- Sesuaikan waktu tidur anak, tidur lebih awal agar bisa bangun lebih pagi
- Batasi penggunaan ponsel di malam hari
- Mulai rutinitas pagi sebelum sekolah bersama anak, dari membersihkan tempat tidur hingga memakai sepatu sekolah
- Memantik semangat anak dengan keperluan sekolah yang baru
- Biasakan anak sarapan pagi, masak menu favoritnya.
- Berikan konsekuensi jika anak tidak mematuhi aturan yang sudah disepakati.
Kasus Ibu Bakar Anak Kandung di Sumbawa Jadi Renungan Pola Asuh Orangtua

- Seorang ibu di Sumbawa membakar anaknya karena kesal anaknya enggan bangun membantu mencari rumput, menyebabkan korban meninggal dunia setelah dirawat intensif.
- Kasus ini menyoroti pentingnya pengendalian emosi dan penerapan pola asuh positif agar hubungan orangtua-anak tetap harmonis serta terhindar dari kekerasan.
- Artikel juga membahas cara mengajarkan disiplin, tanggung jawab, dan pengelolaan emosi bagi orangtua untuk membentuk karakter anak yang stabil dan berempati.
Beberapa waktu lalu, publik dihebohkan dengan berita seorang Ibu berinisial SA (49) membakar anak kandungnya sendiri, MI (25). Peristiwa tersebut terjadi pada 22 Februari 2026 di Desa Sepakat, Kecamatan Plampang, Kab. Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.
Kasus ini tentu menjadi peringatan keras sekaligus renungan bagi para orangtua dan anak agar saling menghargai dalam menjalankan peran masing-masing di rumah. Bukan hanya anak yang harus nurut terhadap orangtua saja, tetapi juga orangtua harus mengontrol emosi dan menerapkan pola asuh yang baik sedari awal.
Yuk, simak lebih dalam kasus Ibu bakar anak di Sumbawa bisa jadi momentum renungkan pola asuh dan emosi orangtua yang telah Popmama.com rangkum berikut ini.
Table of Content
Kronologi Kejadian Ibu Bakar Anak di Sumbawa

Peristiwa naas tersebut bermula saat sang Ibu (SA) membangunkan anak laki-lakinya (MI) untuk meminta bantuan mencari rumput guna pakan ternak sapi. Namun, MI tidak kunjung bangun meski sudah dibangunkan oleh sang Ibu.
Tersulut emosi dan marah melihat kelakuan anaknya tersebut, sang Ibu akhirnya mengambil BBM yang ada di sekitar lokasi kejadian. Ibu tersebut kemudian menyiramkan BBM ke tubuh anaknya yang masih tertidur, lalu menyulutnya dengan api.
Akibat kejadian tersebut, MI selaku korban mendapatkan luka bakar yang cukup serius di sekujur tubuhnya hingga harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Sayangnya, nyawa MI tidak tertolong setelah menjalani perawatan intensif.
Diketahui kasus ini telah ditindak lanjut oleh pihak kepolisian setelah sebelumnya pihak keluarga menolak membawa kasus ke ranah hukum karena alasan masalah keluarga.
Cara Mengajarkan Anak Disiplin agar Anak Bisa Bangun Pagi

Sifat atau kepribadian seorang anak pada dasarnya dapat terbentuk sesuai dengan pola asuh yang diberikan. oleh orangtuanya sedari kecil. Salah satu yang berpengaruh adalah mengajarkan anak untuk bangun pagi sejak dini.
Meskipun terdengar sederhana, mengajarkan bangun pagi memiliki dampak yang cukup besar terhadap kepribadian anak di kemudian hari, Ma.
Penelitian dari Universitas Pendidikan Indonesia yang dilakukan pada anak-anak sekolah dasar di Indonesia membuktikan bahwa kebiasaan bangun pagi juga berpengaruh terhadap kepribadian anak yang lebih fokus dan stabil secara emosional.
Mengajarkan anak bangun pagi memang bukan perkara mudah, butuh pemahaman dan pembiasaan dari orangtua terlebih dahulu sejak dini. Berikut cara mengajarkan anak disiplin agar bisa bangun pagi, dikutip dari No Guilt Mom:
Tips Mengajarkan Anak Tanggung Jawab sesuai Usianya

