Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apa Itu Slow Jogging yang Viral di Korea Selatan? Ini Manfaatnya!
Pexels/Ketut Subiyanto (orang jogging)
  • Slow jogging menjadi tren baru di Korea Selatan sejak 2026, viral lewat video warga berlari santai di taman dan sepanjang Sungai Han dengan tempo lambat namun menyehatkan.

  • Metode ini berasal dari Jepang oleh Prof. Hiroaki Tanaka dengan konsep 'Niko Niko Pace', menekankan kenyamanan berlari sambil tetap bisa tersenyum dan berbicara tanpa kelelahan.

  • Slow jogging diminati karena cocok untuk semua kalangan, rendah risiko cedera, mudah dijadikan rutinitas harian, serta membantu menjaga kesehatan jantung, paru-paru, dan mengurangi stres.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Banyak orang di Korea sekarang suka lari pelan sekali di taman dan dekat sungai. Namanya slow jogging. Katanya ini bikin badan sehat tapi tidak capek. Dulu dari Jepang, dibuat oleh profesor yang bilang harus lari sambil bisa senyum. Sekarang banyak orang ikut karena mudah, aman buat lutut, dan bisa dilakukan setiap hari.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Tren slow jogging di Korea Selatan mencerminkan perubahan positif dalam cara masyarakat memandang kebugaran, dengan menekankan keseimbangan antara aktivitas fisik dan kenyamanan tubuh. Olahraga berintensitas rendah ini membuka ruang bagi lebih banyak orang—termasuk pemula dan lansia—untuk aktif bergerak tanpa tekanan performa, sekaligus memperoleh manfaat kesehatan fisik dan mental secara menyenangkan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Ada banyak tren olahraga yang sedang naik pasca COVID-19 mereda, mulai dari pilates, HYROX, lari maraton, yoga dan lain sebagainya.

Rupanya di tahun 2026 ini ada tren yang sedang banyak diikuti orang-orang di Korea Selatan yakni berlari sangat pelan di taman kota maupun sepanjang Sungai Han di Seoul. 

Sekilas, aktivitas tersebut tampak seperti berjalan cepat. Namun, olahraga ini ternyata memiliki nama slow jogging, sebuah metode lari berintensitas rendah yang kini menjadi tren kebugaran terbaru di Korea Selatan.

Popularitas slow jogging tidak muncul begitu saja. Sejumlah media Korea melaporkan bahwa tren ini berkembang seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap olahraga lari.

Setelah booming komunitas lari dan marathon dalam dua tahun terakhir, kini banyak warga Korea mulai beralih ke aktivitas fisik yang lebih ringan, nyaman dilakukan setiap hari, dan tidak membebani tubuh.

Berikut Popmama.com rangkum informasi selengkapnya!

1. Jadi tren yang booming di Korea Selatan

Pexels/Rendi iD

Menurut The Korea Herald, olahraga lari telah menjadi salah satu aktivitas kebugaran dengan pertumbuhan paling pesat di Korea Selatan.

Popularitas running crew, marathon, hingga komunitas olahraga di ruang terbuka membuat semakin banyak masyarakat mencari alternatif olahraga yang bisa dilakukan semua kalangan tanpa harus mengejar kecepatan maupun jarak tempuh tertentu.

Di tengah tren tersebut, slow jogging mulai mencuri perhatian. Pada awal Juli 2026, berbagai video yang menampilkan kelompok masyarakat berlari dengan langkah pendek dan tempo santai menjadi viral di media sosial.

Banyak orang penasaran karena cara berlarinya tampak jauh lebih lambat dibanding jogging pada umumnya, tetapi justru disebut memberikan manfaat kesehatan yang besar.

2. Slow jogging sebenarnya berasal dari Jepang

Pexels/Gustavo Fring

Meski viral di Korea Selatan, slow jogging sebenarnya bukan olahraga baru. Metode ini dikembangkan oleh Prof. Hiroaki Tanaka, pakar fisiologi olahraga dari Fukuoka University, Jepang.

Ia memperkenalkan konsep "Niko Niko Pace", yaitu berlari dengan kecepatan yang masih membuat seseorang mampu tersenyum dan mengobrol tanpa terengah-engah.

Alih-alih mengejar pace yang cepat, slow jogging justru menekankan kenyamanan sehingga tubuh tetap aktif tanpa mengalami tekanan berlebihan.

Konsep tersebut mulai dikenal di berbagai negara Asia, termasuk Korea Selatan. Seiring meningkatnya perhatian masyarakat terhadap gaya hidup sehat dan pencegahan penyakit kronis, slow jogging pun kembali mendapat sorotan sebagai olahraga yang sederhana tetapi efektif.

3. Alasan slow jogging diminati masyarakat Korea

Magnific/pressfoto

Media Korea menyebut ada beberapa alasan mengapa olahraga ini cepat diterima masyarakat.

Pertama, banyak pekerja kantoran merasa olahraga lari biasa terlalu melelahkan setelah seharian bekerja. Slow jogging menawarkan aktivitas yang jauh lebih santai, tetapi tetap mampu meningkatkan detak jantung dan kebugaran tubuh.

Kedua, olahraga ini dinilai lebih inklusif. Tidak hanya atlet atau pelari berpengalaman, pemula, lansia, hingga orang dengan berat badan berlebih juga dapat melakukannya.

Karena intensitasnya rendah, risiko cedera pada lutut maupun pergelangan kaki juga lebih kecil dibandingkan lari dengan kecepatan tinggi.

4. Apa bedanya dengan jogging biasa?

Unsplash/Fotorech

Perbedaan paling mencolok terletak pada kecepatannya. Saat melakukan slow jogging, seseorang berlari dengan tempo yang hampir sama seperti berjalan cepat.

Langkah kaki dibuat pendek, ritmenya stabil, dan tubuh tidak dipaksa mencapai target kecepatan tertentu. Salah satu patokan yang sering digunakan adalah masih mampu berbicara dengan nyaman selama berlari. Bila napas mulai terengah-engah, artinya kecepatan sudah terlalu tinggi.

Teknik ini juga menganjurkan pendaratan kaki menggunakan bagian tengah hingga depan telapak kaki (midfoot atau forefoot), sehingga benturan pada persendian menjadi lebih ringan.

5. Apa saja manfaat slow jogging?

Pexels/Ketut Subiyanto

Meski dilakukan dengan santai, slow jogging tetap termasuk olahraga aerobik yang memberikan banyak manfaat bagi kesehatan.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa olahraga ini dapat membantu meningkatkan kesehatan jantung dan paru-paru, memperbaiki daya tahan tubuh, membantu membakar kalori secara bertahap, menjaga tekanan darah dan kadar gula darah, serta mendukung kesehatan mental dengan membantu mengurangi stres.

Karena tidak terlalu melelahkan, banyak orang juga lebih mudah menjadikan slow jogging sebagai rutinitas harian dibanding olahraga dengan intensitas tinggi.

Hal inilah yang membuat olahraga tersebut semakin populer di Korea Selatan, terutama di kalangan pekerja muda yang ingin tetap aktif tanpa harus menghabiskan banyak energi.

Pada akhirnya, tren slow jogging menunjukkan bahwa olahraga tidak selalu harus dilakukan dengan intensitas tinggi agar bermanfaat. Justru dengan bergerak secara konsisten dan sesuai kemampuan tubuh, seseorang dapat memperoleh manfaat kesehatan yang lebih berkelanjutan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article