Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

Apakah Penggunaan KB Bisa Menyebabkan Keputihan? Ini Penjelasannya!

Apakah Penggunaan KB Bisa Menyebabkan Keputihan? Ini Penjelasannya!
Magnific/wayhomestudio
Intinya Sih
  • dr. Yena M. Yuzar menjelaskan bahwa keputihan setelah penggunaan KB bisa jadi reaksi normal tubuh terhadap alat kontrasepsi, tergantung jenisnya, baik hormonal maupun non-hormonal.
  • KB IUD dapat memicu peningkatan lendir karena respons rahim terhadap benda asing, sedangkan KB hormonal mengubah keseimbangan hormon yang membuat lendir serviks lebih kental.
  • Keputihan perlu diwaspadai bila disertai bau, gatal, atau perubahan warna; pengguna disarankan berkonsultasi dengan dokter dan bisa mengganti metode KB sesuai kenyamanan tubuh.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Banyak Mama yang merasa khawatir saat mengalami keputihan setelah mulai menggunakan alat kontrasepsi (KB). Kekhawatiran ini sangat wajar, terutama karena keputihan sering kali dianggap sebagai tanda adanya masalah kesehatan reproduksi yang serius atau bahkan penurunan kualitas kebersihan diri. Padahal, tidak semua perubahan pada lendir vagina menandakan kondisi yang berbahaya atau perlu dikhawatirkan secara berlebihan.

Memahami apakah perubahan lendir tersebut merupakan efek samping yang umum dari kontrasepsi atau justru tanda infeksi adalah langkah krusial bagi setiap Mama. Informasi yang akurat sangat diperlukan agar Mama tidak salah langkah dalam mengambil tindakan, terutama saat sedang melakukan proses adaptasi tubuh dengan metode KB baru yang mungkin belum pernah digunakan sebelumnya.

Nah, untuk memberikan edukasi yang tepat, dr. Yena M. Yuzar, Sp.OG. membagikan penjelasan medis mengenai kaitan penggunaan KB dengan keputihan melalui akun TikTok edukasinya, yakni @Yena.yuzar. Melalui video tersebut, dr. Yena memberikan panduan bagi para perempuan untuk memahami respons tubuh yang wajar serta mengenali tanda-tanda kapan Mama harus mulai waspada.

Berikut Popmama.com sudah merangkum poin-poin penting mengenai efek KB pada keputihan dibawah ini!

Table of Content

1. Reaksi tubuh terhadap KB non-hormonal (IUD)

1. Reaksi tubuh terhadap KB non-hormonal (IUD)

Apakah Penggunaan KB Bisa Menyebabkan Keputihan_  2.jpg
Magnific/freepik

Penggunaan KB IUD (Intrauterine Device) sering kali menjadi pilihan bagi Mama yang menginginkan metode jangka panjang. Namun, karena alat ini berada langsung di dalam rahim, tubuh akan merespons keberadaannya sebagai benda asing, yang kemudian memicu produksi lendir.

"Misalnya IUD, itukan benda asing, maka rahim dan serviks itu akan bereaksi, kemudian dia akan mengeluarkan lendir. Nah lendir-lendir itu akan semakin banyak, itu biasanya wajar," jelas dr. Yena.

Penelitian biologi reproduksi yang dirujuk oleh American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) mengonfirmasi bahwa IUD tipe tembaga dapat meningkatkan produksi lendir serviks sebagai respons peradangan ringan yang steril. Hal ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan rahim yang tidak ramah bagi sperma, sehingga produksi lendir yang lebih banyak dari biasanya adalah reaksi yang dapat diprediksi secara klinis.

2. Pengaruh KB hormonal pada keseimbangan lendir

Apakah Penggunaan KB Bisa Menyebabkan Keputihan_  3.jpg
Magnific/jcomp

Berbeda dengan IUD tembaga, KB hormonal seperti pil KB, suntik, atau implan bekerja dengan cara mengatur sistem reproduksi melalui paparan hormon sintetik. Hal ini secara langsung memengaruhi kondisi lingkungan di area serviks.

"Atau juga pada ibu-ibu yang menggunakan KB hormonal. Nah hormonal itu tentunya akan menggangu keseimbangan esterogen progesteron sehingga menyebabkan lendir-lendir serviks itu menjadi lebih kental dan akibatnya akan ada keputihan yang kesannya kental," papar dr. Yena.

