Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Perbedaan Vasektomi dan Tubektomi: Syarat, Efek Samping, serta Biayanya
Pexels/Nadezhda Moryak
  • Vasektomi dan tubektomi sama-sama metode kontrasepsi permanen, namun berbeda pada prosedur, masa pemulihan, serta tingkat risiko bedah yang lebih tinggi pada tubektomi dibanding vasektomi.
  • Kesiapan mental pasangan menjadi faktor penting sebelum memilih sterilisasi, dengan anjuran konseling medis karena proses pembalikan hasilnya tidak selalu berhasil sepenuhnya.
  • Di Indonesia, prosedur KB steril wajib memenuhi syarat hukum seperti persetujuan pasangan sah, kriteria usia dan jumlah anak tertentu, serta dilakukan secara sukarela tanpa paksaan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Ada berbagai macam jenis dan metode untuk menunda atau membatasi keturunan. Untuk perempuan, pilihan yang disediakan cukup banyak, mulai dari pil, suntik, IUD, hingga tubektomi (KB steril).

Sementara untuk laki-laki, metode kontrasepsi yang paling umum yakni dengan kondom dan vasektomi (KB steril). Meskipun saat ini penelitian terbaru sedang dikembangkan untuk pil KB bagi laki-laki.

Vasektomi dan tubektomi adalah metode kontrasepsi permanen yang bisa dipilih oleh pasangan suami istri yang sudah merasa cukup dengan jumlah anak. Meski sama-sama metode KB steril, tentunya ada banyak perbedaan, terutama di bagian prosedur, masa pemulihan, hingga risiko efek sampingnya.

Untuk lebih mengenal dua metode KB steril Vasektomi dan Tubektomi ini, berikut Popmama.com rangkum informasi selengkapnya!

Tabel Perbandingan Secara Umum: Vasektomi vs Tubektomi

Tubektomi (Perempuan)

Vasektomi (Laki-Laki)

Definisi

Pemutusan/pengikatan saluran tuba falopi (saluran sel telur)

Pemutusan/pengikatan saluran vas deferens (saluran sperma)

Prosedur

Operasi bedah (biasanya laparoskopi atau saat Caesar)

Bedah minor (seringkali tanpa pisau bedah/hanya lubang kecil)

Pembiusan

Umum (total/tidur) atau spinal

Lokal (hanya di area tindakan)

Efektivitas

>99% (langsung efektif setelah prosedur)

>99% (butuh waktu ±3 bulan/20x ejakulasi untuk benar-benar bersih)

Waktu Pemulihan

2–7 hari (aktivitas berat butuh 1–2 minggu).

1–3 hari (bisa langsung pulang dan aktivitas ringan)

Risiko Medis

Infeksi, perdarahan, risiko kehamilan ektopik (jarang)

Infeksi ringan, bengkak, granuloma sperma

Dampak Seksual

Tidak memengaruhi libido maupun siklus menstruasi

Tidak memengaruhi ereksi, gairah, atau volume ejakulasi

Biaya

Rp10.000.000++

Rp1,7 juta – Rp3 juta (terjangkau), Rp10 juta – Rp15 juta (fasilitas premium/spesialis)

Peluang Reversal

Sulit dan tingkat keberhasilan rendah

Lebih mungkin dilakukan penyambungan kembali (reversal)

1. Tingkat keamanan dan risiko komplikasi

Pexels/Soheil Younai

Meskipun keduanya dianggap aman, tingkat kerumitan prosedur bedah menciptakan profil risiko yang berbeda bagi Vasektomi dan Tubektomi ini. Dikutip dari artikel Healthline, berjudul Tubal Ligation vs. Vasectomy: Comparing the Benefits and Risks ada beberapa perbedaan yang perlu diperhatikan.

Misalnya, Vasektomi dinilai memiliki risiko lebih rendah karena bersifat bedah minor di luar rongga tubuh, risiko komplikasi berat seperti perdarahan hebat atau cedera organ dalam sangat minim. Menurut Healthline, risiko utama hanya berupa memar ringan atau infeksi kecil pada area skrotum.

Sementara itu, Tubektomi memiliki risiko lebih tinggi karena merupakan bedah invasif yang masuk ke rongga perut, tubektomi melibatkan risiko anestesi total dan kemungkinan cedera pada usus atau kandung kemih. Namun, saat ini sudah ada teknologi laparoskopi moderns sehingga membuat risiko bisa ditekan seminimal mungkin.

2. Kesiapan mental menjadi pengaruh pasangan menentukan pilihan

Pexels/Klaus Nielsen

Satu hal yang sering ditekankan oleh tenaga medis adalah kesiapan psikologis pasangan. Keduanya dirancang untuk menjadi solusi jangka panjang sebelum melakukan Vasektomi atau Tubektomi. 

Pertama, pertimbangan reversal yang secara medis bisa menyambung kembali saluran vas deferens (pada laki-laki) memiliki tingkat keberhasilan yang sedikit lebih tinggi daripada menyambung kembali tuba falopi (pada perempuan) jika melakukan Tubektomi.

Dikutip dari website Kemenkes RI, menyarankan agar pasangan suami istri melakukan konseling mendalam sebelum memilih salah satu. Sterilisasi sangat disarankan bagi pasangan yang sudah memiliki jumlah anak cukup dan jika kehamilan berikutnya dapat membahayakan nyawa sang Mama dari segi faktor medis.

3. Syarat dan peraturan melakukan KB steril di Indonesia

Pexels/Lemniscate L

Di Indonesia, melakukan sterilisasi tidak bisa dilakukan secara sembarangan hanya berdasarkan keinginan sesaat. Ada payung hukum dan aturan administratif yang harus dipenuhi pasangan. Berikut adalah beberapa poin rangkumannya:

  • Persetujuan pasangan (informed consent): Berdasarkan aturan Kemenkes RI, prosedur tubektomi maupun vasektomi wajib mendapatkan persetujuan tertulis dari pasangan sah. Artinya, suami tidak bisa vasektomi tanpa izin istri, dan istri tidak bisa tubektomi tanpa izin suami.

  • Kriteria usia dan jumlah anak: Meskipun secara hukum tidak ada angka kaku, beberapa ahli medis di Indonesia biasanya menerapkan syarat etis ini. Misalnya, pasangan yang melakukan biasanya di atas 30 tahun dan sudah memiliki jumlah anak yang cukup (minimal dua anak) dengan anak terkecil sudah berusia di atas 2 tahun. Hal ini untuk meminimalisir penyesalan di kemudian hari.

  • Kesehatan mental dan sukarela: Peraturan menekankan bahwa pasien harus dalam keadaan sadar, sehat mental, dan melakukan prosedur secara sukarela tanpa paksaan dari pihak mana pun. Tenaga medis berhak menolak melakukan tindakan jika pasien terlihat ragu atau sedang dalam tekanan psikologis.

Itulah tadi informasi mengenai perbedaan Vasektomi dan Tubektomi. Semoga membantu!

Editorial Team