Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ibu Hamil Mendadak Jijik dengan Hewan Peliharaan, Apa Penyebabnya?
Pexels/EVG Kowalievska
  • Perubahan hormon kehamilan dapat meningkatkan sensitivitas terhadap bau, bulu, air liur, atau kotoran hewan peliharaan, sehingga sebagian ibu hamil mendadak merasa jijik dan tidak nyaman.

  • Survei ManyPets 2025 terhadap 1.077 perempuan menemukan sekitar 15 persen pemilik hewan mengalami rasa jijik pada anjing saat hamil; perasaan negatif dapat berlanjut setelah persalinan.

  • Ibu hamil tetap boleh memelihara hewan dengan menjaga kebersihan dan mencegah paparan Brucella maupun Toxoplasma; konsultasi profesional diperlukan bila emosi negatif sulit dikendalikan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kehamilan membawa berbagai perubahan pada tubuh dan emosi perempuan. Tidak hanya mengalami mual, perubahan nafsu makan, atau lebih sensitif terhadap bau tertentu, sebagian ibu hamil juga bisa merasakan perubahan perasaan terhadap hal-hal yang sebelumnya disukai, termasuk hewan peliharaan kesayangan.

Kondisi ini mungkin membuat ibu hamil merasa bingung, terlebih jika sebelum hamil sudah terbiasa bermain dan menghabiskan waktu bersama anjing atau kucing di rumah. 

Bahkan, kehadiran hewan yang sebelumnya terasa menyenangkan bisa mendadak memicu rasa jijik, tidak nyaman, hingga keinginan untuk menjaga jarak.

Lantas, kenapa ibu hamil mendadak jijik dengan hewa peliharaan? Simak pembahasannya telah Popmama.com siapkan. 

1. Alasan kenap ibu hamil berubah jijik dengan hewan peliharaan

happyfamilyorganics.com

Mengutip dari laman The Guardian, rasa jijik yang muncul secara tiba-tiba terhadap hewan peliharaan kesayangan dapat berkaitan dengan perubahan hormon selama kehamilan. 

Kondisi ini memiliki kemiripan dengan morning sickness, ketika perubahan dalam tubuh membuat ibu hamil lebih sensitif terhadap bau, rasa, maupun rangsangan tertentu.

Pada sekitar 1 hingga 3 persen ibu hamil, perubahan tersebut dapat berkaitan dengan mual yang ekstrem dan peningkatan sensitivitas terhadap rasa jijik. 

Reaksi ini bisa dipicu oleh berbagai hal, termasuk bau tubuh hewan peliharaan, aroma bulu, air liur, atau kotorannya. Hal-hal yang sebelumnya tidak mengganggu pun bisa terasa jauh lebih tidak nyaman selama kehamilan.

Meski demikian, perubahan perasaan terhadap hewan peliharaan selama kehamilan bukanlah fenomena yang sepenuhnya asing.

Direktur Pekerjaan Sosial Veteriner di Silver School of Social Work, Universitas New York, Dr. Katherine Compitus, menjelaskan bahwa persoalan ini berkaitan dengan kurangnya perhatian terhadap kesehatan perempuan dan ikatan emosional antara manusia dan hewan.

"Topik ini berada di persimpangan antara kurangnya pendanaan untuk kesehatan perempuan dan pengabaian terhadap ikatan antara manusia dan hewan," kata Dr. Katherine Compitus.

2. Studi menemukan sebagian ibu hamil mengalami rasa jijik terhadap anjing peliharaannya

Unsplash/Jan-Niclas Aberle

Sebuah studi yang dilakukan oleh perusahaan asuransi hewan peliharaan asal Inggris, ManyPets, pada 2025 turut meneliti perubahan perasaan perempuan terhadap hewan peliharaan selama kehamilan. 

Survei tersebut melibatkan 1.077 perempuan yang pernah hamil dalam tiga tahun terakhir. Hasil penelitian itu menemukan bahwa sekitar 15 persen responden yang memiliki hewan peliharaan mengaku mengalami rasa jijik terhadap anjing mereka selama kehamilan. 

Temuan ini menunjukkan bahwa perubahan perasaan terhadap hewan kesayangan dapat dialami oleh sebagian perempuan ketika menjalani masa kehamilan.

Menariknya, perasaan tersebut tidak selalu langsung menghilang setelah persalinan. Pada beberapa perempuan, perubahan emosi dapat bertahan hingga masa setelah melahirkan.

