Ketahui Penyebab Kram Rahim setelah Melahirkan dan Cara Mengatasinya

- Kram rahim setelah melahirkan umumnya terjadi karena involusi, saat rahim berkontraksi untuk kembali ke ukuran normal dan membantu mencegah perdarahan; keluhan paling intens pada hari-hari awal.
- Menyusui memicu oksitosin yang memperkuat kontraksi rahim, sementara persalinan caesar dapat membuat nyeri lebih kompleks akibat penyembuhan luka; menyangga perut dengan bantal dapat mengurangi tekanan.
- Kram dapat lebih tajam pada persalinan berikutnya karena rahim bekerja lebih keras. Namun, nyeri yang memburuk disertai demam di atas 38°C dan cairan berbau perlu segera diperiksakan.
Masa pascapersalinan membawa banyak perubahan pada tubuh mama, salah satunya keluhan mulas atau kram di perut bawah. Keluhan ini sering membuat bingung, padahal menjadi bagian dari pemulihan fisik.
Melansir dari The Bump, munculnya kram rahim pascamelahirkan merupakan kondisi alami. Kram ini menandakan tubuh sedang berproses mengembalikan ukuran organ reproduksi ke bentuk semula.
Memahami pemicunya membantu Mama menjalani masa nifas dengan tenang. Berikut Popmama.com bagikan 5 penyebab kram rahim setelah melahirkan yang perlu Mama ketahui!
Table of Content
1. Proses involusi rahim menuju ukuran normal

Popmama.com/Erica Santoso/AI Penyebab utama kram rahim pascapersalinan adalah proses involusi uteri. Selama hamil, rahim membesar hingga seukuran jeruk bali untuk menampung tumbuh kembang si Kecil.
Setelah melahirkan, otot rahim berkontraksi secara alami untuk menyusutkan ukurannya hingga kembali seukuran buah pir. Gerakan kontraksi pemulihan inilah yang memicu rasa mulas atau kram mirip nyeri haid.
Proses ini penting untuk menekan pembuluh darah internal agar tidak terjadi perdarahan hebat. Rasa kram umumnya terasa paling intens di beberapa hari pertama lalu membaik bertahap.
2. Lonjakan hormon oksitosin saat menyusui si Kecil

Popmama.com/Erica Santoso/AI Kram perut sering kali terasa lebih kuat dan intens saat Mama sedang menyusui si Kecil. Hal ini terjadi karena isapan bayi memicu pelepasan hormon oksitosin di dalam tubuh.
Hormon oksitosin tak hanya merangsang pengeluaran ASI, tetapi juga memicu kontraksi rahim yang lebih kuat. Akibatnya, rahim berkontraksi lebih cepat untuk mengecil saat Mama menyusui.
Meski kurang nyaman, kontraksi ini menandakan proses pemulihan rahim berjalan sangat baik. Mama bisa menarik napas dalam agar tubuh terasa lebih rileks saat menyusui.
3. Pemulihan ganda setelah menjalani operasi caesar

Popmama.com/Erica Santoso/AI Ibu yang melahirkan secara caesar tetap mengalami kontraksi involusi rahim sama seperti persalinan normal. Namun, rasa kram yang dirasakan biasanya terasa sedikit lebih kompleks.
Pada persalinan caesar, kram rahim berkombinasi dengan proses penyembuhan luka irisan di dinding perut. Perpaduan rasa nyeri otot dan luka operasi membuat area perut bawah jauh lebih sensitif.
Mama disarankan menyangga area perut dengan bantal lembut saat bergerak atau menyusui. Cara ini membantu mengurangi tekanan berlebih pada jaringan luka pascaoperasi.
4. Pengaruh riwayat persalinan yang pernah dijalani sebelumnya

Popmama.com/Erica Santoso/AI Kekuatan kram rahim pascamelahirkan sering kali dipengaruhi oleh riwayat persalinan Mama sebelumnya. Pada kehamilan pertama, otot rahim cenderung lebih kuat sehingga berkontraksi lebih stabil.
Sementara pada kehamilan berikutnya, otot rahim menjadi lebih kendur akibat peregangan sebelumnya. Kondisi ini membuat rahim bekerja ekstra keras dan berkontraksi lebih kuat untuk menyusut.
Oleh sebab itu, kram rahim pada persalinan berikutnya biasanya terasa lebih tajam. Mama tak perlu panik karena hal ini merupakan respons otot rahim yang wajar.
5. Potensi adanya infeksi pada lapisan rahim

Popmama.com/Erica Santoso/AI Meski sebagian besar kram bersifat normal, kram rahim yang parah bisa menjadi tanda infeksi seperti endometritis. Endometritis merupakan peradangan pada lapisan dalam rahim pascapersalinan.
Perbedaannya terletak pada rasa nyeri yang bukannya membaik, melainkan makin memburuk seiring waktu. Infeksi ini juga disertai gejala lain seperti demam tinggi dan cairan vagina berbau menyengat.
Jika Mama mengalami kram makin intens disertai demam di atas 38°C, segera periksakan diri ke dokter. Penanganan medis yang cepat sangat diperlukan untuk menghentikan penyebaran infeksi.
Kram rahim merupakan bagian dari perjalanan alami tubuh Mama untuk pulih sempurna pascapersalinan, jadi tetap rawat diri dengan baik dan jangan ragu beristirahat agar masa nifas berjalan nyaman ya, Ma!





















