Penelitian ini juga mengungkap kelompok yang lebih rentan mengalami emotional eating. Sekitar 49% pelaku emotional eating berasal dari kelompok usia di bawah 40 tahun, sementara perempuan memiliki risiko hampir dua kali lebih tinggi dibandingkan laki-laki.
Selain itu, hampir 60% responden yang memiliki perilaku emotional eating ternyata sedang menjalani program diet, mulai dari diet keto, intermittent fasting, diet golongan darah, hingga pembatasan waktu makan. Menurut para peneliti, fenomena ini perlu dikaji lebih lanjut karena tren diet yang berkembang melalui media sosial belum tentu didukung bukti ilmiah yang kuat.
Menilai tingginya angka emotional eating di Indonesia tidak hanya dipengaruhi oleh pola makan, tetapi juga perubahan gaya hidup, tekanan sosial, kondisi kesehatan mental, hingga standar bentuk tubuh yang banyak ditampilkan di media sosial.
Oleh karena itu, edukasi mengenai pola makan sehat dan kesehatan mental perlu terus ditingkatkan agar masyarakat mampu membangun hubungan yang lebih sehat dengan makanan.
Itulah tadi informasi mengenai hasil survei kalau ternyata hampir setengah orang Indonesia makan untuk meredam emosi. Temuan ini menunjukkan bahwa emotional eating masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian.