Jangan Body Shaming, Ini Penyebab Ibu menyusui Naik Berat Badan

Dalam masyarakat, seringkali terjadi pandangan atau komentar yang kurang mendukung terhadap perubahan berat badan pada ibu menyusui. Peningkatan berat badan pada ibu menyusui adalah fenomena alami dan kompleks yang dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk proses fisiologis dan kebutuhan gizi untuk mendukung pertumbuhan bayi.
Body shaming terhadap ibu menyusui seringkali tidak memahami secara menyeluruh perjalanan yang dialami, yang pada akhirnya dapat merugikan kesehatan mental dan fisiknya.
Pentingnya mendukung dan memahami perubahan berat badan pada ibu menyusui sebagai bagian dari peran kesehatan reproduksi yang alami, dapat memberikan dampak positif dalam menciptakan lingkungan yang lebih penuh empati dan mendukung bagi semua ibu.
Mungkin beberapa orang tidak tahu tentang perubahan alami yang terjadi pada ibu menyusui, termasuk naiknya berat badan.
Berikut Popmama.com akan membahas tentang penyebab Ibu menyusui naik berat badan yang mungkin belum kamu ketahui. Simak baik-baik, ya!
1. ASI adalah nutrisi yang paling sesuai untuk bayi

Menurut penelitian dari BMC Pediatrics, ASI mengandung nutrisi yang paling sesuai untuk pencernaan dan penyerapan bayi, dengan tingkat ketersediaan yang sangat tinggi. Nutrisi tersebut dapat memenuhi kebutuhan fisiologis bayi pada berbagai tahap perkembangan, dan tidak dapat digantikan oleh jenis makanan lainnya.
Selama 10 tahun terakhir, banyak penelitian telah menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pemberian ASI dan risiko obesitas pada anak-anak. Studi yang dilakukan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa memperpanjang durasi pemberian ASI dapat mengurangi risiko obesitas pada anak-anak.
2. Pemberian ASI dimulai setelah satu jam kelahiran

Menurut panduan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan UNICEF, disarankan untuk memberikan ASI kepada bayi segera dalam satu jam setelah kelahiran. Pemberian ASI ini diharapkan dilanjutkan tanpa memberikan makanan atau minuman lain selama enam bulan pertama kehidupan bayi.
Selanjutnya, penting untuk tetap memberikan ASI bersamaan dengan memberikan makanan pendamping hingga bayi mencapai usia minimal 24 bulan. Hal ini bertujuan untuk memberikan asupan nutrisi yang optimal dan mendukung pertumbuhan dan perkembangan bayi secara menyeluruh.
3. Bayi yang tidak pernah diberi ASI memiliki risiko obesitas

Hingga kini, penelitian-penelitian besar telah sepakat bahwa memperpanjang durasi pemberian ASI pada bayi dapat membantu mengurangi tingkat kelebihan berat badan dan obesitas pada anak-anak serta remaja. Sebagai ilustrasi, studi di Hong Kong dan Spanyol menunjukkan bahwa bayi yang mendapat formula cenderung mengalami peningkatan Indeks Massa Tubuh (BMI) lebih cepat dibandingkan dengan mereka yang mendapat ASI.
Sebuah penelitian kohort kelahiran di Spanyol juga menemukan bahwa bayi yang tidak pernah mendapat ASI di wilayah tersebut memiliki risiko obesitas dan kelebihan berat badan meningkat sebesar 7,8%, sementara setiap minggu pemberian ASI dapat mengurangi BMI anak mereka sebesar 3,5%. Temuan-temuan ini memperkuat dukungan terhadap manfaat pemberian ASI dalam mengurangi risiko kelebihan berat badan pada anak-anak dan remaja.
4. Pemberian ASI dapat mengurangi kelebihan berat badan dan obesitas pada bayi

Penelitian sebelumnya juga menegaskan bahwa ASI mengandung hormon-hormon pengatur metabolisme energi dan asupan makanan, seperti leptin dan adiponektin. Pemberian ASI dapat mengontrol makan dan membantu mengonsumsi energi sesuai kebutuhan pada masa bayi, sehingga mengurangi risiko makan berlebihan.
Selain itu, kandungan protein dan kalori dalam ASI lebih rendah daripada susu formula, mencegah sekresi insulin dan faktor pertumbuhan serupa insulin yang berlebihan, sehingga mengurangi penumpukan lemak dan pertumbuhan sel lemak.
Pemberian ASI juga memberikan nutrisi yang cukup bagi bayi, sehingga tidak diperlukan makanan padat hingga bayi mencapai usia 6 bulan.
Temuan ini menunjukkan bahwa pemberian ASI dapat secara bermakna mengurangi tingkat kelebihan berat badan dan obesitas pada anak-anak dan remaja berusia 6 hingga 16 tahun. Hasil penelitian ini akan memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai manfaat kesehatan dari pemberian ASI pada kelompok usia tersebut.
5. Salah satu penyebab kenaikan berat badan pada Ibu menyusui adalah mengalami peningkatan nafsu makan

Berdasarkan informasi dari The Lactation Nutritionist, Ibu yang menyusui eksklusif dapat membakar 500-670 kalori tambahan setiap hari, setara dengan melakukan olahraga lari selama 45 menit.
Oleh karena itu, tidak mengherankan jika berat badan ibu mengalami penurunan, meskipun tidak secara signifikan. Meskipun belum ada bukti penelitian yang kuat mengenai hubungan antara menyusui dan penambahan berat badan ibu, kemungkinan peningkatan berat badan tetap ada dan bervariasi pada setiap ibu.
Menurut Trista Best, seorang ahli diet di Dalton, Georgia, ketika ibu mulai menyusui, kebutuhan akan kalori ekstra berkurang, yang dapat menyebabkan kenaikan berat badan.
Selama menyusui, mungkin Mama menyadari peningkatan nafsu makan yang alami karena kebutuhan kalori tubuh yang meningkat untuk memproduksi ASI berkualitas. Hal ini dapat berlanjut bahkan setelah menyusui, dan kelebihan kalori dapat menyebabkan penambahan berat badan, terutama jika disertai dengan kurangnya aktivitas fisik dan gaya hidup tidak aktif.
Jangan lupa jaga kesehatan dan istirahat yang cukup ya, Ma!
Itulah penyebab Ibu menyusui naik berat badan, semoga bermanfaat.



















