Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

ASI Bercampur dengan Darah, Apakah Aman? Ini Penjelasan Medisnya

ASI Bercampur dengan Darah, Apakah Aman? Ini Penjelasan Medisnya
Freepik/freepik
Intinya Sih
  • Warna ASI bisa berubah karena makanan, kondisi tubuh, atau faktor alami setelah melahirkan; kadang muncul darah yang membuat ASI tampak kemerahan tanpa selalu berbahaya.
  • Penyebab umum darah dalam ASI meliputi rusty pipe syndrome, puting lecet, tekanan pompa berlebih, mastitis, papiloma jinak, hingga kemungkinan kanker payudara yang perlu pemeriksaan medis.
  • ASI bercampur sedikit darah umumnya aman untuk bayi, namun Mama disarankan berkonsultasi ke dokter bila perdarahan berlangsung lama atau disertai gejala lain seperti nyeri dan demam.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

ASI dikenal sebagai asupan terbaik untuk bayi karena kandungannya yang lengkap dan menyesuaikan kebutuhan si Kecil. Namun, sebagian Mama mungkin pernah merasa khawatir saat melihat perubahan warna ASI, terutama ketika tampak kemerahan atau seperti bercampur darah. 

Perlu Mama ketahui, warna ASI memang bisa berubah-ubah. Hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari makanan yang dikonsumsi hingga kondisi tubuh Mama. Bahkan, dalam beberapa kondisi, keberadaan darah di dalam ASI bisa saja terjadi.

Supaya lebih tenang, yuk pahami penjelasan lengkapnya telah Popmama.com rangkum melanisr dari laman Vinmec Healthcare System

Table of Content

Faktor yang Memengaruhi Warna ASI

Faktor yang Memengaruhi Warna ASI

Freepik/freepik
Freepik/freepik

Pada dasarnya, ASI memiliki warna yang sangat beragam.  Jika Mama menggunakan pompa ASI, mungkin akan melihat perubahan warna yang cukup jelas. 

Berbeda dengan susu formula yang cenderung memiliki warna tetap, komposisi dan tampilan ASI bisa berubah-ubah, bahkan dalam satu hari atau satu sesi menyusui.

ASI bisa berwarna putih, kekuningan, bening, hingga kehijauan. Hal ini dipengaruhi oleh makanan dan minuman yang dikonsumsi Mama. 

Misalnya, makanan tinggi warna kuning atau oranye seperti wortel dan ubi dapat meningkatkan kandungan karoten dalam ASI, sehingga warnanya tampak kekuningan atau oranye. Kandungan ini aman untuk bayi.

ASI berwarna merah muda bisa menandakan adanya darah. Sedangkan, ASI warna hijau bisa diakibatkan banyaknya mengonsumsi sayuran hijau.

Lalu, ASI warna cokelat atau seperti karat bisa terjadi karena kondisi yang disebut rusty pipe syndrome, yaitu ketika pembuluh darah di payudara mengalami perubahan selama kehamilan dan awal masa menyusui.

Cara Mengetahui Adanya Darah dalam ASI

Freepik/valeria_aksakova
Freepik/valeria_aksakova

Sedikit darah dalam ASI pada awal masa menyusui sebenarnya cukup umum terjadi. Hal ini disebabkan oleh perubahan alami dalam tubuh setelah melahirkan.

Dalam banyak kasus, jumlah darah yang sangat sedikit bahkan tidak disadari, kecuali saat Mama memompa ASI atau bayi memuntahkan susu.

Namun, jika jumlah darah cukup banyak dan ikut tertelan oleh bayi, Mama mungkin akan melihat bercak hitam pada feses bayi. Feses si Kecil juga bisa tampak lebih gelap dan memiliki bau yang lebih menyengat.

Jika perdarahan terus terjadi selama beberapa hari dan bercampur dengan ASI, sebaiknya Mama segera berkonsultasi dengan dokter spesialis kandungan untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Penyebab Darah Bercampur dengan ASI

Pexels/RDNE Stock project
Pexels/RDNE Stock project

Ada beberapa penyebab umum munculnya darah dalam ASI yang perlu Mama ketahui:

  • Rusty Pipe Syndrome

Kondisi ini terjadi ketika saluran dan kelenjar penghasil ASI berkembang pesat setelah melahirkan. Akibatnya, darah bisa ikut keluar bersama ASI, terutama pada minggu pertama atau beberapa minggu setelah persalinan.

Kondisi ini tidak berbahaya bagi Mama maupun bayi. Meskipun bayi mungkin mengalami refleks muntah karena iritasi saat menelan darah, hal ini umumnya tidak membahayakan. Rusty pipe syndrome biasanya akan hilang dengan sendirinya dalam waktu 7–10 hari, dan menyusui tetap boleh dilanjutkan.

