama proses pemulihan berlangsung.
Menurut dr. Damar Prasetya, Sp.A, hal terpenting yang dapat dilakukan adalah menjaga kuku tetap bersih agar terhindar dari infeksi.
Cuci tangan anak secara rutin menggunakan sabun, lalu keringkan dengan baik, terutama setelah bermain di luar rumah.
Apabila terdapat bagian kuku yang sudah terangkat, tajam, atau menggantung, potong secara hati-hati menggunakan gunting kuku yang bersih agar tidak mudah tersangkut pada pakaian atau benda lain.
Hindari menarik, mengelupas, atau mencabut kuku yang belum lepas dengan sendirinya karena dapat melukai jaringan di bawah kuku dan menyebabkan perdarahan maupun infeksi.
Jika anak merasa tidak nyaman, Mama dan Papa dapat melindungi bagian kuku yang longgar dengan perban tipis agar tidak mudah tersenggol saat beraktivitas.
Perawatan sederhana ini dapat membantu menjaga kuku tetap bersih sekaligus mendukung pertumbuhan kuku baru hingga kembali normal.
5. Segera periksakan ke dokter jika muncul tanda-tanda infeksi

Walaupun onikomadesis setelah HFMD umumnya tidak berbahaya, Mama dan Papa tetap perlu memantau kondisi kuku anak selama masa pemulihan.
Perhatikan apakah perubahan pada kuku hanya berupa kuku yang terangkat atau justru disertai gejala lain yang mengarah pada infeksi.
Menurut dr. Damar Prasetya, Sp.A, segera bawa anak ke dokter apabila area di sekitar kuku tampak kemerahan, membengkak, terasa nyeri, atau mengeluarkan cairan.
Tanda-tanda tersebut dapat menunjukkan adanya infeksi yang memerlukan penanganan medis agar tidak semakin parah.
Selain itu, konsultasi dengan dokter juga disarankan bila perubahan kuku terjadi tanpa riwayat HFMD, melibatkan hampir seluruh kuku, atau tidak menunjukkan perbaikan dalam waktu yang cukup lama.
Mama dan Papa juga dapat mengunjungi dokter spesialis kulit untuk memastikan bahwa kondisi tersebut benar-benar merupakan onikomadesis, bukan disebabkan oleh infeksi jamur, cedera, atau gangguan kesehatan lainnya.
Semoga informasi ini dapat membantu Mama dan Papa lebih tenang dalam menghadapi perubahan kuku setelah HFMD serta mengetahui kapan kondisi tersebut masih tergolong normal dan kapan perlu segera diperiksakan.


















