Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Fakta Burnout di Tempat Kerja, Rentan Dialami Pekerja Muda

5 Fakta Burnout di Tempat Kerja, Rentan Dialami Pekerja Muda
Pexels/www.kaboompics.com
Intinya Sih
  • Laporan Burnout Report 2026 mengungkap satu dari lima pekerja di Inggris pernah mengambil cuti karena stres berat yang berdampak pada kesehatan mental dan produktivitas kerja.
  • Pekerja muda usia 18–24 tahun menjadi kelompok paling rentan mengalami burnout akibat tekanan kerja tinggi, lembur tanpa bayaran, serta masalah finansial dan rasa terisolasi di lingkungan kerja.
  • Banyak perusahaan dinilai belum memberikan dukungan nyata pasca-burnout; hanya sebagian kecil karyawan menerima pendampingan atau rencana kembali bekerja meski kampanye kesehatan mental makin sering digaungkan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Burnout masih menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi pekerja di berbagai negara. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada produktivitas, tetapi juga kesehatan mental hingga kualitas hidup seseorang.

Laporan Burnout Report 2026 dari Mental Health UK yang melibatkan lebih dari 4.500 responden dewasa di Inggris menunjukkan bahwa tingkat stres pekerja belum mengalami perbaikan dalam beberapa tahun terakhir.

Bahkan, kelompok usia muda menjadi pihak yang paling rentan mengalami tekanan hingga harus mengambil cuti karena masalah kesehatan mental.

Berikut Popmama.com rangkum beberapa fakta menarik yang terungkap dalam laporan tersebut.

Table of Content

1. Satu dari lima pekerja terpaksa mengambil cuti karena stres

1. Satu dari lima pekerja terpaksa mengambil cuti karena stres

Satu dari lima pekerja terpaksa mengambil cuti karena stres
Pexels

Burnout bukan lagi sekadar rasa lelah setelah bekerja, melainkan kondisi yang dapat memengaruhi kesehatan mental secara serius. Berdasarkan Burnout Report 2026, sebanyak 20% pekerja mengaku pernah mengambil cuti sakit karena kondisi kesehatan mental yang memburuk akibat stres.

Angka tersebut menunjukkan bahwa tekanan di dunia kerja masih menjadi persoalan besar. Bagi sebagian orang, beristirahat dari pekerjaan menjadi satu-satunya cara untuk memulihkan kondisi mental ketika beban yang dihadapi sudah terlalu berat.

2. Pekerja usia 18-24 tahun menjadi kelompok yang paling rentan

Pekerja usia 18-24 tahun menjadi kelompok yang paling rentan
Magnific/DC Studio

Laporan ini menemukan bahwa pekerja muda menghadapi tekanan yang lebih besar dibandingkan kelompok usia lainnya. Sebanyak 39% responden berusia 18-24 tahun mengaku pernah mengambil cuti karena kesehatan mental yang terganggu akibat stres.

Kelompok usia ini juga lebih sering mengalami tekanan akibat beban kerja yang tinggi, lembur tanpa bayaran, rasa terisolasi di lingkungan kerja, hingga kekhawatiran mengenai keamanan pekerjaan.

Di luar pekerjaan, masalah keuangan juga menjadi salah satu sumber stres terbesar bagi generasi muda.

3. Banyak karyawan masih tidak nyaman membicarakan kondisi mental kepada atasan

Banyak karyawan masih tidak nyaman membicarakan kondisi mental kepada atasan
Pexels/Yan Krukau

Meski isu kesehatan mental semakin sering dibahas, nyatanya masih banyak pekerja yang merasa sulit terbuka kepada manajer atau atasan mengenai tekanan yang mereka alami.

Sebanyak 35% pekerja mengaku tidak nyaman membicarakan tingkat stres yang tinggi dengan atasan. Pada kelompok usia 18–24 tahun, angkanya bahkan mencapai 39%.

Kondisi ini menunjukkan bahwa stigma maupun budaya kerja yang kurang mendukung masih menjadi hambatan dalam mendapatkan bantuan lebih awal.

4. Dukungan perusahaan setelah burnout dinilai masih minim

Dukungan perusahaan setelah burnout dinilai masih minim
Pexels/Ron Lach

Pemulihan setelah mengalami burnout tidak berhenti ketika seseorang kembali bekerja. Sayangnya, laporan ini menunjukkan masih banyak perusahaan yang belum memberikan pendampingan yang memadai.

Sebanyak 27% pekerja yang sempat mengambil cuti akibat stres berat mengaku tidak menerima dukungan apa pun setelah kembali bekerja.

Sementara itu, hanya 17% yang mendapatkan rencana kembali bekerja (return-to-work plan) secara resmi. Minimnya pendampingan ini dikhawatirkan meningkatkan risiko burnout kembali terjadi.

5. Kampanye kesehatan mental belum selalu diikuti tindakan nyata

Kampanye kesehatan mental belum selalu diikuti tindakan nyata
Pexels/Pavel Danilyuk

Banyak perusahaan telah mulai mengangkat isu kesehatan mental melalui berbagai kampanye internal. Namun, menurut para pekerja, komitmen tersebut belum sepenuhnya diwujudkan dalam tindakan nyata.

Hampir 30% responden mengatakan perusahaan memang meningkatkan kesadaran mengenai kesehatan mental, tetapi para manajer belum memiliki waktu, pelatihan, maupun sumber daya yang cukup untuk memberikan dukungan kepada karyawan.

Selain itu, hanya sekitar 27% pekerja yang merasa kesehatan mental benar-benar menjadi prioritas di tempat kerja melalui kebijakan dan fasilitas yang nyata.

Laporan Burnout Report 2026 menunjukkan bahwa burnout masih menjadi masalah serius, terutama bagi pekerja muda yang menghadapi tekanan dari berbagai sisi, mulai dari tuntutan pekerjaan hingga kondisi finansial.

Temuan ini menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan mental di tempat kerja bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga membutuhkan dukungan nyata dari lingkungan kerja agar karyawan dapat bekerja secara sehat dan berkelanjutan.

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Denisa Permataningtias
EditorDenisa Permataningtias

Related Articles

See More