  • Puting Lecet

Puting yang lecet atau terluka saat menyusui bisa menyebabkan darah bercampur dengan ASI. Dalam kasus ini, sumber darah berasal dari luka pada puting, bukan dari dalam payudara.

Penggunaan pompa ASI dapat membantu mengurangi iritasi dan memberi waktu bagi puting untuk pulih, terutama jika Mama masih belajar posisi menyusui yang benar di awal masa menyusui.

  • Kerusakan Pembuluh Darah di Payudara

Kerusakan jaringan payudara akibat memerah ASI secara manual atau penggunaan pompa dengan tekanan terlalu kuat dapat menyebabkan pembuluh darah kecil pecah, sehingga berujung mengeluarkan darah.

Selama kehamilan, jaringan payudara berkembang pesat, termasuk pembuluh darahnya. Kondisi ini membuat struktur tersebut lebih sensitif dan mudah rusak jika mendapat tekanan berlebih.

  • Mastitis

Infeksi pada payudara atau mastitis juga bisa menyebabkan perdarahan dari puting. Biasanya kondisi ini disertai gejala lain seperti nyeri, kemerahan, dan demam.

  • Papiloma pada Jaringan Payudara

Papiloma adalah tumor jinak di saluran ASI. Jika terjadi perdarahan, ASI bisa tampak berwarna merah muda. Kondisi ini biasanya tidak berbahaya dan tidak menimbulkan rasa nyeri.

Menyusui tetap bisa dilakukan, kecuali jika bayi mengalami gangguan pencernaan akibat darah yang tertelan. Jika itu terjadi, Mama bisa berhenti sementara selama 3–7 hari hingga perdarahan berhenti.

  • Fibrosis Payudara

Fibrosis payudara ditandai dengan adanya nyeri, benjolan padat, atau kista. Kondisi ini bukan alasan untuk menghentikan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan, kecuali bayi tidak dapat mentoleransi ASI.

Meskipun jarang, darah dalam ASI juga bisa menjadi tanda kondisi serius seperti kanker payudara. Oleh karena itu, penting untuk melakukan pemeriksaan jika gejala berlangsung lama atau disertai tanda lain yang mencurigakan.

Apakah ASI yang Bercampur dengan Darah Aman?

Freepik/fabrikasimf
Freepik/fabrikasimf

Secara umum, ASI yang mengandung sedikit darah masih aman untuk diberikan kepada bayi, terutama selama enam bulan pertama masa ASI eksklusif.

Jadi, Mama tidak perlu langsung menghentikan menyusui jika bayi tetap nyaman dan tidak menunjukkan reaksi tertentu.

Namun, jika Mama memiliki penyakit yang dapat menular melalui darah seperti hepatitis, HIV, atau sifilis, menyusui sebaiknya dilakukan setelah berkonsultasi dengan dokter.

Beberapa bayi mungkin akan mengalami perubahan akibat darah dalam ASI, seperti rasa ASI yang berbeda sehingga bayi menjadi rewel, muncul darah pada feses, atau mengalami gangguan pencernaan seperti kembung dan muntah.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Ada Darah pada ASI?

Freepik/wirestock
Freepik/wirestock

Jika Mama menemukan darah dalam ASI, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan, berikut penjelasannya:

  • Apabila penyebabnya adalah puting lecet, Mama bisa menghentikan sementara menyusui dan fokus pada perawatan puting hingga sembuh.
  • Penting juga untuk mempelajari teknik menyusui yang benar, karena posisi dan pelekatan yang kurang tepat sering menjadi penyebab utama puting terluka. Mama bisa berkonsultasi dengan konselor laktasi untuk mendapatkan panduan yang tepat.
  • Perhatikan juga tanda-tanda mastitis, seperti nyeri dan kemerahan pada payudara. Jika muncul gejala tersebut, segera periksakan diri ke dokter.

Meski begitu, menyusui atau memompa ASI tetap dianjurkan karena darah dalam ASI umumnya tidak berbahaya bagi bayi.

Menghentikan menyusui secara tiba-tiba justru dapat menyebabkan masalah lain, seperti saluran ASI tersumbat atau produksi ASI menurun.

Dengan memahami informasi ini, Mama tidak perlu terlalu khawatir saat menemukan darah dalam ASI.

Selama kondisi masih dalam batas normal dan bayi tetap sehat, menyusui bisa terus dilanjutkan. Namun, jangan ragu untuk mencari bantuan medis jika Mama merasa tidak yakin, ya!

Share
Topics
Editorial Team
Onic Metheany
EditorOnic Metheany
Follow Us

Latest in Pregnancy

See More