Tanggung jawab merupakan salah satu hal mendasar yang perlu diajarkan oleh anak sejak kecil agar memahami apa yang sudah seharusnya mereka lakukan.
Mengajarkan anak tanggung jawab sesuai dengan usianya juga mendorong anak agar dapat berperilaku sesuai dengan peraturan atau norma yang ada di sekitarnya.
Melansir dari laman Mental Health Center Kids, tanggung jawab yang bermakna dan sesuai dengan usia anak memberi anak-anak rasa otonomi dan pencapaian terhadap diri mereka. Dengan ini, anak akan menjadi lebih percaya diri dan tidak terlalu cemas.
Nah, berikut ini beberapa cara mengajarkan anak tanggung jawab sesuai dengan usianya:
1. Orangtua harus jadi panutan untuk anak
Anak cenderung melihat bagaimana orangtua mereka bersikap, sehingga Mama dan Papa harus melakukan tanggung jawab masing-masing dan mengajarkan anak tanggung jawab mereka.
2. Ajarkan anak tanggung jawab lebih awal
Anak dapat diajarkan konsep tanggung jawab sejak usia prasekolah (4-5 tahun) untuk mengembangkan pola perilaku yang tahan lama.
3. Mulai dari yang kecil dan jelaskan
Jangan langsung memberikan banyak tanggung jawab, mulai dengan tugas sederhana dan buat tugas dengan instruksi yang jelas.
4. Berikan tanggung jawab yang sesuai dengan usia anak
Berikan tanggung jawab yang dapat ditangani sesuai dengan usia anak, misalnya saat anak balita dapat berikan tanggung jawab mengelap permukaan yang kotor atau memberikan makanan kucing, kemudian ajak anak bantu beberapa pekerjaan rumah saat anak memasuki usia sekolah.
5. Terapkan konsekuensi yang sebanding dengan kesalahan mereka
Konsekuensi perlu diterapkan agar anak disiplin dan tidak meninggalkan tanggung jawab mereka. Berikan konsekuensi yang alami, misalnya bertukar pikiran dengan anak tentang solusi dari kelalaian mereka.
Cara Mengelola Emosi sebagai Orangtua

Hampir setiap orangtua mungkin pernah kehilangan kesabaran, terutama saat anak tidak mendengarkan perintah atau melakukan tanggung jawabnya. Hal ini sangat wajar, mengingat manusia memiliki batas kesabarannya masing-masing.
Namun, alangkah baiknya orangtua juga mengelola emosi agar anak-anak dapat mencontoh hal yang sama. Ingat, anak akan berkaca pada sikap orangtuanya, Ma.
Ini dia cara mengelola emosi sebagai orangtua, mengutip dari laman Greater Good Science Center University of California Berkeley:
- Kenali emosi diri sendiri
Penting bagi orangtua untuk mengetahui emosi yang ada pada diri sendiri mulai dari emosi penghambat (rasa bersalah, cemas, malu) hingga emosi inti (sedih, marah, takut, jijik, gembira).
- Identifikasi apa yang memicu emosi, validasi perasaan, dan tenangkan perasaan
Wajar bagi orangtua untuk menyalahkan diri atau menutupi diri saat marah, hal ini merupakan pertahanan diri. Setelah itu, identifikasi apa yang memicu emosi dan memvalidasi perasaan sendiri agar dapat lebih tenang.
- Mulai latihan refleksi diri
Refleksi diri penting bagi orangtua agar dapat memahami emosi dan mengidentifikasi akar penyebabnya, hal ini bisa menjadi cara yang tepat untuk belajar dari kesalahan yang sama atau trauma di masa lalu agar dapat menjadi lebih baik.
Kasus Ibu yang membakar anaknya di Sumbawa tersebut terjadi karena kekesalan seorang anak dan Ibu yang tidak dapat mengontrol emosinya.
Kedua hal tersebut sebenarnya dapat dihindari dengan pola asuh orangtua yang menanamkan nilai-nilai tanggung jawab sedari awal, baik tanggung jawab anak maupun tanggung jawab orangtua terhadap tugas dan peran masing-masing.
Semoga ini bisa menjadi pelajaran agar Mama dan anak bisa terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya.


















