Mama mungkin sudah familiar dengan istilah Obsessive-Compulsive Disorder (OCD), tapi tahukah Mama bahwa ada jenis OCD khusus yang dialami pasca persalinan?
Penelitian meta-analisis tersebut dipublikasikan pada tahun 2020 di jurnal ilmiah The Journal of Clinical Psychiatry dengan judul "Women Are at Greater Risk of OCD Than Men: A Meta-Analytic Review of OCD Prevalence Worldwide" oleh Fawcett et al mengungkap tentang gangguan OCD pada ibu setelah melahirkan.
Meta-analisis global (The Journal of Clinical Psychiatry) mencatat bahwa perempuan memiliki risiko 1,6 kali lebih tinggi mengalami OCD sepanjang hidupnya dibandingkan laki-laki. Prevalensi hidup (lifetime prevalence) OCD pada perempuan mencapai sekitar 1,5%, sementara pada laki-laki berada di angka 1,0%.
Faktor Pemicu Peningkatan OCD pada Perempuan
Masa Transisi Hormonal & Perinatal: Studi klinis menemukan bahwa risiko OCD pada wanita melonjak drastis selama periode perinatal (kehamilan hingga pascapersalinan). Fluktuasi hormon estrogen dan progesteron memicu atau memperparah pikiran obsesif (seperti ketakutan berlebihan akan bahaya pada bayi) dan perilaku kompulsi secara signifikan.
Peristiwa Hidup Tramatis dan Stres: Risiko kecenderungan OCD pada perempuan lebih erat kaitannya dengan riwayat stres pascatrauma (PTSD), trauma masa kecil, atau tekanan sosial yang tinggi.
Penyakit Komorbiditas: Peningkatan gejala OCD pada wanita sering kali berjalan beriringan (komorbid) dengan peningkatan gangguan kecemasan (anxiety disorder) serta depresi mayor.