7 Bahaya Dibalik Bungkus Makanan, Ini yang Perlu Dihindari dan Risikonya

- Beragam bungkus makanan seperti koran, kantong kresek hitam, dan styrofoam mengandung zat kimia berbahaya yang bisa berpindah ke makanan saat terkena panas.
- Paparan bahan seperti logam berat, BPA, dan stirena dari kemasan non-food grade dapat memicu gangguan hormon, kanker, hingga penurunan kesuburan.
- Penggunaan wadah makanan sebaiknya memperhatikan standar food grade serta masa pakai agar terhindar dari risiko kesehatan akibat kontaminasi zat berbahaya.
Pernah lihat bungkus makanan dari koran atau kantong kresek? Terlihat sederhana dan kerap disepelekan, padahal dampaknya dapat membahayakan kesehatan tubuh, Ma.
Segala yang dikonsumsi pada dasarnya harus bersih dan terhindar dari zat berbahaya agar tidak berisiko bagi kesehatan. Untuk itu, penting menggunakan bungkus makanan yang sudah berstandar food grade.
Bungkus yang tidak berstandar food grade dapat berisiko memaparkan zat berbahaya saat terkena suhu panas pada makanan
Yuk, simak bahaya di balik bungkus makanan, mulai dari jenis dan risikonya terhadap kesehatan yang telah Popmama.com rangkum berikut ini!
Table of Content
1. Koran atau kertas bekas (mengandung logam)

Koran atau kertas bekas sering kali digunakan sebagai bahan pembungkus makanan, sebut saja gorengan. Mesksi tujuannya untuk mendaur ulang barang yang sudah tidak terpakai, penggunaan kertas dengan tinta print ini dapat membahayakan tubuh karena kandungan zat kimia di dalamnya.
Mengutip dari laman Interreg Baltic, kemasan dari kertas yang terdapat tinta print memiliki kandungan logam berat dan bahan kimia berbahaya yang dapat berpindah ke makanan saat terkena panas.
2. Kantong kresek hitam (kandungan toksik)

Sering kali kantong kresek hitam masih digunakan untuk membungkus makanan, termasuk dengan suhu tinggi. Padahal, kantong kresek hitam umumnya terbuat dari material daur ulang berbagai macam sampah plastik yang mengandung zat kimia berbahaya jika terpapar pada makanan.
Dijelaskan dalam laman Beyond Plastic, bahwa plastik hitam mengandung berbagai bahan-bahan berbahaya, termasuk logam berat, karbon hitam yang dapat memicu kanker. Kantong kresek hitam juga mudah meleleh jika terkena panas yang dapat memudahkan paparan zat kimia pada makanan.
3. Gelas plastik 1 PET (tidak bisa reuse)

Penting untuk memeriksa terlebih dahulu apakah gelas yang akan digunakan ulang terbuat dari bahan yang aman atau tidak. Gelas plastik 1 PET merupakan gelas yang hanya dapat digunakan untuk sekali penggunaan.
PET Plastik memiliki struktur berpori yang lama kelamaan semakin berpori dan menyerap bakteri. Dilansir dari laman San Jose Recycles, gelas plastik jenis ini juga menurun kualitasnya setiap didaur ulang sehingga tidak disarankan untuk digunakan ulang.
4. Styrofoam (memicu kanker)

Styrofoam merupakan wadah pembungkus makanan yang terbuat dari styrene monomer atau molekul plastik yang lebih kecil. Dengan ini, styrofoam sulit diurai dan berpotensi menjadi mikroplastik.
Mengutip dari Beyond Plastic, styrofoam atau EPS juga mengandung bahan kimia styrene yang diklasifikasikan sebagai karsinogen yang dapat memicu kanker, gangguan penglihatan dan pendengaran, gangguan sistem saraf, hingga penurunan daya ingat.
5. Kaleng logam (pengaruhi kesuburan)

Kaleng logam yang kerap digunakan sebagai wadah mungkin terlihat aman digunakan. Namun, perlu diketahui bahwa wadah ini biasanya dilapisi dengan resin berbasis BPA (Bisphenol A) yang berisiko mengganggu hormon dan kesehatan jangka panjang.
Kandungan tersebut dapat memengaruhi metabolisme dan kesuburan sehingga sebaiknya dihindari penggunaannya.
6. Kemasan fast food atau kotak pizza (ganggu sistem hormon)

Selanjutnya kemasan makanan cepat saji juga tidak baik digunakan berkali-kali karena penelitian terbaru yang tercatat dalam laman Chem Trust mengungkapkan bahwa kandungan BPA berbahaya ditemukan dalam kotak pizza.
Bahan kimia tersebut dapat mengganggu sistem hormonal tubuh yang dapat mengatur fungsi seperti metabolisme, pertumbuhan, dan perkembangan reproduksi. Paparan BPA pada makanan juga sering dikaitkan dengan berbagai dampak kesehatan, seperti penyakit jantung, obesitas, diabetes, hingga kanker.
7. Aluminium foil bekas (menghambat tumbuh kembang)

Penggunaan aluminium foil sebagai bungkus makanan sebenarnya boleh saja, terlebih jika makanan perlu dipanggang atau dimasak dengan suhu tinggi. Namun, penggunaan wadah ini memiliki risiko kesehatan, terlebih jika digunakan ulang.
Aluminium foil merupakan logam berbahaya, menurut studi yang dikutip dari laman Quit Plastic, aluminium foil mengandung logam berbahaya yang dapat memicu masalah kesehatan serius, misalnya alzheimer, kerusakan fungsi ginjal dan tulang, hingga menghambat tumbuh kembang.
Penggunaan wadah makanan perlu diperhatikan kandungan dan masa pakainya agar tetap aman dan tidak memaparkan zat berbahaya pada makanan. Berbagai risiko kesehatan mungkin dapat terjadi, namun bisa diminimalisir dengan langkah preventif seperti penggunaan wadah makanan yang tepat.
itu dia informasi mengenai bahaya di balik bungkus makanan, mulai dari jenis dan risikonya terhadap kesehatan.
Hindari wadah yang berpotensi memaparkan zat berbahaya, Ma!
FAQ Seputar Bungkus Makanan
| Plastik PP 5 apakah aman untuk makanan? | Polypropylene (PP) adalah plastik yang memiliki Kode 5 yang artinya aman digunakan untuk makanan dan biasanya diaplikasikan pada wadah yogurt, sedotan dan tutup botol. |
| Edible packaging terbuat dari apa? | Bahan yang banyak digunakan untuk membuat edible film adalah jenis umbi - umbian yang mengandung pati. |
| Plastik jenis apa yang paling aman untuk digunakan sebagai wadah makanan? | Plastik HDPE, LDPE, dan PP (resin #2, #4, dan #5) adalah pilihan yang paling umum dan terpercaya yang disetujui FDA untuk kontak dan penyimpanan makanan. |


