Menurut pedoman dari National Health Service (NHS), perubahan kadar estrogen dan progesteron dalam tubuh akibat kontrasepsi hormonal memang dapat mengubah konsistensi lendir serviks.

Kondisi ini bertujuan untuk menebalkan lendir serviks guna menghalangi sperma, yang secara visual akan tampak berbeda bagi Mama dibandingkan dengan lendir di masa sebelum menggunakan KB.

3. Risiko iritasi pada penggunaan kondom

Apakah Penggunaan KB Bisa Menyebabkan Keputihan_  4.jpg
Magnific/jcomp

Penggunaan kondom sebagai metode kontrasepsi non-hormonal umumnya dianggap sangat aman. Namun, bagi sebagian Mama, bahan atau pelumas yang ada pada kondom bisa saja tidak cocok dan memicu reaksi pada dinding vagina.

"Ada juga KB misalnya menggunakan kondom tapi menyebabkan keputihan, perih, kemudian gatal dan sebagainya. Nah itu berarti mungkin iritasi dari kondom itu terhadap dinding vagina," terang dr. Yena.

Merujuk pada data dari Planned Parenthood, reaksi iritasi atau alergi terhadap bahan lateks atau pelumas kondom memang bisa terjadi dan sering disalahartikan sebagai keputihan.

Iritasi ini sering kali memicu respons inflamasi tubuh yang ditandai dengan keluarnya cairan berlebih, rasa perih, hingga kemerahan pada area vulva dan vagina.

4. Kapan harus waspada dan mengobati?

Apakah Penggunaan KB Bisa Menyebabkan Keputihan_  5.jpg
Magnific/freepik

Tidak semua keputihan yang dialami pengguna KB adalah hal yang wajar. Ada kondisi tertentu di mana keputihan tersebut sudah bukan lagi efek samping dari KB, melainkan tanda adanya gangguan kesehatan yang nyata.

"Nah yang harus diwaspadai itu, kalau keputihan tersebut sudah ada bakterinya atau ada jamurnya. Nah itu yang harus diobati. Tapi kalau keputihan itu diperiksa ternyata masih fisiologis, masih normal, tidak menyebabkan gatal, tidak bau, tidak berwarna, nah itu tidak masalah," tegas dr. Yena.

Merujuk pada panduan dari World Health Organization (WHO) mengenai manajemen kesehatan reproduksi, jika keputihan disertai perubahan warna (seperti kuning, hijau, atau keabu-abuan), berbau menyengat, atau menyebabkan nyeri saat berhubungan seksual, hal tersebut merupakan indikasi infeksi yang membutuhkan penanganan medis segera, terlepas dari apa pun metode KB yang Mama gunakan.

5. Fleksibilitas berganti metode kontrasepsi

Apakah Penggunaan KB Bisa Menyebabkan Keputihan_  6.jpg
Magnific/freepik

Jadi, setiap tubuh memiliki respons yang berbeda terhadap kontrasepsi, dr. Yena menekankan pentingnya bagi Mama untuk menyadari bahwa efek samping yang dialami sangat bersifat personal dan tidak permanen.

"Kadang efek keputihan dari KB itu ada yang sifatnya individual. Pada seseorang KB IUD itu menyebabkan keputihan sangat berlebihan. Tapi pada orang lain, keputihannya ada tapi tidak terlalu berlebihan. Pada kondisi demikian kita bisa switch KB kita yang tadinya hormonal menjadi non hormonal ataupun sebaliknya," tutup dr. Yena.

Jika Mama merasa kualitas hidup terganggu oleh keputihan yang berlebihan, langkah yang paling bijak adalah mendiskusikannya kembali dengan dokter spesialis kandungan. CDC (Centers for Disease Control and Prevention) juga menyarankan agar pasangan memilih metode kontrasepsi berdasarkan efektivitas, profil efek samping, dan kenyamanan pengguna agar perlindungan terhadap kehamilan tetap optimal tanpa mengorbankan kenyamanan diri.

Semoga informasi mengenai hubungan antara KB dan keputihan ini memberikan ketenangan dan pemahaman yang lebih baik bagi Mama.

Jangan ragu untuk memeriksakan diri ke dokter jika keputihan yang Mama alami terasa tidak wajar atau sangat mengganggu kenyamanan.

Apakah Mama pernah mengalami perubahan lendir serviks yang drastis setelah berganti metode KB?

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Onic Metheany
EditorOnic Metheany

Related Articles

See More