Depresi perinatal, kecemasan, dan gangguan obsesif-kompulsif atau obsessive-compulsive disorder (OCD) juga dapat berkontribusi terhadap munculnya perasaan negatif yang intens. 

Dalam kondisi tertentu, kehadiran hewan peliharaan yang sebelumnya memberikan kenyamanan justru bisa berubah menjadi sumber stres atau bahkan memicu emosi pada diri mama. 

3. Rasa jijik yang mengganggu sebaiknya dikonsultasikan dengan tenaga profesional

Pexels/Gustavo Fring

Apabila perasaan jijik, marah, atau tidak nyaman terhadap hewan peliharaan terasa berlebihan hingga sulit dikendalikan, ibu hamil disarankan untuk mencari bantuan profesional. 

"Masa pasca persalinan memang bisa menjadi waktu yang rentan bagi ikatan antara manusia dan hewan," ujar peneliti dari University of Tennessee, Knoxville's Center for Veterinary Social Work, Dr. Shelby McDonald.

Dr. Shelby juga menjelaskan bahwa kemampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan hewan peliharaan dapat mengalami perubahan besar, baik dari sisi fisik, emosional, praktis, maupun finansial. 

Kehadiran bayi membuat mama juga perlu membagi waktu, tenaga, dan perhatian di antara berbagai kebutuhan yang harus dipenuhi.

"Kemampuan sebuah keluarga untuk memenuhi kebutuhan hewan peliharaan dapat berubah secara substansial, baik secara fisik, emosional, praktis, maupun finansial," sambungnya.

4. Risiko infeksi ibu hamil jika dekat dengan hewan peliharaan

Pexels/David Yu

Selain perubahan hormon dan emosi, ibu hamil juga perlu memperhatikan risiko infeksi tertentu yang dapat ditularkan oleh hewan peliharaan. Meski begitu, bukan berarti Mama harus menjauhi semua hewan selama kehamilan

Langkah yang lebih tepat adalah memahami jenis infeksi yang berisiko dan menerapkan kebersihan secara baik. Salah satu infeksi yang perlu diperhatikan adalah bruselosis akibat bakteri Brucella canis (B. canis), yang dapat ditemukan pada anjing. 

Penelitian dari Texas A&M University menyoroti potensi risiko bakteri ini bagi manusia. Infeksi tersebut dapat menimbulkan gejala menyerupai flu dan berpotensi menimbulkan komplikasi kehamilan.

Mengutip dari laman Pet Coach, infeksi B. canis pada ibu hamil dapat mengancam kelangsungan kehamilan. Selain itu, bakteri ini menyebabkan menularnya penyakit ke anak laki-laki, sehingga menyebabkan masalah kesuburan kelak. 

Ulasan yang diterbitkan di ScienceDirect turut mengaitkan infeksi Brucella selama kehamilan dengan sejumlah komplikasi, seperti keguguran spontan, persalinan prematur, korioamnionitis atau peradangan pada selaput dan cairan ketuban, serta kematian janin. 

Selain anjing, kucing juga perlu diperhatikan karena dapat menjadi pembawa parasit Toxoplasma gondii, penyebab toksoplasmosis. Menurut ulasan The New York Times, infeksi ini dapat membahayakan kehamilan apabila parasit ditularkan kepada janin dan berpotensi menyebabkan gangguan perkembangan, keguguran, atau komplikasi serius lainnya.

5. Bolehkah ibu hamil memelihara hewan?

Pexels/Tranmautritam

American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) menjelaskan bahwa ibu hamil tetap boleh memelihara kucing. Namun, ibu hamil tetap perlu berhati-hati tertular parasit Toxoplasma gondii dari kucing kesayangan. 

Kucing dapat terinfeksi parasit tersebut, terutama jika berkeliaran di luar rumah dan berburu mangsa seperti tikus atau hewan pengerat lainnya. Risiko paparan dapat lebih rendah pada kucing yang selalu berada di dalam ruangan, hanya diberi makanan khusus kucing, dan tidak melakukan kontak dengan hewan liar.

"Bila memiliki kucing yang sering pergi keluar dan mencari mangsa, mintalah orang lain untuk membersihkan kotorannya. Bila kucing dipelihara di dalam ruangan, hanya makan makanan kucing, dan tidak melakukan kontak dengan hewan luar, risiko toksoplasmosis sangat rendah," demikian kata ACOG pada laman resminya.

Itu dia alasan kenapa ibu hamil mendadak jijik dengan hewa peliharaan. Apakah ada ibu hamil yang merasa relate?

Curated For You

Editorial Team

Related Article