Kisah 5 Orang Istri, Ini Cara Mereka Bertahan Setelah Diselingkuhi

Tidak semua orang bisa berdamai setelah ia tahu bahwa dirinya dicurangi oleh pasangan hidupnya

12 Maret 2019

Kisah 5 Orang Istri, Ini Cara Mereka Bertahan Setelah Diselingkuhi
Unsplash/Pete Bellis

Pernikahan merupakan hal yang menyenangkan, sepanjang suami dan istri tetap bersama dan saling setia. Bagaimana jika salah satu dari mereka ada yang berselingkuh?

Perselingkuhan sama artinya dengan berbuat curang. Tidak banyak yang bisa memaafkan pasangannya setelah mereka dicurangi. Bagaimana dengan perasaan yang tersakiti karena dikhianati?

Berikut ini ada 5 orang perempuan yang membagikan kisahnya kepada Popmama.com, mereka bercerita bagaimana mereka bertahan setelah diselingkuhi dan dicurangi secara telak oleh pasangannya.

Ini tidak mudah, berikut ini kisahnya:

1. Kamu harus fokus pada diri sendiri

1. Kamu harus fokus diri sendiri
Unsplash/Andressa Voltolini

Saya mengalami kesulitan ketika itu pertama kali terjadi. Dia meninggalkan saya demi perempuan lain bahkan setelah mengenalnya sejak kelas 5 dan memiliki anak bersama. Saya mengatasi ini dengan membatasi kontak saya dengan dia dan kami melakukan kontak saat membicarakan tentang putra kami.

Saya memindahkan semua barang-barangnya ke ruang bawah tanah dan mulai fokus pada diri saya sendiri. Ketika saya mulai fokus pada diri saya sendiri dan membangun kembali harga diri saya, saya dapat bergerak maju dan berbahagia [dengan dia] lagi.  —Nella, 28 tahun.

2. Kamu membutuhkan "clean break", berpisah sementara mungkin bisa jadi yang terbaik

2. Kamu membutuhkan "clean break", berpisah sementara mungkin bisa jadi terbaik
Unsplash/Nadi Whatisdelirium

Ketika saya tahu dia mulai melihat orang lain padahan kami masih bersama dan tidak ada masalah apa-apa, saya meninggalkannya. Kami tidak berbicara selama enam bulan. Saya tidak menjawab panggilan telepon, SMS atau email darinya. Saya bahkan memblokirnya di media sosial.

“Clean break!”

Kemudian, kami bertemu satu sama lain di sebuah pesta, itu adalah acara teman kami bersama. Kami harus tegur sapa, berbicara dan keduanya menyadari betapa kami merindukan satu sama lain. Kami mengambil satu hari pada satu waktu untuk kembali. Sudah tiga bulan dan sejauh ini, semua berjalan sangat baik. —Tari, 27 tahun.

Editors' Picks

3. Terapi bisa banyak membantu

3. Terapi bisa banyak membantu
Unsplash/Brooke Cagle

Kami sudah bersama selama 8 tahun dan saya mulai gelisah. Bukan karena saya tidak mencintai pasangan saya lagi, saya pernah menangkap basah apa yang pasangan saya lakukan. Kami masih muda dan ia tertarik pada rekan kerja di kantornya. Itu pukulan berat bagi saya dan membuat saya ingin lepas darinya pada saat itu.

Akhirnya, rasa bersalah itu ia sampaikan kepada saya. Alih-alih meninggalkan saya, dia malah ingin berusaha untuk melaluinya. Selama lima tahun ia berusaha membuktikan kepada saya.

Saya merasa was-was tapi semua membaik. Sering saya lakukan terapi dan konseling kepada ahlinya, masih saya lakukan sampai sekarang, mengunjungi tempat terapi. Saya melakukan banyak upaya untuk melewati kondisi berat seperti itu.  —Jessica, 35 tahun.

4. Berpisah dan menjalani terapi sebaik mungkin

4. Berpisah menjalani terapi sebaik mungkin
Unsplash/Christopher Campbell

Saya menemukannya setelah tiga bulan ia tidur dengan orang lain. Saya sempat mengatakan kepadanya bahwa saya tidak pernah ingin melihatnya lagi. Saat itulah saya merasa sakit karena pengkhianatan yang saya alami.

Ini luar biasa menghilangkan rasa percaya diri saya. Kemudian saya menyadari betapa rumah tangga ini telah gagal. Saya tidak ingin kehilangan. Dia juga tidak ingin kehilangan saya.

Kami menghabiskan beberapa waktu terpisah, melakukan banyak terapi dan pertumbuhan pribadi, sampai akhirnya memilih untuk memberikan kesempatan lain. Beberapa tahun kemudian, kami berpisah dengan baik-baik. Saya masih tidak berhasil untuk melupakan dan memulai lagi segalanya bersama-sama.

Segala sesuatu tentang hubungan itu adalah pengalaman besar, sebuah pelajaran hidup dan saya bersyukur untuk itu. Kami memutuskan untuk tidak tetap berteman meski ini akan sulit bagi kami berdua. —Kia, 31 tahun.

5. Jujur satu sama lain dan menerima apapun kenyataan yang ada

5. Jujur satu sama lain menerima apapun kenyataan ada
Unsplash/Brooke Cagle

Ketika saya tahu ia berselingkuh, saya menemui perempuan yang merebut suami saya. Kami duduk bertiga dan membicarakan apa yang sebenarnya terjadi. Saya memberikan pilihan kepada pasangan saya untuk membuat keputusan.

Apakah dia memilih perempuan itu atau memilih saya dan anak-anak? 

Tidak mudah sebenarnya membesarkan anak-anak seorang diri, ini yang menjadi kekuatan bagi saya. Setelah suami saya memilih saya, kami kembali pulang ke rumah dan mencoba untuk memperbaiki semuanya. Saya merasa ini adalah situasi yang membuat saya sesak dan dada saya terasa ingin meledak.

Saya pikir, mengetahui segalanya adalah hal penting. Saya bertanya, kapan ia mulai berpaling, kenapa ia melakukan itu pada saya dan anak-anak kami? Setelah mendengan semua penjelasannya dengan jujur rasanya tidak ada alasan untuk tidak memaafkan. Kami mencoba memperbaiki semuanya. Sudah 2 tahun berjalan dan segalanya berjalan dengan baik.  —Manda, 32 tahun.

Itulah cara yang telah mereka tempuh sebagai seorang istri yang pernah diselingkuhi oleh pasangannya. Tidak menyenangkan untuk berada di posisi demikian. Tapi itulah kenyataan hidup.

Baca juga:

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!