Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Kulit Sensitif Tak Lagi Sekadar Masalah Genetik, Faktor Lingkungan Jadi Pemicunya
ilustrasi kulit sensitif (magnific.com/ freepik)
  • Kasus kulit sensitif meningkat karena kombinasi faktor genetik, polusi, gaya hidup modern, dan stres yang melemahkan skin barrier serta memicu iritasi dan dermatitis atopik.
  • Pendekatan perawatan kulit kini berfokus pada memperkuat dan memperbaiki skin barrier sebagai fondasi utama kesehatan kulit jangka panjang, bukan sekadar meredakan gejala.
  • Data symposium Uriage Indonesia menunjukkan dermatitis atopik masih umum pada anak-anak dengan prevalensi 10–20 persen, menegaskan pentingnya edukasi dan perawatan kulit sejak dini.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Belakangan ini, semakin banyak orang mengeluhkan kulit yang mudah merah, gatal, kering, atau terasa perih saat menggunakan produk tertentu. Kondisi tersebut sering dikaitkan dengan melemahnya skin barrier, yaitu lapisan pelindung alami kulit yang berfungsi menjaga kelembapan sekaligus melindungi dari paparan lingkungan.

Menurut berbagai penelitian dermatologi, peningkatan kasus kulit sensitif dan dermatitis atopik tidak hanya dipengaruhi faktor genetik, tetapi juga perubahan gaya hidup modern dan lingkungan sekitar

Berikut ini Popmama.com ulas penyebab kulit sensitif yang kian meningkat pada orang dewasa hingga anak-anak.

1. Polusi dan gaya hidup perkotaan membuat skin barrier bekerja lebih keras

ilustrasi polusi udara gas carbon (pexels.com/Pixabay)

Paparan polusi udara, sinar UV, perubahan suhu, hingga asap kendaraan dapat memicu stres oksidatif pada kulit. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat melemahkan skin barrier sehingga kulit menjadi lebih mudah iritasi dan sensitif.

Beberapa studi bahkan menunjukkan bahwa masyarakat yang tinggal di area urban memiliki risiko lebih tinggi mengalami masalah kulit seperti dermatitis atopik dibandingkan mereka yang tinggal di lingkungan dengan tingkat polusi lebih rendah.

Tak heran jika kini para dermatolog semakin menekankan pentingnya menjaga kesehatan skin barrier sebagai fondasi utama kulit yang sehat.

2. Stres ternyata bisa memengaruhi kondisi kulit

ilustrasi lelah, stres, gak semangat (magnific.com/jcomp)

Saat mengalami stres, tubuh memproduksi berbagai hormon yang dapat memicu peradangan dan mengganggu fungsi pelindung kulit.

Akibatnya, kulit menjadi lebih mudah kering, sensitif, hingga mengalami flare-up pada kondisi tertentu seperti dermatitis atopik. Hubungan antara kesehatan mental dan kesehatan kulit bahkan kini menjadi salah satu fokus penelitian dalam dunia dermatologi modern.

Karena itu, menjaga kualitas tidur dan mengelola stres juga menjadi bagian penting dari perawatan kulit sehari-hari.

3. Perawatan kulit kini tidak hanya fokus mengatasi gejala

Dok. URIAGE

Jika dulu perawatan kulit sensitif lebih banyak berfokus pada meredakan kemerahan atau rasa gatal, kini pendekatannya telah berubah. Para ahli menilai bahwa memperbaiki dan memperkuat skin barrier merupakan langkah yang lebih efektif untuk menjaga kesehatan kulit dalam jangka panjang.

Hal ini juga menjadi salah satu topik yang dibahas dalam perayaan satu tahun kehadiran Uriage di Indonesia yang diselenggarakan oleh PT Regenesis Indonesia. Dalam symposium ilmiah tersebut, para praktisi dermatologi menyoroti pentingnya skin barrier sebagai fondasi kesehatan kulit sekaligus memperkenalkan inovasi perawatan untuk kulit kering, sensitif, dan atopik yang semakin banyak ditemukan dalam praktik sehari-hari.

Menurut data yang dipaparkan dalam acara tersebut, dermatitis atopik masih menjadi salah satu masalah kulit yang paling sering ditemukan pada anak-anak di Indonesia, dengan prevalensi yang dilaporkan mencapai 10–20 persen pada bayi dan anak-anak.

4. Dermatitis atopik masih menjadi masalah kulit yang banyak ditemukan pada anak

Dok. URIAGE

Selain kulit sensitif, dermatitis atopik atau eksim masih menjadi salah satu penyakit kulit yang paling sering ditemukan pada anak-anak di Indonesia.

Data yang dipaparkan dalam symposium Uriage Indonesia menyebutkan prevalensi dermatitis atopik berkisar 10–20 persen pada bayi dan anak-anak, sementara pada orang dewasa sekitar 1–3 persen.

Bahkan, Kelompok Studi Dermatologi Anak Indonesia (KSDAI) menempatkan dermatitis atopik sebagai salah satu kasus dermatologi anak yang paling banyak ditangani di berbagai fasilitas kesehatan.

5. Perawatan pasca-treatment kini semakin memperhatikan pemulihan skin barrier

Dok. URIAGE

Tidak hanya pada kulit sensitif, perhatian terhadap skin barrier juga semakin besar dalam dunia estetika. Dalam rangkaian Scientific Anniversary Symposium yang digelar Uriage Indonesia bersama PT Regenesis Indonesia, para dokter membahas pentingnya perawatan pasca tindakan seperti laser, IPL, peeling, maupun injectable treatment.

Beberapa dokter yang hadir menilai bahwa pemulihan skin barrier yang optimal dapat membantu mempercepat proses recovery kulit setelah treatment. Karena itu, pendekatan perawatan modern kini tidak hanya berfokus pada hasil tindakan, tetapi juga pada bagaimana menjaga kulit tetap sehat selama proses pemulihan.

Editorial Team

Related Article