Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
47 Persen Orang Indonesia Makan untuk Meredam Stres, Bukan Lapar
Pexels/Edward Legowo (makanan indonesia)
  • Studi Health Collaborative Center 2024 menemukan 47% orang Indonesia makan karena emosi, bukan lapar, menunjukkan fenomena emotional eating yang cukup tinggi di masyarakat.

  • Responden dengan perilaku emotional eating berisiko 2,5 kali lebih besar mengalami stres sedang hingga berat serta gangguan pola makan dan kesehatan mental.

  • Kelompok paling rentan adalah perempuan, usia di bawah 40 tahun, dan mereka yang sedang diet; tren ini dipengaruhi tekanan sosial serta gaya hidup modern.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Banyak orang di Indonesia makan bukan karena lapar tapi karena sedih, marah, atau stres. Dokter Ray bilang ini namanya emotional eating. Dari banyak orang yang ditanya, hampir separuhnya begitu. Katanya ini bisa bikin tubuh dan pikiran tidak sehat. Sekarang dokter minta orang belajar makan dengan sadar supaya lebih sehat dan bahagia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Makan seharusnya dilakukan ketika tubuh membutuhkan energi. Namun, tidak sedikit orang yang justru mencari makanan saat sedang sedih, cemas, marah, atau stres. Kondisi ini dikenal sebagai emotional eating, yaitu kebiasaan makan yang dipicu oleh emosi, bukan rasa lapar.

Temuan tersebut terungkap dalam Mindful Eating Study yang dilakukan Health Collaborative Center (HCC) tahun 2024 terhadap 1.158 responden di 20 provinsi di Indonesia. Hasil survei menunjukkan bahwa 47% atau hampir 5 dari 10 orang Indonesia memiliki perilaku emotional eating.

Berikut Popmama.com fakta-fakta yang ditemukan dalam penelitian tersebut.

1. Hampir separuh orang Indonesia makan untuk mengatasi emosi

Pexels/Noval Gani

Pendiri sekaligus Ketua Tim Peneliti HCC, dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, menjelaskan bahwa emotional eating terjadi ketika seseorang menggunakan makanan sebagai cara untuk mengendalikan atau meredakan emosinya, bukan karena tubuh benar-benar membutuhkan asupan makanan.

Menurutnya, temuan ini menjadi sinyal yang perlu mendapat perhatian serius. Pasalnya, kebiasaan makan karena emosi dapat mengganggu pola makan sehat dan berisiko menyebabkan ketidakseimbangan asupan gizi. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut juga dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang.

2. Emotional eating meningkatkan risiko stres dan masalah kesehatan

Pexels/rakhmat suwandi

Survei HCC juga menemukan bahwa responden yang memiliki perilaku emotional eating berisiko 2,5 kali lebih besar mengalami stres sedang hingga berat dibandingkan mereka yang memiliki kebiasaan mindful eating atau makan dengan penuh kesadaran.

dr. Ray menjelaskan bahwa emotional eating dapat menciptakan lingkaran yang sulit diputus. Seseorang yang mengalami stres cenderung makan berlebihan untuk menenangkan diri. Namun, kebiasaan tersebut justru dapat memperburuk kondisi psikologis, mengganggu pemenuhan gizi, menurunkan daya tahan tubuh, hingga membuat seseorang semakin bergantung pada makanan sebagai pelarian emosi.

Pada kasus yang lebih berat atau very emotional eater, dr. Ray menyarankan agar seseorang berkonsultasi dengan psikolog maupun dokter spesialis gizi klinik untuk mendapatkan penanganan yang sesuai.

3. Perempuan, usia di bawah 40 tahun, dan orang yang sedang diet lebih berisiko

Pexels/Ruyat Supriazi

Penelitian ini juga mengungkap kelompok yang lebih rentan mengalami emotional eating. Sekitar 49% pelaku emotional eating berasal dari kelompok usia di bawah 40 tahun, sementara perempuan memiliki risiko hampir dua kali lebih tinggi dibandingkan laki-laki.

Selain itu, hampir 60% responden yang memiliki perilaku emotional eating ternyata sedang menjalani program diet, mulai dari diet keto, intermittent fasting, diet golongan darah, hingga pembatasan waktu makan. Menurut para peneliti, fenomena ini perlu dikaji lebih lanjut karena tren diet yang berkembang melalui media sosial belum tentu didukung bukti ilmiah yang kuat.

Menilai tingginya angka emotional eating di Indonesia tidak hanya dipengaruhi oleh pola makan, tetapi juga perubahan gaya hidup, tekanan sosial, kondisi kesehatan mental, hingga standar bentuk tubuh yang banyak ditampilkan di media sosial. 

Oleh karena itu, edukasi mengenai pola makan sehat dan kesehatan mental perlu terus ditingkatkan agar masyarakat mampu membangun hubungan yang lebih sehat dengan makanan.

Itulah tadi informasi mengenai hasil survei kalau ternyata hampir setengah orang Indonesia makan untuk meredam emosi. Temuan ini menunjukkan bahwa emotional eating masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian. 

Curated For You

Editorial Team

Related Article