6 Pola Asuh Anak yang Membuat Luka Hati hingga Dewasa, Pengaruhi Mental

- Dampak anak yang emosinya sering disepelekan.
- Perhatikan emosi anak yang sering disalahkan.
- Anak mendapat tuntutan yang harus selalu menuruti agar perilakunya dapat diterima.
Dalam proses tumbuh kembang, anak tidak hanya belajar secara fisik dan akademis, tetapi juga membentuk kemampuan mengenali serta mengekspresikan emosi. Cara orangtua merespons perasaan anak sejak dini sering kali dianggap sepele, padahal hal tersebut dapat membekas hingga anak tumbuh dewasa.
Tidak sedikit Mama yang tanpa sadar meremehkan emosi anak, sering menyalahkan, atau menuntut anak untuk selalu menuruti keinginan agar diterima. Pola pengasuhan seperti ini kerap terjadi dalam keseharian dan dianggap wajar, meski dampaknya tidak selalu terlihat dalam waktu singkat.
Belakangan, sebuah unggahan di media sosial kembali mengingatkan bahwa pengalaman emosional di masa kecil dapat memengaruhi kepribadian anak saat dewasa. Dari kebiasaan memendam perasaan hingga rasa cemas berlebih, semuanya bisa berawal dari respons orangtua terhadap emosi anak.
Melalui artikel ini, Popmama.com merangkum pola asuh anak yang diam-diam membentuk luka emosional saat dewasa.
Yuk, disimak!
1. Anak yang emosinya sering disepelekan

Saat anak merasa sedih, marah, atau kecewa, respons orangtua sangat berperan dalam membantu anak memahami perasaannya. Namun, tidak jarang emosi anak justru dianggap berlebihan, ditenangkan dengan cepat tanpa didengarkan, atau diminta berhenti menangis karena dinilai sepele.
Jika hal ini terjadi berulang kali, anak bisa belajar bahwa perasaannya tidak penting untuk diungkapkan. Anak pun terbiasa memendam emosi karena merasa tidak aman atau tidak diterima saat menunjukkan perasaan yang sebenarnya.
Dalam jangka panjang, pola ini dapat terbawa hingga dewasa. Anak yang tumbuh dengan emosi yang sering disepelekan berisiko menjadi pribadi yang sulit mengekspresikan perasaan, cenderung menyimpan masalah sendiri, dan kebingungan mengenali apa yang sedang dirasakan.
2. Anak yang sering disalahkan

Dalam keseharian, anak bisa melakukan kesalahan, baik disengaja maupun tidak. Namun, ketika setiap kesalahan selalu direspons dengan menyalahkan tanpa memberi kesempatan anak menjelaskan atau belajar memperbaiki diri, hal ini dapat memengaruhi kepercayaan diri anak.
Anak yang terbiasa disalahkan akan merasa bahwa pendapat dan sudut pandangnya tidak penting. Lambat laun, anak menjadi ragu untuk mengungkapkan isi pikiran karena takut dianggap salah atau mengecewakan orangtua.
Saat tumbuh dewasa, pengalaman ini dapat membentuk pribadi yang takut berpendapat dan cenderung memilih diam, meski memiliki ide atau pandangan sendiri. Kondisi tersebut membuat anak kesulitan menyuarakan kebutuhan dan batasannya dalam berbagai situasi.
3. Anak yang harus selalu menuruti agar diterima

Sebagian anak tumbuh dengan pemahaman bahwa penerimaan dari orangtua hanya bisa didapat jika selalu menuruti keinginan dan aturan tanpa ruang untuk menolak. Dalam kondisi ini, anak belajar bahwa kasih sayang bergantung pada kepatuhan.
Ketika anak tidak diberi kesempatan menyampaikan keinginan atau perasaannya sendiri, anak bisa kesulitan mengenali batasan diri. Anak pun terbiasa mengesampingkan kebutuhan pribadi demi menjaga hubungan dengan orang lain.
Pola ini dapat terbawa hingga dewasa. Anak yang tumbuh dengan tuntutan untuk selalu menuruti orang lain berisiko menjadi pribadi yang sulit berkata tidak dan cenderung menjadi people pleaser, meski harus mengorbankan kenyamanan diri sendiri.
4. Anak yang dicintai saat berprestasi

Apresiasi atas pencapaian anak memang penting. Namun, ketika kasih sayang dan perhatian orangtua hanya muncul saat anak berprestasi, anak bisa menangkap pesan bahwa nilai diri ditentukan oleh hasil dan pencapaian semata.
Dalam kondisi ini, anak belajar untuk terus mengejar prestasi agar merasa diterima dan dicintai. Kegagalan atau waktu beristirahat sering kali dianggap sebagai sesuatu yang memalukan atau tidak berguna.
Saat dewasa, pola tersebut dapat berkembang menjadi keyakinan bahwa diri hanya berharga ketika sibuk, produktif, dan terus menghasilkan sesuatu. Anak pun berisiko merasa bersalah saat beristirahat dan sulit menikmati proses tanpa tekanan pencapaian.
5. Anak yang sering dibandingkan

Membandingkan anak dengan saudara, teman, atau anak lain kerap dilakukan dengan harapan memotivasi. Namun, bagi anak, perbandingan yang terus-menerus justru dapat menumbuhkan rasa tidak aman terhadap diri sendiri.
Anak yang sering dibandingkan akan merasa bahwa usaha dan keunikannya tidak pernah cukup. Anak pun tumbuh dengan keyakinan bahwa selalu ada standar lain yang harus dikejar agar dianggap berhasil.
Ketika dewasa, pengalaman ini dapat membentuk pribadi yang sulit merasa puas dengan pencapaiannya sendiri. Rasa kurang dan tidak cukup kerap muncul, meski telah berusaha keras dan mencapai banyak hal dalam hidup.
6. Anak yang tumbuh tanpa rasa aman

Rasa aman tidak hanya berkaitan dengan lingkungan fisik, tetapi juga keamanan emosional. Anak membutuhkan perasaan diterima, didengar, dan dilindungi agar dapat tumbuh dengan tenang dan percaya diri.
Ketika anak sering merasa diabaikan, tidak didukung, atau hidup dalam suasana penuh tekanan, rasa aman tersebut tidak terbentuk dengan baik. Anak pun terbiasa berada dalam kondisi waspada karena tidak tahu kapan kebutuhan emosionalnya akan terpenuhi.
Dalam jangka panjang, pengalaman ini dapat terbawa hingga dewasa. Anak yang tumbuh tanpa rasa aman berisiko hidup dengan kecemasan, mudah khawatir, dan kesulitan merasa tenang dalam berbagai situasi.
Itulah gambaran bagaimana pengalaman emosional di masa kecil dapat membentuk kondisi anak saat dewasa. Melalui pola asuh anak yang diam-diam membentuk luka emosional saat dewasa, Mama diharapkan bisa lebih peka terhadap respons sehari-hari agar anak tumbuh dengan rasa aman dan percaya diri.


















